SELAMAT DATANG DI BLOG-NYA FISIOTERAPIS INDONESIA..........................................................................SEMUA TENTANG FISIOTERAPI ADA DISINI

Tes-tes neurologi

Dipersembahkan oleh alat fisioterapi

1. Tes jari-hidung

Tahan jari anda sepanjang kira-kira satu lengan dari pasien. Instruksikan pasien anda untuk menyentuh jari anda dengan menggunakan jari telunjuk kemudian menyentuh hidungnya kembali. Gerakan ini diulangi beberapa kali. Pasien mungkin saja tidak dapat menyentuh jari anda atauterjadi tremor intensi.

Indikasi: disfungsi serebellar


2. Tes tumit-betis

Biarkan pasien berbaring. Instruksikan pasien untuk meletakkan satu tumit di lutut yang berlawanan kemudian tumit diarahkan mengikuti tulang tibian ke bawah sampai ke pergelangan kaki dan kemudian kembali ke tempat semula. Pasien mungkin saja mengalami tremor, ketidakmampuan menempatkan tumit ke betis atau gerakan yang tidak terkoordinasi.

Indikasi: disfungsi serebellar



3. Tes rasa posisi sendi

Sendi yang di tes adalah sendi yang paling jauh dari tubuh misalnya sendi interpalangeal. Dengan mata pasien yang terbuka, gerakkan sendi tersebut. Kemudian untuk mengujinya, instruksikan pasien untuk menutup matanya. Gerakkan sendi tersebut dengan menggunakan dua jari. Instruksikan pasien untuk menebak ke mana gerakan sendi tersebut. Untuk tes ini, harus dipastikan sendi yang dugerakkan hanya satu dan gerakan tersebut tidak menyentuh jari-jari lainnya sehingga membuat pasien kebingungan. Jika terjadi kelemahan, tes sendi yang lainnya.

Indikasi:kehilangan proprioseptif


4. Tes sentuhan ringan

Gunakan sebuah kain katun yang tipis. Dengan mata pasien yang terbuka, demonstrasikan apa yang akan anda lakukan kepada pasien. Untuk tes ini, instruksikan pasien untuk menutup matanya kemudian eluskan kain tipis ke bagian tubuh yang dipilih dan instruksikan pasien untuk menyebutkan di mana bagian yang dielus dengan kain tersebut.

Indikasi: kelemahan sensasi sentuhan


5. Tes jarum

Tes ini menggunakan alat khusus neurologi berupa jarum jang memiliki salah satu ujung yang tajam dan ujung lainnya tumpul. Dengan mata pasien yang terbuka, demonstrasikan apa yang akan anda lakukan. Untuk melakukan tes ini, instruksikan pasien untuk menutup mata, kemudian gunakan bagian tajam dan tumpul dari jarum tersebut secara bergantian di beberapa bagian tubuh secara acak. Instruksikan pasien untuk menyebut sensasi apa yang dirasakannya.

Indikasi: kelemahan sensasi nyeri


6. Tes babinski

Berikan tekanan yang kuat di sepanjang sisi lateral telapak kaki hingga ke arah jari kaki. Kemudian perhatikan ibu jari kaki. Respon normal terjadi jika ibu jari kaki fleksi. Jika ibu jari kaki ekstensi sedangkan jari lainnya membentang, ini mengindikasikan adanya gejala babinski pada pasien.

Indikasi: gejala babinski mengindikasikan kerusakan di upper motor neuron


7. Tes berganti gerakan dengan cepat

Instruksikan pasien untuk mengangkat telapak tangan dan menahannya. Kemudian tampar tangan yang lainnya dengan menggunakan telapak dan punggung tangan secara bergantian. Jika pasien kurang lancar dan kehilangan irama gerakan, hal ini dapat merujuk pada kelainan yang disebut disdiadokokinesia. Untuk mengetes tubuh bagian bawah, instruksikan pasien untuk menyentakkan salah satu kakinya ke lantai kemudian diganti dengan kaki yang lain.

Indikasi: disfungsi serebellar


8. Tes Romberg

Pasien diinstruksikan untuk berdiri dan membuka mata. Kemudian pasien diinstruksikan untuk menutup mata (pastikan anda dapat menopang pasien jika dia jatuh). Kemudian perhatikan apakah pasien terlalu banyak bergoyang atau kehilangan keseimbangan.

Indikasi: jika pasien menutup mata kemudian jatuh, hal ini mengindikasikan adanya kelemahan pada proprioseptif atau vestibular.


9. Tes sensasi suhu

Tes ini adalah tes yang sangat sederhana dengan menggunakan benda yang dingin misalnya garpu tala. Sentuhkan benda tersebut di beberapa bagian tubuh kemudian instruksikan pasien untuk menyebut sensasi apa yang dirasakannya. Tes lainnya menggunakan dua tabung berisi air hangat dan air dingin. Kemudian instruksikan pasien untuk membedakan kedua sensasi tersebut.

Indikasi: kelemahan sensasi suhu


10. Diskriminasi dua titik

Tes ini membutuhkan alat diskriminasi dua titik. Sejenis alat yang mirip dengan jarum kompas yang memiliki dua ujung yang tumpul. Instruksikan pasien untuk menutup mata, kemudian sentuhkan satu atau dua ujung yang tumpul ke tubuh pasien. Perkecil jarak antara dua sentuhan tersebut hingga pasien tidak bisa membedakan antara satu atau dua sentuhan. Sentuhan ini harus dibedakan berdasarkan ketebalan kulit antarbagian tubuh. Pasien normal dapat membedakan dua sentuhan tersebut dengan jarak kira-kira 5 mm di jari telunjuk dan kira-kira 4 cm di kaki. Bandingkan hasil yang didapatkan antara bagian kanan dan kiri.

Indikasi: kerusakan fungsi sensorik


11. Tes sensasi getar

Tes ini menggunakan garpu tala. Instruksikan pasien untuk menutup mata. Getarkan garpu tala dan dekatkan pada tubuh pasien. Instruksikan pasien untuk menyebut apakah garpu tala bergetar atau tidak. jika pasien merasa ragu, hentikan getaran pada garpu tala dengan menjepitnya dengan dua jari kemudian dekatkan kembali pada tubuh pasien. Instruksikan kembali kepada pasien untuk menyebutkan apakan garpu tala bergetar atau tidak.
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

Tidak ada komentar: