SELAMAT DATANG DI BLOG-NYA FISIOTERAPIS INDONESIA..........................................................................SEMUA TENTANG FISIOTERAPI ADA DISINI

JALUR NARKOBA SEPAKBOLA, DILEMA ANAK MUDA

photo
Jalannya kompetisi sepakbola Liga Indonesia yang kini tengah berlangsung bertambah ramai, bukan pertandingannya, kali ini kembali maraknya penggunaan narkoba di antara pemainnya. Korbannya adalah pesepakbola PSS, klub Sleman, Yogyakarta, Dedi Setiawan dan Dwi Prasetio, setelah mereka tertangkap tangan polisi Tangerang. Diketemukan bukti bong dan alumunium foil, setelah menggunakan sabu-sabu di Hotel Nelayan, Tangerang (10/6/03).



Meskipun pengguna psikotropika ini bisa dijerat hukuman dengan dasar pasal 62 UURI No. 5 tahun 1997, maka pengalaman Dedi maupun Dwi seperti kasus sebelumnya. Sulit untuk dibawa ke pengadilan, karena tersangka hanya pemakai dan sabu-sabunya sendiri sebagai bukti utama sudah habis terpakai. Maka, seperti pengalaman Kurniawan Dwi Yulianto, kini berada di PS Pakanbaru tetap masih menjadi andalan, ketika kasus serupa marak di tahun 1999 (masih memperkuat Pelita).



Kemudian hampir setahun kemudian (2000) terus melibatkan secara berantai kepada pemain yang lain seperti Eri Irianto almarhum,Mursyid Efendi, keduanya dari Persebaya. Dan lagi-lagi Kurniawan yang sudah pindah ke PSM, Makassar bersama Kuncoro. Lagi-lagi bebas. Namun almarhum Eri mendadak meninggal di lapangan (April 2000) dengan rasa kesakitan di kepala, meskipun katanya akibat serangan jantung.



Kini, Dedi dan Dwi pun sudah ?bebas? yang menurut Polisi Tangerang karena adanya jaminan dari pengacara dan keluarganya. Proses selanjutnya oleh PSSI hanya menghukum Kuncoro saja, sementara Kurniawan dan Mursyid lolos.



Jaringan narkoba ini ala multilevel yang begitu efektif, tanpa promosi dan sasarannya tentu anak-anak muda yang berduit. Gaya hidup yang kepengin glamour, apalagi mereka yang lagi mengalami frustrasi. Entah jenjang karir yang tak kunjung jelas atau peraihan prestasi yang terlalu cepat dan memudar.



Ambil contoh Kurniawan Dwi Yulianto, eks pemain Primavera PSSI yang dikirim ke Italia. Pada usia-usia pelajar SLTA di tahun 1994, digaet klub divisi I Italia waktu itu, Sampdoria dan diajak tour ke Indonesia. Di hadapan 100.000 penonton di stadion utama Senayan, Kurniawan membuat gol ke dalam jala gawang PSSI. Sorak sorai penonton melambungkan anak asal Magelang ini. Kuatkah? ia memikul beban prestasi yang ? luar biasa? itu.



Hanya dalam tempo empat tahun mendatang, prestasinya tersandung-sandung dan bukan semakin moncer, tetapi cenderung meredup dan konon katanya ia butuh bantuan psikiater. Pelarian utama tak pelak lagi ke jalur kenikmatan sesaat. Bahkan sekarang ini, Trans TV (15/6) memergoki Kurniawan menggandeng pasangan baru di Pakanbaru, dan isterinya yang di Jakarta yang sudah menghasilkan buah kasih dua bocah yang lagi lucu-lucunya, terpaksa pasrah. Sambil mengatakan, Kurniawan memang sudah tidak peduli akan rumahtangganya, dan ia ingin cepat-cepat selesai. Bentuknya? Ya, cerai!



Ini hanya kaliber Kurniawan. Bayangkan seperti maha bintang sepakbola, Maradona, juga menderita yang sekiranya berakibat dari kasus yang sama. Maradona terlalu cepat pula kehilangan kepudarannya. Kini tetap menjalani terapi kesembuhan dari ketergantungan obat di Kuba. Jauh dari hiruk pikuk sepakbola maupun publikasi, tidak khawatir dikejar-kejar wartawan.



Masih ingat bekas kiper MU yang dibeli dari Australia, Mark Bosnich, untuk menggantikan Schimell. Ia juga mengalami kasus serupa dan malahan dipecat oleh klubnya, Chelsea. Jaringan narkoba tanpa ampun melanda pemain sepakbola, dari kelas kacangan sampai dengan kelas dunia. Mark sebelumnya juga terjebak gaya hidup karena pacaran dengan gadis model, Sophie Andersen, menjadi pecandu alkohol terlebih dahulu. Sebelum terperosok ke lembah hitam.



Maradona yang menerbitkan buku Yo Soy El Diego (November 2002), sayang tidak mau menceritakan alasan, mengapa ia sampai terperosok. Bahkan ia selalu menyalahkan orang-orang di sekitarnya, sampai dengan Pele, pemain legendaris Brasil, Presiden FIFA waktu itu, Joao Havelange. Bahkan ikut salah pula dan tak tanggung-tanggung lagi, Paus Johanes Paulus II. Pemimpin tertinggi umat Katholik dunia, dan Maradonapun juga seorang pemeluk Katolik pula.



Maradona cermin dari mereka yang menderita luka batin. Entah siapa yang membuatnya? jangan-jangan, ya, dirinya sendiri? Menyongsong penerbitan bukunya, orang berharap Maradona bisa membagi perasaan tentang keterperosokannya. Sehingga diharapkan generasi muda yang membacanya nanti, bisa belajar dari pengalaman Maradona. Tujuannya untuk menjauhkan dan menghindari setan laknat yang namanya narkoba itu.



Sayang, Maradona masih terus dibuai mimpi. Buku tanpa menyinggung sisi gelap itu diharapkan nanti dibaca oleh generasi yang tidak mengetahui sama sekali yang dialaminya. Ia berharap masih pantas untuk dipuja-puja.



Memang, siapa yang tak mau di puja-puja. Tetapi jangan melalui narkoba!
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

Tidak ada komentar: