SELAMAT DATANG DI BLOG-NYA FISIOTERAPIS INDONESIA..........................................................................SEMUA TENTANG FISIOTERAPI ADA DISINI

JURNAL FISIOTERAPI

Abstrak Fisioterapi Vol. 6 No. 1, April 2006 PDF Print E-mail
Written by Erwan Baharudin   
Friday, 16 April 2010 07:55
Manfaat Penambahan Knee Support Pada Pelaksanaan Terapi MWD, US, Latihan Isometrik Terhadap Pengurangan Nyeri Akibat Cidera Ligamen Collateral Medial Lutut Stadium Lanjut
 
S.Indra Lesmana, Andrianto
 
Abstrak. Cidera ligamen collateral medial sendi lutut merupakan salah satu cidera pada sendi lutut yang mengenai tali pengikat sendi bagian medial yang diakibatkan oleh trauma langsung pada bagian medial
sendi lutut. Penelitian dilakukan di RSUD. Kota Bekasi dari bulan Agustus 2004–Februari 2005 yang bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh MWD, US, Latihan Isometrik dan Pemakaian Knee Support dengan MWD, US, dan Latihan Isometrik terhadap penurunan nyeri akibat Cidera Ligamen Collateral Medial Sendi Lutut Stadium Lanjut. Analisa data dengan uji Wilcoxon untuk mengetahui kemaknaan perlakuan. Sedangkan untuk mengetahui ada perbedaan kemaknaan antara perlakuan yang diberikan pada kelompok perlakuan 1 dengan kelompok perlakuan 2 digunakan uji Mann Whitney. Penelitian menyimpulkan bahwa pemberian terapi MWD, US, Latihan Isometrik, dan Pemakaian Knee Support berpengaruh dalam mengurangi nyeri akibat cidera Ligamen Collateral Medial Lutut Stadium Lanjut dengan nilai P Value=0,005 (P<α, α=0,05). Pada pemberian terapi MWD, US, dan Latihan Isometrik juga berpengaruh dalam mengurangi nyeri akibat cidera Ligamen Collateral Medial Lutut Stadium Lanjut dengan nilai P Value=0,005 (P<α, α=0,05). Dari uji Mann Whitney didapat nilai P value=0,000 (P<α, α=0,05), yang berarti ada perbedaan yang sangat bermakna terhadap pengurangan nyeri antara kelompok perlakuan 1 dan kelompok perlakuan 2. Kata Kunci: Knee Support, Latihan Isometrik, Cidera Ligamen Collateral Medial
 
 
Pengaruh Penggunaan Splint Terhadap Penurunan Spastisitas Penderita Stroke
 
Totok Budi Santoso, J. Hardjono
 
Abstrak. Penelitian yang akan dilakukan ini bertujuan ingin mengetahui bagaimanakah pengaruh splint dan berapakah waktu yang diperlukan untuk dapat menurunkan tonus otot yang tinggi pada penderita stroke. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu atau quasi experiment. Desain penelitian dilakukan menurut rancangan pretest-postest with control Group . Dalam rancangan dilakukan pemilihan untuk menentukan kelompok kontrol dan kelompok perlakuan, kemudian dilakukan pretest (01) pada ketiga
kelompok, diikuti intervensi (X1) pada kelompok eksperimen. Agar efek pemberian splint terlihat antara berbagai lama waktu pemakaian, maka kelompok eksperimen terdiri atas tiga kelompok (A , B, dan C). Kelompok eksperimen A diberikan perlakuan berupa pemakaian splint selama 1 jam, kelompok B diberikan
pemakaian splint selama 2 jam, sedengan kelompok C diberikan perlakuan pemakain splint selama 3 jam. Populasi dalam penelitian adalah semua penderita stroke yang melakukan kunjungan ke poliklinik fisioterapi RSU PKU Muhammadiyah Surakarta periode Januari sampai dengan April 2005. Pengambilan sampel
menggunakan teknik purposive sampling. Jumlah sampel ditetapkan 60 dengan masing-masing kelompok perlakuan sebanyak 20 orang. Pengumpulan data dengan menggunakan skala asworth yang telah
dimodifikasi baik sebelum maupun setelah pemakain splint. Analisa data meliputi analisis deskriptif kemudian diikuti analisa uji beda baik dalam setiap kelompok perlakuan maupun antar kelompok perlakuan. Untuk melakukan analisa ini peneliti menggunakan alat bantu software SPSS versi 10.00 for windows. Metode analisa yang dipakai adalah analisa statistik non parametrik Wilcoxon untuk uji beda dalam kelompok dan Kruskal-Wallis untuk uji beda antar kelompok. Pada akhir penelitian ternyata pada pemakaian alat bantu splint selama 1 jam, 2 jam dan 3 jam semuanya dapat menurunkan spastisitas otot penderita stroke dengan hasil statistik yang bermakna. Waktu yang paling efektif dalam pemakaian splint untuk menurunkan spastisitas otot penderita stroke adalah selama 2 jam. Terdapat perbedaan yang bermakna antara pemakaian alat bantu splint selama 1 jam, 2 jam dengan 3 jam terhadap penurunan spastisitas penderita stroke. Kata Kunci : Splint, Spastisitas, Stroke
 
