SELAMAT DATANG DI BLOG-NYA FISIOTERAPIS INDONESIA..........................................................................SEMUA TENTANG FISIOTERAPI ADA DISINI

PEMERIKSAAN KHUSUS Pada Fisioterapi Neuromuskuler Pusat


K/P/G pada Otak
1. Stroke/CVA
2. Cerebral palsy
3. Head injury
4. Parkinson & kelainan ekstra piramidalis
5. Tumor intra cranial

K/P/G pada Medulla spinalis
1. Trauma/cedera
2. Penyakit pada medulla spinalis (Multiple sclerosis, ALS)
3. Tumor & Gangguan vaskuler pada medulla spinalis
Dengan manifestasi yaitu paraplegia, tetraplegia
Pemeriksaan Khusus

Tes spesifik sesuai dengan kondisi/kelainan yang mengacu pada diagnosis medis

1. Kelainan pada Otak (head injury, stroke dll)
a. Pemeriksaan sensorik: rasa sikap & gerak (proprioceptive), sentuh (somatosensorik)
b. Spastisitas (skala asworth)
c. Gerak voluntair / gerak aktif (pola sinergis)
d. Posture
e. Koordinasi (finger to nose; heel to shin)
f. Keseimbangan (CTSIB, TUG, Functional reach, Step test, Berg)
g. Antropometri
h. Tes fungsional dasar dan aktivitas
i. Tes aktivitas fungsional (FIM, Barthel, Katz)
j. Pemeriksaan kognitif dan fungsi luhur (MMSE)
k. MMAS
l. Gait analysis
m. Home evaluation

2. Kelainan pada medulla spinalis
a. Pemeriksaan sensorik
b. Pemeriksaan fungsi otonom
c. Pemeriksaan reflek
d. Pemeriksaan tonus & spastisitas
e. Pemeriksaan gerak voluntair
f. Koordinasi dan keseimbangan
g. LGS
h. MMT
i. Anthropometri
j. Tes fungsional dasar dan aktivitas
k. Tes aktivitas fungsional (FIM, Barthel, Katz)
l. Gait analysis
m. Home evaluation

Assessment atau pemeriksaan merupakan komponen penting dalam segala manajemen penatalaksanaan fisioterapi. Pemeriksaan ini menjadi begitu penting karena sedikitnya ada 3 alasan pokok, yaitu:

1. Dapat mengidentifikasi masalah pasien yang akan diintervensi oleh fisioterapis, dengan kata lain menegakkan diagnosis fisioterapi.
2. Dapat mengidentifikasi perubahan yang terjadi pada pasien dari waktu ke waktu
a. Memberikan motivasi pada pasien
b. Memberikan informasi tentang efektivitas terapi yang berguna untuk menentukan manajemen penatalaksanaan fisioterapi selanjutnya
3. Dapat dipakai sebagai alat ukur untuk menentukan biaya atau efisiensi terapi.

Dalam memilih satu alat ukur, beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
- Keluhan utama pasien atau diagnosis medis jika telah ditegakkan.
- Stadium atau kemampuan pasien saat itu.
- Kedudukan dalam tim rehabilitasi.
- Sensitivitas atau responsivitas dari alat ukur
- Validitas dan reliabilitas alat ukur
- Ceiling effect dan floor effect dari alat ukur.
- Dan lain-lain

Sering seorang fisioterapis atau grup fisioterapis dalam satu institusi memakai alat ukur yang mereka sepakati atau mereka kembangkan sendiri. Banyak pendapat bahwa asal alat ukur tersebut telah dipahami bersama dan ada keajegan diantara mereka, maka alat ukur tersebut bisa dipakai. Pendapat ini tidak sepenuhnya benar. Walaupun bisa saja antara satu institusi dengan institusi lain menggunakan alat ukur yang berbeda untuk kasus yang sama, tetapi alat ukur yang baik tentunya harus yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya atau dengan kata lain telah terstandarisasi.

PEMERIKSAAN KESEIMBANGAN

1. Tes Keseimbangan duduk
Tipe pengukuran:
mengukur dan menilai kemampuan dalam mempertahankan keseimbangan dalam posisi duduk
Alat yang dibutuhkan:
stop watch dan bed
Waktu tes:
30 detik
Prosedur tes:
Pasien duduk di tepi bed, kaki tersangga, kedua tangan diletakkan di sisi tubuh dan punggung tak tersangga, selama 15 detik. Jika mampu menahan posisi ini selama 15 detik, fisioterapis menggoyang/mendorong pasien ke arah depan, belakang dan samping (dengan tenaga dorongan yang diperkirakan mampu diterima pasien), hingga waktu 30 detik berakhir.
Skor:
4 (normal) : mampu melakukan tanpa ada bantuan fisik
3 (good) : membutuhkan bantuan dari sisi tubuh yang lemah
2 (fair) : mampu mempertahankan posisi statis, tapi perlu bantuan dalam reaksi
tegak
1 (poor) : tak mampu mempertahankan posisi statis tegak
Skor normal : 4
Reliabilitas : dipertanyakan
Validitas : signifikan, korelasi indek Barthel pada 1,2 dan 3 minggu pasca stroke
Keunggulan dan kelemahan :
- sederhana, cepat dan mudah dilakukan
- banyak digunakan di rumah sakit pada pasien stroke
- standarisasi gangguan dan skor dipertanyakan

2. Tes Keseimbangan berdiri
a. Clinical Test of Sensory Interaction of Balance (CTSIB)
Tipe pengukuran:
pengukuran terhadap kemampuan mempertahankan posisi berdiri pada keadaan berkurang atau berselisihnya-nya petunjuk sensorik.
Alat yang dibutuhkan :
stop watch, foam padat, dome
Waktu tes:
6 jenis tes, masing-masing 30 detik
Prosedur tes:
Berdiri tegak tanpa alas kaki dengan kedua kaki terpisah 10 cm atau rapat. Berikan penjelasan atau contoh kepada pasien tentang tes yang akan dilakukan. Pasien berdiri tegak dan mempertahankan posisi tersebut dengan kedua tangan di samping tubuh. Fisioterapis memberikan aba-aba “mulai” bersamaan dengan menghidupkan stopwatch dan “stop” bersamaan dengan mematikan stopwatch setelah 30 detik atau saat pasien kehilangan keseimbangannya.
Jenis tes :
1. Mata terbuka; berdiri di permukaan yang keras
2. Mata tertutup; berdiri di permukaan yang keras
3. Konflik visual (memakai dome); berdiri di permukaan yang keras
4. Mata terbuka; berdiri di atas foam
5. Mata tertutup; berdiri di atas foam
6. Konflik visual (memakai dome); berdiri di atas foam
Skor normal
Umur 25-44 : mampu melakukan semua tes sesuai dengan waktu (30 detik)
Umur 45-64 : mampu melakukan semua tes sesuai dengan waktu (30 detik) dengan sedikit
penurunan pada jenis tes nomor 6
Umur 65-84 : mampu melakukan/mempertahankan
30 detik untuk 3 tes pertama
29 detik untuk tes nomor 4
17 detik untuk tes nomor 5
19 detik untuk tes nomor 6
Reliabilitas : retes bagus pada pasien stroke (DiFabio R, 1990)
Validitas signifikan untuk menilai perkembangan pasien stroke (Hill K, 1997)
Keunggulan dan kelemahan:
- Bermanfaat untuk menentukan jenis kelainan pada sistem sensorik, vestibular dan visual
- Merupakan tes statis dan tidak fungsional.


b. “Functional reach test”
Tipe pengukuran :
mengukur kemampuan dalam "meraih" ("reach") dari posisi berdiri tegak
Alat yang diperlukan:
penanda dan penggaris
Waktu tes:
15 detik
Prosedur tes
Posisi pasien berdiri tegak rileks dengan sisi yang sehat dekat dengan dinding; kedua kaki renggang (10 cm). Pasien mengangkat lengan sisi yang sehat (fleksi 90o). Fisioterapis menandai pada dinding sejajar ujung jari tangan pasien.
Pasien diberikan instruksi untuk meraih sejauh-jauhnya (dengan membungkukkan badan) dan ditandai lagi pada dinding sejajar dimana ujung jari pasien mampu meraih. Kemudian diukur jarak dari penandaan pertama ke penandaan yang kedua.
Skor normal
Umur 20-24; laki-laki 42 cm dan wanita 37 cm
Umur 41-69; laki-laki 38 cm dan wanita 35 cm
Umur 70-87; laki-laki 33 cm dan wanita 27 cm
Reliabilitas interrater 0.98 (bagus) pada orang normal (Duncan P, 1990)
Reliabilitas retes 0.92 (bagus) pd orang normal dan penderita Parkinson (Schenkmen, 1997).
Validitas: Signifikan, termasuk dalam menilai perkembangan pasien stroke (Hill K, 1997).
Keunggulan dan kelemahan:
- Tes sederhana, cepat dan membutuhkan peralatan minimal
- Kurang sensitif untuk menilai gannguan keseimbangan ringan-sedang

c. Timed Up and Go test
Tipe pengukuran:
Mengukur kecepatan terhadap aktivitas yang mungkin menyebabkan gangguan keseimbangan
Alat yang dibuthkan :
kursi dengan sandaran dan penyangga lengan, stopwatch, dinding
Waktu tes:
10 detik – 3 menit


Prosedur tes
Posisi awal pasien duduk bersandar pada kursi dengan lengan berada pada penyangga lengan kursi. Pasien mengenakan alas kaki yang biasa dipakai. Pada saat fisioterapis memberi aba-aba “mulai” pasien berdiri dari kursi, boleh menggunakan tangan untuk mendorong berdiri jika pasien menghendaki. Pasien terus berjalan sesuai dengan kemampuannya menempuh jaak 3 meter menuju ke dinding, kemudian berbalik tanpa menyentuh dinding dan berjalan kembali menuju kursi. Sesampainya di depan kursi pasien berbalik dan duduk kembali bersandar. Waktu dihitung sejak aba-aba “mulai” hingga pasien duduk bersandar kembali.
Tidak diperbolehkan mencoba atau berlatih terlebih dahulu.
Skor normal
Umur 75 tahun rata-rata 8,5 detik
Reliabilitas interrater dan retes ICC=0,99 (Podsiadlo, 1991)
Validitas signifikan dan berkorelasi dengan tes-tes lain (Berg, Barthel) (berg K, 1992)
Keunggulan dan kelemahan:
- Cepat, sederhana dan peralatan minimal
- Tidak sensitif terhadap gangguan keseimbangan ringan-sedang

d. Step test
Tipe pengukuran :
pengukuran kecepatan saat bergerak dinamis naik turun satu trap dengan satu kaki
Alat yang dibutuhkan :
stopwatch, blok setinggi 7,5 cm
Waktu tes:
30 detik
Prosedur tes :
Pasien berdiri tegak tak tersangga, sepatu dilepas, kedua kaki sejajar berjarak 5 cm di belakang blok. Fisioterapis berdiri di salah satu sisi pasien dengan satu kaki diletakkan di atas blok untuk stabilisasi blok. Pasien dipersilahkan memilih kaki yang mana yang menapak ke atas blok dan kaki yang menyangga berat badan. Pasien diajarkan bahwa kaki harus menapak sempurna pada blok dan kembali pada tempat semula juga dengan sempurna dan ini dilakukan secepat mungkin. Tes dimulai saat pasien menyatakan siap dengan aba-aba “mulai” dan stopwatch dihidupakan. Jumlah step dihitung 1 kali jika pasien menapak pada blok dan kembali ke tempat semula. Tes diakhiri saat stopwatch menunjukkan waktu 15 detik dengan aba-aba "stop" dan dicatat jumlah step yang dilakukan pasien. Prosedur yang sama diulangi pada kaki satunya.
Skor normal: Usia 73 tahun rata-rata 17 kali tiap 15 detik.
Reliabilitas Retes ICC>0,90 pd orang tua sehat & ICC>0,88 pd pasien stroke (Hill K, 1996).
Validitas mempunyai korelasi yang signifikan dengan tes meraih (reach test), kecepatan langkah dan lebar langkah saat jalan dan menunjukkan perkembangan pasien stroke signifikan (Hill K, 1997).
Keunggulan dan kelemahan:
- Cepat, sederhana dan peralatan minimal
- Terlihat sensitif untuk gangguan keseimbangan ringan-sedang
- Kurang sensitif untuk menilai penyebab gangguan keseimbangan pada penderita Parkinson.

e. Skala keseimbangan dari Berg (Berg Balance Scale)
Tipe pengukuran:
pengukuran terhadap satu seri keseimbangan yang terdiri dari 14 jenis tes keseimbangan statis dan dinamis dengan skala 0-4 (skala didasarkan pada kualitas dan waktu yang diperlukan dalam melengkapi tes)
Alat yang dibutuhkan :
stopwatch, kursi dengan penyangga lengan, meja, obyek untuk dipungut dari lantai, blok (step stool) dan penanda
Waktu tes:
10 – 15 menit
Prosedur tes
Pasien dinilai waktu melakukan hal-hal di bawah ini, sesuai dengan kriteria yang dikembangkan oleh Berg
1. Duduk ke berdiri
2. Berdiri tak tersangga
3. Duduk tak tersangga
4. Berdiri ke duduk
5. Transfers
6. Berdiri dengan mata tertutup
7. Berdiri dengan kedua kaki rapat
8. Meraih ke depan dengan lengan terulur maksimal
9. Mengambil obyek dari lantai
10. Berbalik untuk melihat ke belakang
11. Berbalik 360 derajad
12. Menempatkan kaki bergantian ke blok (step stool)
13. Berdiri dengan satu kaki didepan kaki yang lain
14. Berdiri satu kaki

Normal skor : 56
Reliabilitas retes dan interrater tinggi pada pasien stroke dan usia lanjut (Berg K, 1995)
Validitas mempunyai korelasi yang signifikan dengan perkembangan pasien stroke (Stevenson T, 1996)
Keunggulan dan kelemahan:
- Meliput banyak tes keseimbangan , khususnya tes fungsional baik statis maupun dinamis.
- Keterbatasan dalam menilai gangguan keseimbangan ringan-sedang

f. Tes Pastor/ tes Marsden
Tipe pengukuran :
pengukuran kemampuan untuk mempertahankan posisi terhadap gangguan dari luar
Alat yang dibuthkan :
tidak ada
Waktu tes:
10 detik
Prosedur tes
Fisioterapis berdiri di belakang pasien dan memberikan tarikan secara mengejut pada bahu pasien ke belakang. Pasien yang kedua matanya tetap terbuka selama tes diinstruksikan untuk bereaksi melawan tarikan tersebut untuk mecegah agar tidak jatuh ke belakang. Respon pasien tersebut dinilai dengan skala seperti di bawah ini :
0 tetap berdiri tegak tanpa melangkah ke belakang
1 berdiri tegak dengan mengambil satu langkah ke belakang untuk mempertahankan stabilitas
2 mengambil 2 atau lebih langkah ke belakang tetapi mampu meraih keseimbangan lagi
3 mengambil beberapa langkah ke belakang tetapi tak mampu meraih keseimbangan lagi dan memerlukan bantuan terapis untuk membantu meraih keseimbangan
4 jatuh ke belakang tanpa mencoba mengambil langkah ke belakang
Skor normal: 0-1
Reliabilitas retes tinggi pada pasien Parkinson (Smithson F, 1996)
Validitas menunjukkan validitas yang signifikan dalam membedakan orang normal dengan pasien Parkinson (Smithson F, 1998).
Keunggulan dan kelemahan:
- Sederhana, cepat
- Kesulitan dalam menstandarisasi gangguan dari luar

TES FUNGSI LENGAN DAN TANGAN

Fungsi lengan dan tangan terutama adalah untuk berinteraksi dengan lingkungan (Carr & Shepherd, 1998). Fungsi ini merupakan satu unit koordinasi (Ada etal, 1994) tidak hanya pada lengan itu sendiri tapi juga melibatkan tubuh (postural) yang membutuhkan integrasi sensorik (visual, vestibular dan somatosensorik) dan motorik (hogan & Winters, 1990). Bahkan fungsi tangan dikatakan sebagai membutuhkan koordinasi atau ketrampilan tingkat tinggi (deksteritas).
Pada penderita stroke fungsi lengan dan tangan pada sisi yang lemah sering kali terganggu dan biasanya merupakan gejala sisa (sequel) yang paling nyata.

a. Action research arm test
Tipe pengukuran :
menilai kemampuan dalam memegang, menggenggam, menjumput dan gerakan massal tangan
Alat yang dibutuhkan :
potongan kayu (blok), bola tenis, batu, gelas, tabung, mur-baut, kelereng, korek api
Waktu tes :
8 – 30 menit
Prosedur tes

Ada 4 subtes yang dievaluasi dimana masing-masing terdiri dari satu seri tes, yaitu :
A. Memegang (grasp)
1. Potongan kayu (blok) kubus 10 cm
2. Blok 2,5 cm
3. Blok 5 cm
4. Blok 7,5 cm
5. Bola tennis diameter 7,5 cm
6. Batu 10 x 2,5 x 1 cm
B. Menggenggam (grip)
1. Menuang air dari gelas ke gelas lain
2. Tabung 2,25 cm
3. Tabung 1 cm
4. Memasang mur – baut


C. Menjumput (pinch)
1. Korek api, 6 mm, jari manis dan ibu jari
2. Kelereng, 1,5 cm, jari kelingking dan ibu jari
3. Korek api, jari tengah dan ibu jari
4. Korek api, jari telunjuk dan ibu jari
5. Kelereng, jari tengah dan ibu jari
6. Kelereng, jari telunjuk dan ibu jari
D. Gerakan kasar (gross movement)
1. Menempatkan tangan di belakang kepala
2. Menempatkan tangan di belakang kepala
3. Menempatkan tangan di atas kepala
4. Menggerakkan tangan ke mulut
Jika pasien dapat melakukan tes nomor 1 pada masing-masing sub tes (yang paling sukar) maka pasien mendapat nilai maksimal untuk sub tes itu (18 untuk A; 12 untuk B; 18 untuk C; dan 9 untuk D) dan tidak perlu melengkapi dengan komponen tes lain pada subtes itu tetapi pindah pada subtes berikutnya. Jika pasien tidak mendapat nilai maksimal untuk nomor 1, maka harus dilanjutkan pada nomor 2 (yang termudah) dan jika nomor 2 mendapat skor 0, maka dianggap skor untuk subtes itu adalah 0 dan tidak perlu melanjutkan komponen tes pada subtes itu, tetapi pindah pada subtes berikutnya. Jika nilainya 1 atau lebih maka seluruh komponen pada subtes itu harus dilakukan
Skor normal : 57
Reliabilitas interrater dan retes cukup tinggi pada pasien stroke (Lyle R, 1981)
Validitas menunjukkan korelasi yang signifikan dalam perkembangan pasien stroke (Crow J, 1989)
Keunggulan dan kelemahan :
- Mampu mencakup penilaian gerak tangan yang cukup luas
- Alat yang dibutuhkan tergolong non standar

b. Purdue Peg Board test
Tipe pengukuran :
evaluasi fungsi lengan-tangan (deksteritas; ketrampilan)
Alat yang dibutuhkan:
pin, mur-baut, papan berlobang-lobang berjajar 2 masing-0masing ada 25 lobang
Waktu tes :
5 menit
Prosedur tes: Ada 4 macam subtes yaitu :
1. Dalam 30 detik, pasien harus memasukkan pin ke lobang sebanyak mungkin dengan tangan terpilih (skor = jumlah pin yang mampu dimasukkan ke lobang)
2. Dalam 30 detik, pasien harus memasukkan pin ke lobang sebanyak mungkin dengan tangan tak terpilih (skor = jumlah pin yang mampu dimasukkan ke lobang)
3. Dalam 30 detik, pasien harus memasukkan pin ke lobang sebanyak mungkin dengan menggunakan kedua tangan secara bergantian (skor = jumlah pasangan pin mampu dimasukkan)
4. Dalam 60 detik, dengan menggunakan kedua tangan bergantian mampu menyusun pin, mur-baut (skor jumlah pin, mur-baut yang tersusun sempurna)
Skor normal pada sample 35 orang sehat usia 60-89 tahun
1. 13.0
2. 12,4
3. 10,2
4. 28,3
Reliabilitas retes ICC 0,66-0,90 pada subyek orang tua sehat (Desrosiers J, 1995)
Validitas bagus sebagai salah satu tes untuk penderita Parkinson (Baas H, 1993)
Keunggulan dan kelemahan: tes ini cepat dan sederhana, tetapi fungsi yang dievaluasi terbatas.

PEMERIKSAAN GLOBAL

Pemeriksaan global (global measure) disebut juga pemeriksaan fungsional (functional assessment) atau pemeriksaan aktivitas kehidupan sehari-hari (ADL evaluation). Tes ini sering dilakukan oleh OT, tapi dilakukan juga oleh dokter, perawat atau fisioterapis atau oleh team rehabilitasi bersama-sama, untuk menilai tingkat ketergantungan atau kemandirian pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
Ini menjadi penting karena tujuan akhir dari rehabililtasi (misalnya stroke) adalah pasien bisa melakukan AKS-nya, jadi merupakan komponen yang vital terutama dalam "discharge planning" dari unit rehabilitasi.

Pemeriksaan global yang lazim dipakai diantaranya adalah :
a. Indeks Barthel
Tipe pengukuran : Mengukur kemampuan aktivitas fungsional
Alat yang dibutuhkan: Tidak dibutuhkan peralatan khusus
Waktu tes: 20 menit
Prosedur tes
1. Pemeliharaan kesehatan diri 0 - 5
2. Mandi 0 - 5
3. Makan 0 - 10
4. Toilet (BAK & BAB) 0 - 10
5. Naik/turun tangga (trap) 0 - 10
6. Berpakaian 0 - 10
7. Kontrol BAB 0 - 10
8. Kontrol BAK 0 - 10
9. Ambulasi 0 - 15
Kursi roda 0 - 5 (bila pasien ambulasi dengan kursi roda)
10. Transfer kursi/bed 0 - 15
Skor normal 100
Reliabilitas retes tinggi untuk pasien stroke (Shah S, 1989)
Validitas menunjukkan korelasi saat masuk & keluar RS pada penderita stroke (Shah S, 1989)

Keunggulan dan kelemahan :
- sangat lazim dipakai (meski versinya banyak)
- dipakai secara luas oleh berbagai disiplin ilmu
- nilai kadang tidak menggambarkan kemampuan riil (skor tinggi tapi mempunyai disabilitas atau handicap sedang)

b. Functional Independent Measure (FIM)
Tipe pengukuran:
aktivitas fungsional, FIM sering dipakai sebagai patokan pengukuran di dunia rehabilitasi dan alat evaluasi efektivitas dan efisiensi program
Alat yang dibutuhkan :
tidak diperlukan alat khusus (observasi)
Komponen tes:
ada 6 sub tes terdiri dari 18 jenis tes, masing-masing berskala 1-7 (atau 1-4)
Prosedur tes
Pasien dinilai saat melakukan aktivitas di bawah ini:
1. Perawatan diri
- makan
- berdandan
- mandi
- berpakaian (tubuh atas)
- berpakaian (tubuh bawah)
- toileting
2. Kontrol sfingter
- kontrol BAK
- kontrol BAB
3. Mobilitas
- transfer (bed/kursi/kursi roda)
- transfer (toilet)
- transfer (bak/tub/shower)
4. Lokomosi
- jalan atau memakai kursi roda
- naik-turun trap


5. Komunikasi
- komprehensif
- ekspresi
6. Kognisi sosial
- interaksi sosial
- pemecahan masalah
- memori
Skor normal 126 (skala 1-7) atau 72 (skala 1-4)
Validitas dan reliabilitas dilaporkan cukup tinggi (Carr & Shepherd , 1998)
Keunggulan dan kelemahan hampir sama dengan pemeriksaan fungsional lainnya dan harus memiliki definisi operasional yang jelas untuk tiap-tiap komponen tes dan standar nilainya.

b. Indeks Katz
Tipe pengukuran:
aktivitas fungsional
Alat yang dibutuhkan :
tidak diperlukan alat khusus (observasi)
Komponen tes:
ada 6 sub tes, masing-masing digolongkan sebagai mandiri atau tergantung
Prosedur tes
Pasien dinilai saat melakukan aktivitas di bawah ini:
1. Mandi
2. Berpakaian
3. Toileting
4. Transfer
5. Kontrol BAK dan BAB
6. Makan
Penilaian
A. Mandiri
B. Mandiri, kecuali 1 fungsi
C. Mandiri, kecuali mandi dan 1 fungsi lain
D. Mandiri, kecuali mandi, berpakaian dan 1 fungsi lain
E. Mandiri, kecuali mandi, berpakaian, toileting dan 1 fungsi lain
F. Mandiri, kecuali mandi, berpakaian, toileting, transfer dan 1 fungsi lain
G. Tergantung
Skor normal A (mandiri)
Reliabilitas dan validitas dilaporkan bagus dan berkorelasi secara signifikan dengan tes fungsional lainnya.
Keunggulan dan kelemahan hampir sama dengan tes fungsional lainnya, hanya untuk indeks Katz dinyatakan kurang sensitif.

Pemeriksaan Tonus: Skala Ashworth yang dimodifikasi

0 Tidak ada peningkatan tonus otot
1 Ada peningkatan sedikit tonus otot, ditandai dengan terasanya tahanan minimal (catch and release) pada akhir ROM pada waktu sendi digerakkan fleksi atau ekstensi
2 Ada peningkatan sedikit tonus otot, ditandai dengan adanya pemberhentian gerakan (catch) dan diikuti dengan adanya tahanan minimal sepanjang sisa ROM, tetapi secara umum sendi tetap mudah digerakkan
3 Peningkatan tonus otot lebih nyata sepanjang sebagian besar ROM, tapi sendi masih mudah digerakkan
4 Peningkatan tonus otot sangat nyata, gerak pasif sulit dilakukan
5 Sendi atau ekstremitas kaku/rigid pada gerakan fleksi atau ekstensi

Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

Cervical Syndrome Pada Lanjut Usia



Cervical syndrome adalah istilah yang menggambarkan adanya keluhan atau syndrome yang dirasakan oleh pasien pada daerah tersebut –kepala. Cervical syndrome adalah diagnostik yang sering disebut “wadah sampah” yangtidak terdiagnosa penyakit atau penyebabnya.

Cervical syndrome sendiri termasuk bagian dari primer problems of discogene yang dapat dibagi atas 2 bagian besar yaitu:
1. Cervical position syndrome (tired neck syndrome)
2. Local cervical syndrome

Cervical syndrome bukanlah diagnose fisioterapi , diagnose fisioterapi untuk keadaan ini lebih tepat disebut : nyeri local – kaku pada tengkuk./leher

a. Faktor penyebab
Untuk cervical position syndrome:
- Posisi – sikap leher dan kepala yang salah ( kepala menunduk saat bekerja)
- Kedua lengan dilipat ke atas meja saat duduk dalam waktu yang lama.
- Bahu posisi depresi dalam waktu yang lama saat memikul barang yang berat
Untuk local syndrome:
- Akibat menderita torticolis 2-3 kali
- Kadang tidak spesifik
- Psikogenik/fungsional/steress mental
Jika dilihat dari etiologinya maka nyeri local – kaku pada cervical tengkuk leher, disebabkan oleh:
1. Spasme dari otot-otot daerah cervical ,yaitu:
- M. trapezius pars descendens
- M. levator scapula
- M. scalenus capitis/cervicis
- M. Semispinalis capitis
- M. sternokleidomastoideus
2. Peningkatan tonus (hipertoni) dari otot-otot diatas
3. Peningkatan fungsi rami musculair dan ? mn, dari otot/serabut intrafusal.
4. Peningkatan fungsi noci septif pada area/segmen sesuai ototnya.

b. Gejala
Cervical position syndrome:
- Leher terasa kaku/pegal
- Ngilu atau linu terasa saat leher aktif bergerak terutama pada musculus levator scapula, atau spelinus dan semispinalis – sternocleidomastoideus
- Ngilu/nyeri bisa terasa sampai lateral kepala, diatas daun telinga, os nasale – foramen supra orbitale.
Local cervical syndrome
- Rasa nyeri pada daerah leher dan daerah M. trapezius pars descendens, terutama jika terkena mid cervical (C3 – C5)
- Bisa Juga terasa pada/diantara scapula bila terkena lower cervical (C5-C7)
- Nyeri palpasi (tenderness) pada M. Rhomboid dan levator scapula
- Nyeri terasa dibelakang kepala
- Timbul antalgik posisi, kepala berposisi fleksi, heterolateral fleksi
- Timbul muscular headache/muscular tention
- Ada riwayat stress

c. Pemeriksaan Fisioterapi
1. Anamnesis khusus:
- Keluhan utama : leher ngilu, kaku dan otot terasa gatal
- Kapan timbulnya : tidak tahu
- Lokasi : leher (region ocipitallis distal) atau trapezius atau antar scapula
- Penyebab : banyak menulis, menyetir mobil, mengangkat barang atau ada problem pekerjaan.
- RPP :
? diawali dengan menyetir lama atau melakukan pekerjaan atau emosi/tegang; leher terasa kaku/ngilu + nyeri. Sakit kepala.
? Jika malam semakin bertambah keluhan
? Setelah tidur keluhan terasa mengganggu leher
? Rotasi leher atau penguluran otot terasa sakit
2. Inspeksi : analgik posisi
3. Pemeriksaan fungsi
a. Tes orientasi : rotasi leher ; terbatas/nyeri
b. PFD :
- Gerakan aktif ; fleksi, rotasi dan lateral fleksi, ngilu/nyeri dan terbatas
- Elevasi lengan/bahu ; ngilu/nyeri
- Gerakan pasif ; ngilu/nyeri
- Gerakan TIMT : kadang (-)
4. Pemeriksaan spesifik
a. Palpasi : nyeri tekan pada:
- M. Semi spinalis
- M. Levator scapulae
- M. Trapezius pars descendens
- Tonus : meninggi
b. Daya ulur otot : nyeri dan terbatas pada musculus di atas

c. Sensasi : ?

d. ROM : ?

e. Diagnosis Fisioterapi : ?

f. Problematik fisioterapi :
1. Spasme/hipertoni M. Semi spinalis kapitis, trapezius dan Lower scapulae
2. Nyeri/ngilu pada leher akibat meningkatnya nosi septif oleh produksi asam laktat
3. Keterbatasan gerak pada leher akibat otot leher sulit terulur maksimal
4. Gangguan posisi/sikap pada leher
5. Ketegangan psikogenik pada penderita
6. Gangguan ADL

g. Program fisioterapi: ?

h. Intervensi fisioterapi :
1. HFC : CEM/IEM
2. Elektrical Traction : 1/7 atau 1/10 berat badan (intermitten) 7 detik traksi/10 detik rest
3. Stretching : pada otot leher
4. Hold relax : pada otot leher
5. Bugnet exercise ; aktif ; stretching exercise
6. Crectie postur

Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

Pemeriksaan Spesifik atau Tambahan dalam Menegakkan Diagnosis Fisioterapi

Pemeriksaan spesifik atau tambahan adalah pemeriksaan yang dilakukan jika informasi yang diperoleh melalui anamnesis, inspeksi dan pemeriksaan fungsi belum cukup untuk menegakkan diagnosis suatu penyakit atau problematik fisioterapi terhadap penderita. Pemeriksaan spesifik dilakukan untuk mengungkap ciri khusus serta jenis gangguan dari suatu struktur atau jaringan tertentu. Yang dimaksud dalam pemeriksaan spesifik seperti, palpasi, pemeriksaan neurologis, stabilitas sendi, ROM, MMT, panjang otot, mengukur kapasitas pernapasan, pemeriksaan medis lainnya (laboratorium, dll).

a. Palpasi

Merupakan pemeriksaan khusus dengan jalan meraba dengan tangan pada struktur jaringan tertentu melalui jaringan kulit seperti, connective tissue, kulit, musculotendinogen, arthrogen, saraf, pembuluh darah dan jaringan articular lainnya.

Tujuan Palpasi
1. Untuk mengetes kelainan sensasi kulit , otot, temperature, dan kelembaban kulit
2. Untuk menentukkan letak dan perbedaan bentuk struktur jaringan yang normal dan yang tidak normal.
3. Untuk meraba ketegangan otot (tonus otot), udem dan pembuluh darah
b.Pemeriksaan neurologis
Pemeriksaan neurologis adalah suatu pemeriksaan yang bertujuan untuk mengetahui keadaan saraf. Beberapa bentuk pemeriksaan neurologis antara lain:
1. Animal segmental tes
a. Tes motorik, misalnya fleksi elbow untuk segmental C5-6

b. Tes sensorik, misalnya dermatom, myotom
2. Tes reflex seperti KPR, APR, Babinsky, reflex biceps dan lain-lain
3. Entrapment tes, misalnya kompresi, phalent, traksi, dll.
4. Propriosensor tes, biasanya dilakukan pada sendi
5. Electrical diagnostic
6. Membedakan bentuk benda, dua titik dan lain-lain.

c.Tes stabilitas sendi
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kestabilan sendi baik dalam keadaan pasif maupun dalam keadaan aktif. Apakah sendi tersebut dalam keadaan stabil, hypomobile, atau hypermobile. Adapun cara melakukan pemeriksaan tersebut antara lain:
1. Untuk gerakan pasif : Traksi translasi dan stress tes (gapping tes), Posisi sendi dalam keadaan LPP, jika tidak stabil disebut pasif instabilitas
2. Untuk gerakan aktif: Posisi sendi LPP, penderita melakukan gerakan isometric dan melawan tahanan dari segala arah yang diberikan oleh pemeriksa atau dengan menggunakan berat tubuh penderita sendiri. Jika tida stabil disebut aktif instabil.

d.Tes Range of Movement (ROM)
Tes ini bertujuan untuk mengetahui gerakan sendi dengan menggunakan alat bantu “Geniometer”. Dalam literature telah ditetapkan criteria normal ROM untuk masing-masing persendian, meskipun demikian variasi ROM untuk tiap individu perlu dipertimbangkan.

e.Muscle testing (MMT)
Muscle testing yang dimaksud adalah isotonic manual muscle testing. Sama seperti dengan ROM, nilai normative kekuatan otot telah tercantum didalam literature.

f.Mengukur panjang otot
Otot adalah suatu jaringan kontraktil. Kelenturan otot sangat mempengaruhi kualitas suatu gerakan. Pada tubuh ada 2 kelompok otot yaitu kelompok otot postural dan kelompok otot fasis. Otot postural banyak berfungsi untuk aktivitas yang berlangsung lama misalnya lari jarak jauh, serta memelihara postur tubuh. Kelompok otot ini cenderung memendek. Contohnya, otot rectus femoris, gastrocnemius. Sementara otot pasis cenderung terulur, untuk itu maka perlu dilakukan pengukuran panjang otot.

g.Mengukur kapasitas pernapasan
Sirkulasi O2 dan CO2 pada mekanisme pernapasan sangat penting artinya, terutama yang berhubungan dengan kondisi chest serta kapasitas fisik dan kemampuan fungsional tubuh pada umumnya. Oleh karena itu, perlu mengukur maksimal ekspirasi, insppirasi dan residual respiratory pernafasan.

h.Pemeriksaan Medis lainnya
Pemeriksaan medis lainnya berupa informasi hasil laboratorium, rontgent, pemeriksaan psikis, serta pemeriksaan medis lainnya (yang dilakukan oleh ahlinya). Hasil pemeriksaan ini sering diperlukan oleh fisioterapis untuk membantu menetapkan aktualitas penyakit dan atau problematic fisioterapi.
Setelah seluruh rangkaian assessment selesai, maka langkah selanjutnya adalah menetapkan diagnosis, planning, intervention dan reevaluasi. Tanpa melupakan koordinasi, komunikasi dan dokumentasi sesuai standar praktek fisioterapi.

Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

Pemeriksaan Spesifik Fisioterapi pada HIP, Lumbal dan Sacro Iliac Joint



1. Palpasi
Tujuan dilakukan palpasi adalah :
a. Untuk meraba suhu dan tenderness
b. Palpasi pada bursa iliopectinea & triangle femoralis,bursa subcutanea trochanterica di atas trochanter mayor, otot rectus femoris, m. adduktor longus, m.sartorius, m. piriformis, ligamen inguinalis.
Piriformis m.
Melalui segitiga SIPS, Coccygeus dan Great Trochanter, sepertiga tengahnya. Palpasi dalam, sejajar sacroiliac.

Gluteus medius m.
Sisi lateral dibawah iliac crest dan trochanter. Palpasi arah anteroposterior.
c. Jaringan keras : SIAS, Crista iliaca, trochanter mayor hip, sympisis ossis pubis.

2. Tes Trendelenburg
Tes ini untuk mengevaluasi kekuatan musculus gluteus medius. Berdirilah dibelakang pasien dan observasi kekakuan kecil diatas SIPS. Normalnya, saat pasien menumpu berat badan kedua kaki seimbang, lekukan kecil itu nampak sejajar. Kemudian mintalah pasien untuk berdiri satu kaki. Jika dia dapat tegak, musculus gluteus medius pada tungkai yang menyangga berkontraksi saat tungkai terangkat. Akan terlihat garis pantat turun pada kaki yang diangkat pada kelemahan pada m. gluteus minimus.

3. Tes OBER (untuk kontraksi iliotibial band )
Pasien tidur miring, abduksikan kaki sejauh mungkin dan fleksikan knee 90o sambil memegang hip joint pada posisi netral untuk merileksasikan traktus iliotibial. Kemudian lepaskan tungkai yang diabduksikan tadi, jika traktus iliotibial normal, maka paha akan tetap berposisi saat tungkai dibebaskan.

3. Tes Gapping Anterior
Pasien berbaring terlentang dan tangan pemeriksa bersilangan di SIAS. Setelah itu lakukan kompresi. Jika hasilnya positif atau terjadi nyeri maka terjadi kelainan pada sacro iliaca joint atau lig. Anterior Sacroiliaca Joint.

4. Tes Gapping Posterior
Pasien tidur miring dan tangan pemeriksa berada region pelvis. Setelah itu lakukan kompresi. Jika hasilnya positif maka terjadi kelainan sacro iliaca joint atau Ligamen. posterior sacroiliaca joint.

5. Tes Patrick (Fabere Test)
Pasien tidur terlentang dan calcaneus menyentuh patella dan tangan pemeriksa berada di SIAS dan bagian medial dari knee. Setelah itu lakukan kompresi, apabila terjadi nyeri maka ada kelainan di group adductor atau Lig. anterior hip, atau ligament Anterior Sacroiliaca Joint.
6. Tes Anti Patrick
Pasien tidur terlentang dan kaki internal rotasi. Tangan pemeriksa memegang pergelangan kaki dan bagian lateral dari knee. Setelah itu lakukan penekanan. Apabila terjadi nyeri maka terjadi kelainan pada Lig. Posterior Sacroiliaca Joint.
7. Straight Leg Raising (SLR)
Tes ini dapat dikombinasi dengan fleksi leher atau fleksi dorsal dari kaki. Apabila positif maka terjadi pengedangan pada N. ischiadicus yang mengakibatkan nyeri kejut yang amat sangat, maka kemungkinan besar bahwa ada rangsangan dari satu akar atau lebih dari L4 sampai S2.

8. Muscle Length Test
Tujuannya pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui adanya pemendekan otot yang diperiksa.
• m.Iliopsoas.
• m.rectus femoris.
• m.hamstrings.

9. Leg Length Test
Pengukuran panjang tungkai adalah pengukuran yang ditujukan pada anggota gerak bawah.
True Leg Length Discrepamcy
Tujuan: untuk mengetahui panjang tungkai.
Posisi pasien supine lying posisi pelvic diseimbangkan dengan anggota gerak bawah atau SIAS searah pada satu garis lurus dan segaris dengan anggota gerak bawah. Tungkai lurus dengan jarak 15-20 cm dari satu sama lain (jarak antara kaki).
Letakkan tungkai pasien pada posisi yang tepat dan pastikan jarak dari SIAS ke Malleolus Medialis dari Ankle (merupakan titik penentu). Perbedaan 1-1,5 cm dikategorikan normal walaupun dapat menyebabkan gejala.

10. Prone Knee Bending Test
Posisi pasien tengkurap, pemeriksa memfleksikan knee pasien sedapat mungkin dan memastikan hip pasien tidak rotasi. Jika pemeriksa tidak dapat memfleksikan knee 90˚ derajat karena ada kondisi patologis, maka tes ini dapat juga dilakukan dengan pasif ekstensi hip dengan knee fleksi sedapat mungkin. Nyeri unilateral di daerah lumbal mungkin indikasi cedera akar saraf L2 atau L3. Sedangkan nyeri di bagian depan paha indikasi m.quadriseps tegang. Tes ini juga mengulur n. femoralis. Posisi knee fleksi ini dipertahankan antara 45-60 detik.

12. Tanda Bruzinki I ( Brudzinski’s “Neck” Sign)
Pasien terlentang letakkan satu tangan pemeriksa di bawah kepala dan tangan lainnya diletakkan di atas dada pasien, lalu fleksikan kepala pasien dengan cepat semaksimal mungkin. Positif jika pada saat kepala pasien difleksikan timbul pula fleksi involunter pada kedua tungkai dan rasa tidak enak atau nyeri pada bagian leher dan punggung bawah.
13. Tanda Brudzinski II
Pasien terlentang fleksikan hip dan knee pasien. Jika pada saat gerakan tersebut dilakukan tungkai yang kontralateral ikut flesi secara involunter, maka positif. Apabila gerakan tersebut tidak terjadi, tungkai yang ipsilateral diekstensikan dan positif jika saat ekstensi tungkai yang kontralateral ikut fleksi secara involunter.

Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

DETEKSI DINI KELAINAN POSTUR


Usia sekolah merupakan periode pertumbuhan dan perkembangan fisik yang cukup pesat. Selama proses pertumbuhan dan perkembangan fisik, anak-anak rentan untuk menderita cedera. Data Dinas Kesehatan (2009) melaporkan bahwa anak usia 5-14 tahun yang menderita sakit sekitar 23,8%, dimana 60%-nya menderita sakit cukup parah sehingga mengganggu aktivitas sekolah. Gangguan perkembangan dan pertumbuhan pada anak sekolah sangat bervariatif. Salah satunya adalah gangguan pada system otot dan tulang (musculoskeletal). Aktivitas anak di sekolah seperti cara duduk yang tidak benar, beban bawaan yang berlebih menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya gangguan pada system otot dan tulang. Gangguan ini apabila dibiarkan lebih lanjut akan mengakibatkan terjadinya kelainan postur tubuh.
Kelainan postur memiliki dampak yang tidak kecil terhadap banyak aspek kehidupan manusia. Misalnya; adanya gangguan sistemik seperti gangguan pernafasan dan organ internal lainnya, menurunnya tingkat kepercayaan diri anak akibat adanya perubahan fisik secara kosmetik, gangguan keseimbangan, gangguan koordinasi dan ketangkasan gerak dalam aktivitas. Dampak lain dari ganggguan ini adalah munculnya gejala nyeri, cepat lelah, dan ketidaknyamanan dalam melakukan aktivitas sehari-hari yang akan mempengaruhi konsentrasi belajar baik disekolah maupun dirumah. Bahkan keluhan yang dirasakan saat dewasa (usia produktif) adalah manifestasi dari kelainan postur sejak kecil yang berkembang secara progresif.
Penanganan kelainan postur pada anak-anak selama ini kurang mendapat perhatian. Baik dari instansi kesehatan pemerintah, pendidikan bahkan orang tua. Selama ini perhatian penanganan kesehatan anak usia sekolah lebih difokuskan pada kebersihan perorangan dan lingkungan. Dengan mengetahui gangguan postur pada anak usia sekolah, maka langkah-langkah penanganan secara preventif bahkan kuratif dan rehabilitatif dapat dilakukan dengan efektif. Diharapkan dengan kita dapat mengetahui kelainan postur, maka kita dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan dampak dari gangguan postur.
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

Derajat Kerusakan Saraf



1. Neuropraxia
Kerusakan jenis ini merupakan kerusakan saraf yang paling ringan. Axon dan sel myelin tidak mengalami kerusakan. Tidak terjadi degenerasi saraf. Akibat lebih lanjut kadang timbul paralisis sementara. Kerusakan pada tipe ini biasanya disebabkan oleh adanya tekanan yang bersifat sementara. Keluhan atau cidera saraf akan hilang seiring dengan hilangnya tekanan.
2. Axonotmesis
Pada kerusakan saraf jenis ini, terjadi kerusakan pada sistem axon. Selubung myelin masih utuh dan terjadi proses degenerasi.
3. Neurotmesis
Ini adalah tipe kerusakan pada sistem saraf yang paling berat. Terjadi kerusakan axon dan selubung myelin. Pada kondisi ini terjadi proses degenerasi.
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

PEMERIKSAAN FISIOTERAPI SARAF TEPI



PEMERIKSAAN SPESIFIK
KONDISI SARAF (TEPI)

By : Piphiet
D3 FISIOTERAPI STIKES AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH CILACAP


PEMERIKSAAN SARAF KRANIALIS

A.Saraf Olfaktorius (N. I)
Pemeriksaan dilakukan jika terdapat riwayat tentang hilangnya rasa pengecapan dan penciuman.
Cara :
Letakan bahan yang tidak merangsang seperti kopi, tembakau, parfum atau rempah-rempah. Letakkan salah satu bahan-bahan tersebut di depan salah satu lubang hidung pasien sementara lubang hidung yang lain kita tutup dan pasien menutup matanya. Kemudian pasien diminta untuk memberitahu saat mulai terhirupnya bahan tersebut dan mengidentifikasikan bahan yang dihirup.

B.Saraf Optikus (N. II)
Pemeriksaan meliputi penglihatan sentral (Visual acuity), penglihatan perifer (visual field), refleks pupil, pemeriksaan fundus okuli serta tes warna.
Pemeriksaan penglihatan sentral (visual acuity)
Penglihatan sentral diperiksa dengan kartu snellen, jari tangan, dan gerakan tangan.
1.Kartu snellen
Pada pemeriksaan kartu memerlukan jarak enam meter antara pasien dengan tabel, atau dapat juga pemeriksaan dilakukan dengan cermin. Ketajaman penglihatan normal bila baris yang bertanda 6 dapat dibaca dengan tepat oleh setiap mata (visus 6/6)
2.Jari tangan
Normal jari tangan bisa dilihat pada jarak 3 meter tetapi jika dapat melihat pada jarak 2 meter, maka perkiraan visusnya adalah kurang lebih 2/60.
3.Gerakan tangan
Normal gerakan tangan bisa dilihat pada jarak 2 meter tetapi bisa melihat pada jarak 1 meter berarti visusnya kurang lebih 1/3 10.
Pemeriksaan Penglihatan Perifer
Pemeriksaan penglihatan perifer dapat menghasilkan informasi tentang saraf optikus dan lintasan penglihatan mulai dari mata hingga korteks oksipitalis.
Tes Konfrontasi
Cara :
Jarak terapis – pasien : 60 – 100 cm objek yang digerakkan harus berada tepat di tengah-tengah jarak tersebut. Objek yang digunakan (2 jari terapis / ballpoint) di gerakan mulai dari sisi kanan ke kiri (lateral dan medial), atas dan bawah dimana mata lain dalam keadaan tertutup dan mata yang diperiksa harus menatap lurus kedepan dan tidak boleh melirik kearah objek tersebut.
Hasil pemeriksaan di proyeksikan dalam bentuk gambar di sebuah kartu.
Refleks Pupil
Ada dua macam refleks pupil.
1.Respon cahaya langsung
Cara :
Menggunakan senter kecil, arahkan sinar dari samping (sehingga pasien tidak memfokus pada cahaya dan tidak berakomodasi) ke arah salah satu pupil untuk melihat reaksinya terhadap cahaya. Inspeksi kedua pupil dan ulangi prosedur ini pada sisi lainnya. Pada keadaan normal pupil yang disinari akan mengecil.
2.Respon cahaya konsensual
Jika pada pupil yang satu disinari maka secara serentak pupil lainnya mengecil dengan ukuran yang sama.
C.Saraf Okulomotoris (N. III)
Pemeriksaan meliputi ; Ptosis, Gerakan bola mata dan Pupil.
Ptosis
Cara :
Ptosis positif bila salah satu kelopak mata memotong iris lebih rendah dari pada mata yang lain, atau bila pasien mendongakkan kepal ke belakang / ke atas secara spontan atau mengangkat alis mata secara spontan pula.
Gerakan bola mata.
Cara :
Pasien diminta untuk melihat dan mengikuti gerakan jari atau ballpoint ke arah medial, atas, dan bawah, sekligus ditanyakan adanya penglihatan ganda (diplopia) dan dilihat ada tidaknya nistagmus. Sebelum pemeriksaan gerakan bola mata (pada keadaan diam) sudah dilihat adanya strabismus (juling) dan deviasi conjugate ke satu sisi.

Pupil
Pemeriksaan pupil meliputi :
a.Bentuk dan ukuran pupil
b.Perbandingan pupil kanan dan kiri. Perbandingan sebesar 1mm masih dianggap normal.
Refleks pupil
a.Refleks cahaya langsung (bersama N. II)
b.Refleks cahaya tidak alngsung (bersama N. II)
c.Refleks pupil akomodatif atau konvergensi
Cara :
Jika pasien melihat hingnya sendiri kedua kedua otot rektus medialis akan berkontraksi. Bersamaan dengan gerakan bola mata tersebut maka kedua pupil akan mengecil (otot siliaris berkontraksi) (Tejuwono) atau pasien disuruh dan memfokuskan pandangannya pada suatu objek yang berjarak  15 cm didepan mata pasien. Hasil positif jika tidak terdapat konstriksi pada kedua pupil yang disebut reflek akomodasi.
D.Saraf Troklearis (N. IV)
Pemeriksaan meliputi :
1.gerak mata ke lateral bawah
2.strabismus konvergen
3.diplopia
E.Saraf Trigeminus (N. V)
Pemeriksaan meliputi; sensibilitas, motorik dan reflex
Sensibilitas
Ada tiga cabang sensorik, yaitu oftalmik, maksila, mandibula.
Cara :
Pemeriksaan dilakukan pada ketiga cabang saraf tersebut dengan membandingkan sisi yang satu dengan sisi yang lain.
Mula-mula-mula menggunakan ujung jarum yang tajam. Pasien menutup kedua matanya dan jarum ditusukkan dengan lembut pada kulit, pasien ditanya apakah terasa tajam atau tumpul.
Hilangnya sensasi nyeri akan menyebabkan tusukan terasa tumpul. Daerah yang menunjukkan sensasi yang tumpul diberi tanda dan pemeriksaan di lakukan dari daerah yang terasa tumpul menuju daerah yang terasa tajam. Juga dilakukan dari daerah yang terasa tajam menuju daerah yang terasa tumpul.
Juga lakukan tes pada daerah di atas dahi menuju belakang melewati puncak kepala. Jika cabang oftalmikus terkena sensasi akan timbul kembali bila mencapai dermatom C2.
Pasien tetap menutup kedua matanya dan lakukan tes untuk raba halus dengan kapas yang baru dengan cara yang sama. Pasien disuruh mengatakan “ya” setiap kali dia merasakan sentuhan kapas pada kulitnya.
Pemeriksaan temperatur tidak diperiksa secara rutin karena hilangnya sensasi temperatur terjadi pada keadaan hilangnya sensasi nyeri,
Motorik
Cara :
Pemeriksaan dimulai dengan menginspeksi adanya atrofi otot-otot temporalis dan masseter. Kemudian pasien disuruh mengatupkan giginya dan lakukan palpasi adanya kontraksi masseter diatas mandibula. Kemudian pasien disuruh membuka mulutnya (otot-otot pterigoideus) dan pertahankan tetap terbuka sedangkan terapis berusaha menutupnya. Lesi unilateral dari cabang motorik menyebabkan rahang berdeviasi kearah sisi yang lemah (yang terkena).
Refleks
1.Refleks kornea
a.Langsung
Cara :
Pasien diminta melirik kearah kanan atas kemudian kapas disentuhkan pada kornea mata kiri dan lakukan sebaliknya pada mata yang lain. Kemudian bandingkan kekuatan dan kecepatan refleks tersebut kanan dan kiri.
b.Tak langsung (konsensual)
Cara :
Sentuhan kapas pada kornea atas akan menimbulkan refleks menutup mata pada mata kiri dan sebaliknya. Kegunaan pemeriksaan refleks kornea konsensual yaitu untuk melihat lintasan mana yang rusak (aferen atau eferen).

2.Refleks bersin
Refleks masseter
Cara :
Pasien membuka mulut secukupnya (jangan terlalu lebar) kemudian dagu diberi alas jari tangan terapis diketuk mendadak dengan palu refleks. Respon normal akan negatif yaitu tidak ada penutupan mulut atau positif lemah yaitu penutupan mulut ringan.
F.Saraf abdusens (N. VI)
Cara :
Pemeriksaan meliputi gerakan mata ke lateral, strabismus konvergen dan diplopia tanda-tanda tersebut maksimal bila memandang ke sisi yang terkena dan bayangan yang timbul letaknya horizonatal dan sejajar satu sama lain.
G.Saraf fasialis (N. VII)
1.Tes kekuatan otot
a.Mengangkat alis, bandingkan kanan dan kiri.
b.Menutup mata sekuatnya (perhatikan asimetri) kemudioan pemeriksa mencoba membuka kedua mata tersebut bandingkan kekuatan kanan dan kiri.
c.Memperlihatkan gigi (asimetri)
d.Bersiul dan menculu (asimetri / deviasi ujung bibir)
e.meniup sekuatnya, bandingkan kekuatan uadara dari pipi masing-masing.
f.Menarik sudut mulut ke bawah.
Skala Ugo Fisch
Terdapat lima posisi pemeriksaan :
a.Posisi diam : 20 poin
b.Posisi menggerutkan dahi : 10 poin
c.Posisi menutup mata : 30 poin
d.Posisi bersiul : 10 poin
e.Posisi tersenyum : 30 poin

Empat skala penilaian
0 % : Zero, asimetri komplit, tak ada gerak volunteer
30 % : Poor, kesembuhan kearah asimetri
70 % : Fair, kesembuhan parsial kea rah simetri
100 % : Normal, simetri komplit
MMT Otot Wajah
0 : Zero, tidak ada kontraksi
1 : Trace, kontraksi minimal
3 : Fair, kontraksi, dilakukan susah payah
5 : Normal, kontraksi dan terkontrol
2. Tes sensorik khusus (pengecapan) 2/3 depan lidah)
Cara :
Pemeriksaan dengan rasa manis, pahit, asam, asin yang disentuhkan pada salah satu sisi lidah.
H.Saraf Vestibulokokhlearis (N. VIII)
Pemeriksaan pendengaran
1.Tes Rinne
Cara :
Garpu tala dengan frekuensi 256 Hz mula-mula dilakukan pada prosesus mastoideus, dibelakang telinga, dan bila bunyi tidak lagi terdengar letakkan garpu tala tersebut sejajar dengan meatus akustikus oksterna. Dalam keadaan normal pasien masih dapt mendengar. Pada tuli saraf pasien masih terdengar pada meatus akustikus eksternus. Keadaan ini disebut Rinne negatif.
2.Tes Weber
Cara :
Garpu tala 256 Hz diletakkan pada bagian tengah dahi dalam keadaan normal bunyi akan terdengar pada bagian tengah dahi pada tuli saraf bunyi dihantarkan ke telinga yang normal pada tuli konduktif bunyi tedengar lebih keras pada telinga yang abnormal.
I.Saraf glosofaringeus (N. IX) dan saraf vagus (N. X)
Nervus IX adalah komponen sensorik dan nervus X adalah komponen motorik.
Cara :
Sentuh bagian belakang faring pada setiap sisi dengan spatula, tanyakan kepada pasien apakah ia merasakan sentuhan spatula tersebut (N. IX) setiap kali dilakukan. Hasil positif : Jika konraksinya tidak ada dan sensasinya utuh maka ini menunjukkan kelumpuhan nervus X, kemudian pasien disuruh berbicara agar dapat menilai adanya suara serak, kemudian disuruh batuk, tes juga rasa kecap secara rutin pada sepertinya posterior lidah (N. IX).
J.Saraf Asesorius (N. XI)
Cara :
Pemeriksaan saraf asesorius dengan cara meminta pasien mengangkat bahunya dan kemudian rabalah massa otot trapezius dan usahakan untuk menekan bahunya ke bawah, kemudian pasien disuruh memutar kepalanya dengan melawan tahanan (tangan pemeriksa) dan juga raba massa otot sternokleido mastoideus.
K.Saraf Hipoglosus (N. XII)
Cara :
Inspeksi lidah dalam keadaan diam didasar mulut, tentukan adanya atrofi dan fasikulasi (kontraksi otot yang halus iregular dan tidak ritmik). Pasien diminta menjulurkan lidahnya yang berdeviasi ke arah sisi yang lemah (terkena).
Lesi UMN dari N XII biasanya bilateral dan menyebabkan lidah imobil dan kecil. Kombinasi lesi UMN bilateral dari N. IX. X, XII disebut kelumpuhan pseudobulbar.

PEMERIKSAAN FISIOTERAPI PADA SARAF TEPI
A.Tes Lhermitte
Posis pasien : Sitting
Posisi terapis: Dibelakang pasien
Cara :
Pasien duduk santai dan nyaman dengan neck mid position. Tangan terapis diatas kepala pasien (tegak lurus dengan kepala). Berikan tekanan (kompresi) pada kepala dalam berbagai posisi (fleksi, ekstensi, lateral fleksi dextra dan lateral fleksi sinistra).
Hasil :
Positif jika terdapat nyeri pada daerah leher hingga lengan akibat terjepitnya saraf Brachialis.
Dapat diberikan pada kasus Cervikal Root Syndrome.
B.Tes Distraksi
Posisi pasien : Sitting
Posisi terapis : Dibelakang pasien
Cara :
Salah satu tangan terapis berada didagu dan tangan yang lain dibelakang kepala kemudian angkat kepala pasien (distraksi).
Hasil :
Positif jika nyeri menghilang.
Dapat diberikan pada kasus Cervikal Root Syndrome.
C.Tes Finkelstein
Posisi pasien : Sitting or standing
Posis terapis : Didepan pasien
Cara :
Pasien mengepalkan tangannya, diaman ibu jari diliputi atau digenggam oleh jari-jari selanjutnya pasien atau terapis menggerakan kearah ulnar deviasi.
Hasil :
Positif bila terdapat nyeri didaerah radial wrist.
Dapat diberikan pada kasus De Quervain Syndrome.

D.Tes Phallen
Posisi pasien : Sitting or standing
Posisi terapis : Didepan pasien
Cara :
Fleksi palmar yang ditahan salah satu tangan selama 30 detik.
Hasil :
Positif jika pasien mengalami kesemutan didaerah karpal.
Dapat diberikan pada kasus Carpat Tunnel Syndrome.
E.Tes Tinnel
Posisi pasien : Sitting or standing
Posisi terapis : didepan pasien
Cara :
Perkusi atau penekanan n. medianus pada pergelangan tangan (posisi tangan sedikit dorsi fleksi) di daerah ligamentum tranversum dapat menimbulkan rasa nyeri atau kesemutan pada jari-jari yang dilalui oleh n. medianus.
Hasil :
Positif jika nyeri pada daerah yang dilalui n. medianus.
Dapat diberikan pada kasus Carpat Tunnel Syndrome.
F.Torniquet test
Posis pasien : Supine lying
Posisi terapis : Disamping pasien
Cara :
Menggunakan tensimeter cuff dipasang pada lengan atas diatas tekanan sistolik selama 1-2 menit, biasanya dipasang pada tekanan 220 mmHg. Pada tes ini akan terjadi peningkatan rasa nyeri dan semutan pada daerah distribusi n. medianus, karena bagian yang terjepit pada n. medianus di daerah carpal tunnel lebih sensitif terhadap ischemia dari pada saraf yang normal.
Hasil :
Positif bila terdapat rasa nyeri dan kesemutan didaerah n. medianus.
G.Luthy's sign (bottle's sign)
Posisi pasien : Sitting or standing
Posis terapis : didepan pasien
Cara :
Pasien diminta melingkarkan ibu jari dan jari telunjuknya pada botol atau gelas. Hasil : Positif bila kulit tangan penderita tidak dapat menyentuh dindingnya dengan rapat.
Dapat diberikan pada kasus Carpat Tunnel Syndrome.
H.Adson Tes
Posisi pasien : Sitting or standing
Posisi terapis : Didepan menyamping pasien
Cara :
Pasien menarik dagunya dan menengok sejauh mungkin ke satu arah dan meminta pasien menarik nafas sedalam mungkin dan terapis menekan arteri radialis.
Hasil :
Positif bila nteri pada arteri radialis.
I.Tes Eden
Posisi pasien : Standing
Posis terapis : Disamping pasien
Cara :
Berikan penekanan pada arteri radialis, kemudian traksi pada lengan atau pasien menjatuhkan badannya (badan pasien miring).
Hasil :
Positif jika pasien mersakan nyeri dan kesemutan pada arteri radialis.
J.Laseigue’s Test
Posis pasien : Supine lying, hip adduksi dan endorotasi, knee ekstensi
Posisi terapis : Disamping pasien
Cara :
Terapis mengangkat tungkai pasien (350 – 750), bila pasien mengeluh nyeri pada pantat atau paha belakang.
Hasil :
Positif bila terdapat nyeri. Nyeri pertama terasa di pantat berarti terdapat penekanan syaraf yang sifatnya central.
K.Bragard’s Test
Posisi pasien : Supine lying, hip adduksi dan endorotasi, knee lurus
Posisi terapis : Disamping pasien
Cara :
Terapis mengangkat tungkai pasien (250 – 650), disertai dorsi fleksi ankle.
Hasil :
Positif bila terdapat nyeri. Nyeri pertama terasa di pantat berarti terdapat penekanan syaraf yang sifatnya central.
L.Neri Test
Posis pasien: Supine lying, hip adduksi dan endorotasi, knee lurus
Posisi terapis : Disamping pasien
Cara :
Terapis mengangkat tungkai pasien (250 – 650),lalu gerakan dorsi fleksi ankle disertai dengan mengangkat kepalanya (fleksi neck).
Hasil :
Positif bila terdapat nyeri. Nyeri pertama terasa di pantat berarti terdapat penekanan syaraf yang sifatnya central.
M.Slump Test
Posisi pasien : Sitting
Posisi terapis : Disamping pasien
Cara :
Terapis mempertahankan kepala pasien pada posisi netral, pasien diminta mengendorkan punggungnya (fleksi lumbal), kemudian beri tekanan (kompresi) pada bahu kanan kiri untuk memepertahankan posis fleksi limbal, selanjutnya pasien diminta menggerakan fleksi leher dan kepala sejauh mungkin, (kemudian terapis mempertahankan posisi maksimal fleksi vertebra tersebut dengan memberi tekanan pada kepala bagian belakang, terapis menahan kaki pasien pada maksimal dorsi fleksi, pasien diminta meluruskan (ekstensi) lututnya, jika pasien tidak mampu meluruskan lututnya (karena nyeri), tekanan pada kepala dipindah ke bahu kanan kiri.
Hasil :
Bila saat tekanan pada kepala dipindah ke bahu pasien, mampu menambah gerakan ekstensi lutut atau nyeri berkurang, berarti tes positif.
N.Sitting Root Test
Tes ini merupakan modifikasi dari slump test
Posisi pasien : Sitting dengan hip fleksi 900 , leher fleksi
Cara :
Aktif ekstensi lutut.
Hasil :
Bila nyeri terasa di pantat, paha belakang dan betis berarti terdapat penekanan syaraf Isciadikus.
O.Brudzinski-Kernig Test
Posisi pasien : Supine lying dengan kedua tangan di belakang kepala
Posisi terapis : Disamping pasien
Cara :
Aktif fleksi neck diikuti dengan fleksi hip (dengan knee lurus) kemudian fleksi knee.
Hasil :
Bila saat hip di fleksikan (denagn lutut lurus) nyeri terasa kemudian saat lutut difleksikan nyeri hilang berarti tes positif
P.Prone Knee Bending (PKB/Nachlas) Test
Posisi pasien : Prone lying
Posisi terapis : Disamping pasien
Cara :
Terapis memfleksikan lutut pasien sejauh mungkin (jangan sampai terjadi gerak rotasi hip) dan menahannya ada posisi maksimal fleksi sekitar 45-60 detik
Hasil :
Bila nyeri pada punngung bawah, pantat atau paha belakang berarti terjadi penekanan akar syaraf L2 atau L3.
Q.Naffziger’s Test
Posisi pasien : Standing
Posisi terapis : Dibelakang pasien
Cara :
Terapis menekan pada kedua vena jugularis dan menyuruh pasien mengejan atau batuk.
Hasil :
Bila saat batuk terasa nyeri pada punggung bawah berarti tes positif.
R.Tes Patrick
Posisi pasien : Supine lying
Posisi terapis : Disamping pasien
Cara :
Tempatkan maleolus lateralis tungkai yang terkena pada lutut yang sehat dan terapis memberikan penekanan pada knee yang difleksikan.
Hasil :
Positif bila terdapat nyeri pada daerah panggul.
S.Tes Contra Patric
Posis pasien : Supine lying
Posisi terapis : disamping pasien
Cara :
Fleksi dan endorotasikan tungkai yang sakit serta gerakan adduksi kemudian terapis member penekanan sejenak pada knee.
Hasil :
Positif bila pasien nyeri didaerah garis sendi sakroiliaka.
T.Tes Gaenslen
Posisi pasien : Supine lying dengan kedua knee fleksi
Posisi terapis : Disamping pasien
Cara :
Pasien supine lying dengan kedua knee fleksi. Kemudian pasien diminta menggantungkan tungkai yang berada ditepi bed.
Hasil :
Positif bila nyeri terasa disendi sakroiliaka ipsilateral pada saat tungkai itu dilepaskan untuk bergantung di tepi bed.

bACA JUGA

PEMERIKSAAN POLA JALAN


DAFTAR PUSAKA
Sidharta, Priguna dan Mahar Mardjono. 2008. NEUROLOGI KLINIS DASAR. Jakarta: Dian Rakyat.
Bates, Barbara. 1995. PEMERIKSAAN FISIK & RIWAYAT KESEHATAN. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
De Wolf dan Mens. 1990. PEMERIKSAAN ALAT PENGGERAK TUBUH. Deurne-Antwerpen.A.N de Wolf.
Konin, Jeff G, dkk. 1997. SPECIAL TEST FOR ORTHOPEDIC EXAMINATION. GroveRoad: SLAC Incorporated.
http://www.perdossijaya.org/perdossijaya/index.php?option=com_content&view=article&id=76:neuropati-entrapmen-pada-ekstremitas-atas&catid=45:artikel&Itemid=63
http://www.fisiosby.com/index.php?option=com_content&task=view&id=9&Itemid=7
http://72.14.235.132/search?q=cache:fFDGdeifBXgJ:library.usu.ac.id/download/fk/penysaraf-aldi2.pdf+phalen+test&cd=6&hl=id&ct=clnk&gl=id
http://cetrione.blogspot.com/2008/05/entrapment-neuropati.html
http://www.angelfire.com/nc/neurosurgery/Atas.html
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

Penyalahgunaan Narkoba Di Kalangan Remaja

Maraknya narkotika dan obat-obatan terlarang telah banyak mempengaruhi mental dan sekaligus pendidikan bagi para pelajar saat ini. Masa depan bangsa yang besar ini bergantung sepenuhnya pada upaya pembebasan kaum muda dari bahaya narkoba. Narkoba telah menyentuh lingkaran yang semakin dekat dengan kita semua. Teman dan saudara kita mulai terjerat oleh narkoba yang sering kali dapat mematikan. Sebagai makhluk Tuhan yang kian dewasa, seharusnya kita senantiasa berfikir jernih untuk menghadapi globalisasi teknologi dan globalisasi yang berdampak langsung pada keluarga dan remaja penerus bangsa khususnya. Kita harus memerangi kesia-siaan yang di akibatkan oleh narkoba.
I    Penyebab Penyalahgunaan Narkoba
  
a. Kegagalan yang di alami dalam kehidupan 

Tidak memiliki rasa percaya diri ataupun kurang mendapat kasih sayang orang tua dapat menyebabkan timbulkan penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja. Misalnya saja, orang tua yang terbilang sukses dalam berkarir tetepi kurang memberi perhatian kepada keluarga, adanya perselisihan di keluarga hingga mengalami kehancuran (Broken Home).

b.   Pergaulan yang bebas dan lingkungan yang kurang tepat.
Menurut teori Waddington, mengenai “develope mental land scape”, jika seorang anak di tempatkan pada suatu lingkungan tertentu, maka sulitlah bagi kalangan tersebut untuk mengubah pengaruhnya, terlebih lagi jika lingkungan itu sangat kuat mempengaruhi anak tersebut. Dengan demikian untuk mencegah penggunaan narkoba, maka  land scape (lingkungan) yang baik saat ini adalah lingkungan Islam. Sebagai orang tua seharusnya dapat memperingatkan anaknya agar tidak bergaul dengan teman yang berakhlak tidak baik.

c. Kurangnya siraman agama
Untuk memerangi narkoba, upaya yang perlu di lakukan adalah       membangkitkan kesadaran beragama dan menginformasikan hal-hal yang positif dan bermanfaat kepada para remaja. Karena, pada zaman sekarang ini sangt sedikit para remaja yang sadar akan pentingnya siraman agama.

d. Keinginan untuk sekadar mencoba
Keyakinan bahwa bila mencoba sekali takkan ketagihan adalah salah satu penyebab penggunaan narkoba, karena sekali memakai narkoba maka mengalami ketagihan dan sulit untuk di hentikan. Maka dari itu, bila seseorang ingin terhindar dari narkoba, harus dapat menjauhkan dirinya dari hal-hal yang memungkinkan untuk mencoba dan bersentuhan dengan narkoba.

II.  Narkoba Yang Banyak Beredar Di Masyarakat.
Ada banyak jenis narkoba yang beredar di masyarakat yang banyak di salahgunakan oleh remaja, antara lain:
  • Ganja, di sebut juga dengan mariyuana, grass/rumput, pot, cannabis, joint, hashish, cimeng.
  • Heroin, di sebut juga dengan putaw, putih, PT, bedak, etep.
  • Morfin, yaitu narkoba yang di olah dari candu/opium yang mentah.
  • Kokain, di sebut juga dengan crack, coke, girl, lady.
  • Ekstasi, di sebut juga  dengan ineks, kancing.
  • Shabu-shabu, di sebut juga dengan es, ss, ubas, kristal, mecin.
  • Amphetamin, di sebut juga dengan speed.
* Zat Hirup
Berbagai jenis bahan perekat yang di pasarkan sebagai bahan bangunan juga sering kali di salah gunakan untuk di hirup, antara lain: lem kayu (sejanis aica aibon), cat, thinner.

*  Obat Penenang, di sebut juga pil koplo
berbagai obat penenang dan obat tidur (anti-insomnia) juga sring di pakai oleh pecandu narkoba. Obat-obatan in masuk daftar G dan psikotropika, tetapi di perjualbelikan secara bebas di kios-kios kaki lima.

a. Akibat Penyalahgunaan Narkoba Terhadap Kesehatan.
  Secara keseluruhan obat-obatan ini dapat menimbulkan gangguan-gangguan pada sistem saraf manusia, juga pada organ-organ tubuh manusia. Narkoba juga akan mengakibatkan kcanduan/ketagihan kepada pemakainya dan apabila pemakaian di hentikan, dapat mengakibatkan kematian. Ciri-ciri kecanduan antara lain: kejang, sakit perut, badan gemetar, muntah-muntah, mata dan hidung berair, hilangnya nafsu makan dan hilangnya/berkurangnya berat badan.

b. Akibat Penggunaan Narkoba Terhadap Lingkungan Di Masyarakat
Penggunaan narkoba dapat menghilangkan kesadaran pemakainya, menyebabkan paranoia (linglung), juga dapat membuat pemakainya menjadi ganas dan liar sehingga dapat mengganggu ketentraman di masyarakat.
Untuk mendapatkan barang-barang haram itu, di perlukan tidak sedikit biaya, sehingga dapat menimbulkan perbuatan-perbuatan kriminal seperti pencurian, perampasan ataupun pertengkaran dan tidak sedikit pula yang menimbulkan pembunuhan.

III  Pencegahan Dan Penanggulangan Terhadap Penyalahgunaan Narkoba
Ada banyak hal untuk mencegah penggunaan narkoba antara lain adalah:
  • membangkitkan kesadaran beragama, menginformasikan hal-hal positif dan bermanfaat.
  • Selektif dalam memilih teman.
  • Selektif dalam memilih makanan dan minuman.
  • Menghindarkan diri dari lingkungan yang tidak tepat.
  • Membentuk kelompok-kelompok kecil yang saling mengingatkan.
  • Bila berhadapan dengan orang/teman yang mulai bersentuhan dengan narkoba, gunakan kasih sayang  untuk menariknya ke jalan hidup yang lebih sehat.
  • Mengetahui fakta-fakta tentang narkoba termasuk akibat-akibat yang di timbulkan oleh barang-barang haram tersebut.
Sumber : http://bayu96ekonomos.wordpress.com/
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

Antara Remaja, Keluarga Dan Narkoba


Akhir-akhir ini fenomena kenakalan remaja makin meluas tidak hanya berupa kenakalan/ vandalisme tetapi mengarah kepada penganiayaan bahkan pembunuhan. Fenomena  ini sudah terjadi sejak dulu. Para pakar psikolog selalu mengupas masalah yang tak pernah habis-habisnya. Kenakalan remaja, seperti sebuah lingkaran hitam yang tak pernah putus. Sambung menyambung dari waktu ke waktu, dari masa ke masa, dari tahun ke tahun dan bahkan dari hari ke hari semakin rumit.

Masalah kenakalan remaja merupakan masalah yang kompleks terjadi di berbagai kota di Indonesia. Sejalan dengan arus modernisasi dan teknologi yang semakin berkembang, maka arus hubungan antar kota-kota besar dan daerah semakin lancar, cepat, mudah dan murah. Dunia teknologi yang semakin canggih, disamping memudahkan dalam mengakses berbagai informasi melalui berbagai media, disisi lain juga membawa suatu dampak negatif yang cukup meluas diberbagai lapisan masyarakat.

Kenakalan remaja ini biasanya dilakukan oleh mereka yang gagal dalam menjalani proses-proses perkembangan jiwanya, baik pada saat remaja maupun pada masa kanak-kanaknya. Masa kanak-kanak dan masa remaja berlangsung begitu singkat, dengan perkembangan fisik, psikis, dan emosi yang begitu cepat. Secara psikologis, kenakalan remaja merupakan wujud dari konflik-konflik yang tidak terselesaikan dengan baik pada masa kanak-kanak maupun remaja para pelakunya. Seringkali didapati bahwa ada trauma dalam masa lalunya, perlakuan kasar dan tidak menyenangkan dari lingkungannya, maupun trauma terhadap kondisi lingkungannya, seperti kondisi ekonomi yang membuatnya merasa rendah diri.

Kondisiseperti inilah yang mempermudah para bandar dan pengedar Narkoba mengarahkan sasarannya kepada kalangan remaja. Berbagai cara bujuk rayu yang mereka lakukan, seperti memasuki lingkungan pergaulan, memanfaatkan mereka sebagai pengedar, pemakai bahkan juga sebagai kurir. Dan semua berujung pada kesenangan semu, ekonomi yang terpenuhi, walaupun mereka menyadari sangat besar taruhannya terhadap masa depan.

Permasalahan Narkoba adalah isu kritis dan rumit yang tidak bisa diselesaikan oleh hanya satu pihak saja. Karena Narkoba bukan hanya masalah individu namun masalah semua orang. Mencari solusi yang tepat merupakan sebuah pekerjaan besar yang melibatkan dan memobilisasi semua pihak baik pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan komunitas lokal, dan keluarga. Adalah sangat penting untuk bekerja bersama dalam rangka melindungi remaja dari ancaman bahaya Narkoba dengan memberikan alternatif aktivitas yang bermanfaat seiring dengan menjelaskan tentang bahaya Narkoba dan konsekuensi negatif yang akan mereka terima.

Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa sikap keluarga memegang peranan penting dalam membentuk keyakinan remaja dalam mencegah penyalahgunaan Narkoba. Upaya untuk mengubah sikap keluarga terhadap penyalahgunaan narkoba termasuk memperbaiki pola asuh orangtua dalam rangka menciptakan komunikasi dan lingkungan yang lebih baik di rumah. Dukungan dari orangtua merupakan model intervensi yang sering digunakan karena paling efektif untuk mencegah penyalahgunaan Narkoba dikalangan remaja yaitu melalui pendidikan keluarga. Orang tua diharapkan dapat mengawasi dan mendidik anaknya dengan memberikan alternatif kegiatan positif, memperhatikan lingkungan pergaulannya agar tidak terjerumus pada hal-hal yang distruktif.

Remaja membutuhkan informasi, cara-cara untuk meningkatkan daya tangkaldalam mencegah atau juga mengurangi dampak bahaya penyalahgunaan Narkoba dari orang lain. Salah satu upaya dalam penanggulangan bahaya penyalahgunaan Narkoba adalah dengan melakukan pendidikan keluarga.Maksudnya di sini adalah upaya dari setiap orangtua untuk menghindarkan anak-anaknya dari bahaya penyalahgunaan narkoba dengan cara:Pertama,memberikan pembekalan pengetahuan agama dan tata krama yang memadai.Kedua, memberikan pengawasan dengan mengupayakan setiap anggota keluarga saling mengetahui aktifitas masing-masing.Ketiga, menanamkan kasih sayang diantara anggota keluarga melalui komunikasi yang efektif diantara anggota keluarganyadan Keempat,harus menjadi tokoh yang dapat diidolakan / panutan, dapat berperan ganda sebagai teman atau guru, sebagai pendidik, pembimbing dan pengayom.

Dengan berbagai upaya tersebut di atas, mari kita segera peduli dengan menjaga kalangan remaja dan mengawasi anak-anak kita pada khususnya dari bahaya penyalahgunaan Narkoba, sehingga harapan untuk menelurkan generasi yang cerdas, tangguh dan berkualitas di masa yang akan datang dapat terwujud
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

Furunkel

Pengertian
Furunkel atau disebut juga Bisul, adalah peradangan pada folikel rambut dan jaringan yang biasanya mengalami nekrosis ini disebabkan oleh staphylococcus aureus.




Furunkel (Bisul)


Etiologi
Etiologinya kebanyakan oleh  Staphylococcus aureus, merupakan sel-sel berbentuk bola atau coccus Gram positif yang berpasangan berempat dan berkelompok. Staphylococcus aureus merupakan bentuk koagulase positif, ini yang membedakannya dari spesies lain, dan merupakan patogen utama bagi manusia. Pada Staphylococcus koagulase negatif merupakan flora normal manusia. Staphylococcus menghasilkan katalase yang membedakannya dengan streptococcus.

Gejala
  • Mula-mula nodul kecil yang mengalami peradangan pada folikel rambut, kemudian menjadi pustula dan mengalami nekrosis dan menyembuh setelah pus keluar. Proses nekrosis ini biasanya berlangsung selama 2 hari – 3 minggu.
  • Nyeri, pada daerah tersebut terutama pada yang akut.
  • Gejala konstitusional yang sedang (panas badan, malaise, mual).
  • Terdapat satu atau lebih dan dapat kambuh kembali.
  • Tempat predileksi : muka, leher, lengan, pergelangan tangan dan jari-jari tangan, pantat dan daerah anogenital. 

Cara Mendiagnosa
Diagnosis furunkel dapat ditegakkan secara klinis mengingat gambaran klinisnya yang khas yaitu lesi awal berupa infiltrat kecil, membesar membentuk nodul eritematosa berbentuk kerucut, nyeri, terdapat core (mata bisul), kemudian melunak menjadi abses, pecah, terbentuk ulkus. Tetapi untuk lebih menegakkan diagnosisnya yaitu dari segi :
  1. Anamnesis : timbul bisul atau benjolan yang nyeri dan ada matanya.
  2. Pemeriksaan fisik khususnya efloresensi nodul eritema berbentuk kerucut, dan ditengahnya terdapat core
  3. Pemeriksaan penunjang : pengecatan Gram, kultur dan tes sensitivitas

Diagnosis Banding
Diagnosis banding furunkolosis adalah folikulitis dan karbunkel. Antara furunkolosis dan folikulitis dapat dibedakan dari segi efloresensinya kalau pada folikulitis berupa macula eritematus, papula, pustula, tidak terdapat core dan jaringan disekitarnya tidak meradang. Antara furunkolosis dengan karbunkel, dapat dibedakan dari segi efloresensinya mirip dengan furunkel hanya saja ukurannya lebih besar dan mata bisulnya lebih dari satu, dan biasanya sering dijumpai pada penderita Diabetes Militus. 

Penatalaksanaan
Adapun penatalaksanaan untuk furunkel atau furunkolosisi adalah sebagai berikut :
  1. Umum : atasi faktor predisposisi
  2. Medikamentosa
  • Untuk mempercepat drainase, kompres dengan air hangat atau povidon 1% (encerkan 1:10) 2 kali sehari selama 10-15 menit, setelah itu baru dioleskan antibiotik
  • Simptomatik
  • Sistemik diberikan antibiotic, seperti : Koksasilin 3 x 500 mg per oral/ hari selama 5-7 hari atau Cefadroksil 2 x 500 mg peroral/ hari selama 10-14 hari bila alergi terhadap penisilin diberikan eritromisin, pada furunkel maligna diberikan sefotaksim 1 gram intramuskuler per 8 jam selama 10 hari.

Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

Demam Berdarah Dengue

Demam dengue/DF dan demam berdarah dengue/DBD (dengue haemorrhagic fever/DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan/atau nyeri sendi yang disertai lekopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia, dan diatesis, hemoragik. Pada DBD terjadi perembesan plasma yang ditandai oleh hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit) atau penumpukan cairan di rongga tubuh. Sindrom renjana dengue (dengue shock syndrome) adalah demam berdarah dengue yang ditandai oleh renjatan atau syok.

Etioligi
Demam dengue dan demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue, yang termasuk dalam genus Flavivirus, keluarga Flaviviridae. Flavivirus merupakan virus dengan diameter 30 nm terdiri dari asam ribonukleat rantai tunggal dengan berat molekul 4 x 106.
Terdapat 4 serotipe virus yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4. Terdapat reaksi silang antara serotype dengue dengan Flavivirus lain seperti  Yellow fever, Japanese encehplalitis dan West Nile virus.
Virus Dengue


Epidemologi
 
Penularan infeksi virus dengue terjadi melalui vector nyamuk genus Aedes (terutama A. aegepty dan A. albopictus).
Bebrapa faktor diketahui berkatian dengan peningkatan transmis virus dengue yaitu : 
  1. Vektor : perkembang biakan vector, kebiasaan menggigit, kepadatan vector di lingkungan, transportasi vector dari satu tempat ke tempat lain
  2. Pejamu : terdapatnya penderita di lingkungan/keluarga, mobilasi dan paparan terhadap nyamuk, usia dan jenis kelamin
  3. Lingkungan : curah hujan, suhu, sanitasi dan kepadatan penduduk.

    Alat Fisioterapi
    Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

    Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
    Share Artikel

    Hepatitis C

    Penyakit Hepatitis C merupakan penyakit yang menyerang hati yang disebabkan oleh Virus Hepatitis C (VHC). 15% dari kasus yang terinfeksi Hepatitis C adalah akut, artinya secara otomatis tubuh membersihkannya dan tidak ada konsekwensinya. Sayangnya 85% dari kasus, yang terinfeksi Hepatitis C menjadi kronis dan secara perlahan merusak hati bertahun-tahun. Dalam waktu tersebut, hati bisa rusak menjadi sirosis (pengerasan hati), stadium akhir penyakit hati dan kanker hati. Organ hati yang terserang virus ini akan membengkak dan lama-kelamaan akan henti fungsinya.

    Model Virus Hepatitis C

    Model Virus Hepatitis C

    Tanda dan Gejala
     Sering kali orang yang menderita Hepatitis C tidak menunjukkan gejala, walaupun infeksi telah terjadi bertahun-tahun lamanya.
    Namun tanda-tanda pada penyakit hepatitis seperti dibawah ini :
    • Mudah lelah dan letih
    • Hilang selera makan
    • Sakit perut
    • Sakit pada otot sendi
    • Urin menjadi gelap
    • Kulit atau mata menjadi kuning (disebut "jaundice") jarang terjadi

    Cara Menentukan Diagnosa
    1. Liver Biopsi
    2. Blod Test
    3. Ultrasound

    Penularan Hepatitis C 
    Penularan Hepatitis C
    1. Biasanya terjadi melalui transfusi darah
    2. Penggunaan jarum suntik bergantian
    3. Berhubungan seksual dengan penderita penyakit hepatitis C Etc.

    Pengobatan dan Pencegahan
    Saat ini terapi yang dinilai efektif adalah Interveron dan Ribavirin
    Untuk pencegahan :
    1. Skrining HCV terhadap donor darah
    2. Hindari NAPZA
    3. Jangan menggunakan alat cukur, jarum suntik, jarum tato, jarum tindik, sikat gigi dengan bergantian. Selalu gunakan alat sendiri 
    4. Berprilaku seks yang sehat dan aman


    Alat Fisioterapi
    Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

    Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
    Share Artikel