 
Beda Pengaruh Penambahan Long Axis Oscillated Traction Pada Intervensi MWD Dan TENS Terhadap Pengurangan Rasa Nyeri Pada Capsullar Pattern Akibat Osteoatritis Lutut
 
M.Irfan, Rizka Gahara
 
Abstrak. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan pengaruh penambahan Long axis oscillated traction pada intervensi MWD dan TENS terhadap penurunan nyeri pada kondisi capsullar pattern akibat osteoatritis lutut. Penelitian ini dilaksanakan di unit Fisioterapi RSAL MINTOHARDJO Bendungan Hilir, Jakarta. Dimulai pada tanggal 11 Juli sampai 20 Agustus 2005. Penelitian bersifat Quasi eksperimental dan mengunakan teknik perposive sampling. Osteoatritis adalah suatu patologi yang mengenai kartilago hialin
dari sendi lutut, kondisi ini berpengaruh pada pengerasan jaringan subchondral, rawan sendi mengeras, pemendekan capsul-ligament, spasme otot dan terjepitnya saraf poli modal yang berada di sekitar sendi oleh osteofite maka keluhan yang dapat timbul yaitu berupa nyeri. Pemberian intervensi MWD, TENS dan long axis oscillated traction memberikan pengaruh yang sangat bermakna pada penurunan nyeri akibat osteoatritis lutut. Hal ini disebabkan karena efek terapetik dari MWD dan TENS melalui level sensoris dan level spinal serta efek traksi pada jaringan sekitar sendi. Hasil uji Mann-Whitnay selisih nilai VAS akhir pada
kelompok perlakuan dan kelompok kontrol menunjukan nilai P = 0,001, terdapat perbedaan pengaruh yang
sangat signifikan pada kedua kelompok. Peneliti menyimpulkan bahwa penambahan long axis oscillated traction pada intervensi MWD, TENS berpengaruh terhadap penurunan nyeri pada capsullar pattern akibat osteoatritis lutut. Dengan demikian pemilihan salah satu metoda dapat digunakan sebagai solusi dan juga kombinasi kedua intervensi tersebut dapat digunakan untuk mendapatkan hasil yang optimal.
Kata Kunci: Long Axis Oscillated Traction, Capsular Pattern, Osteoarthritis 
 
 
Perbedaan Pengaruh Pemberian Intervensi Micro Wave Diathermy (MWD) Dan Ultrasound Underwater Dengan Intervensi Micro Wave Diathermy (MWD) Dan Ultrasound Gel Terhadap Penurunan Nyeri Pada Kasus Plantar Fascitis 
 
Heri Periatna, Liza Gerhaniawati 
 
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh pemberian intervensi Micro Wave
Diathermy (MWD) dan Ultrasound Underwater dengan intervensi Micro Wave Diathermy (MWD) dan Ultrasound gel terhadap penurunan nyeri pada kasus plantar fascitis. Plantar fascitis terjadi karena penguluran yang berlebihan pada plantar fascianya yang dapat mengakibatkan suatu inflamasi pada fascia plantaris yang khususnya mengenai bagian medial calcaneus sehingga dapat menimbulkan nyeri. Metode penelitian bersifat Quasi eksperimental untuk mengetahui efek suatu perlakuan pada objek penelitian. Serta untuk mempelajari manfaat pemberian intervensi MWD dan ultrasound underwater terhadap penurunan nyeri pada kasus plantar fascitis dengan metoda pretest post test design. Penelitian menyimpulkan bahwa pemberian MWD dan ultrasound underwater dan MWD dan ultrasound gel berpengaruh terhadap penurunan nyeri pada plantar fascitis, namun berbeda dalam kecepatan penurunannya. Kata Kunci: Ultrasound, Micro Wave Diathermy, Plantar Fascitis
 
 
Perbedaan Pengaruh Pemberian Short Wave Diathermy (SWD) Dan Contract Relax And Stretching Dengan Short Wave Diathermy Dan Transverse Friction Terhadap Pengurangan Nyeri Pada Sindroma Nyeri Miofasial Otot Levator Skapula
 
Sugijanto, Bunadi
 
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh terapi Short wave Diathermy dan
Contract Relax and Stretching dengan Short Wave Diathermy dan Transverse Friction terhadap pengurangan nyeri akibat sindroma nyeri miofasial otot levator skapula, dimana sampel penelitian ini
diperoleh dari poliklinik fisioterapi Badan RSUD Arjawinangun dengan jumlah sampel penelitian 20 orang laki-laki dan perempuan dengan umur 30-40 tahun yang penelitiannya dilaksanakan pada 23 Juli sampai 3 September 2004. Sindroma nyeri miofasial otot levator skapula adalah suatu gangguan lokal pada otot levator Skapula dimana didapatkan adanya miofasial trigger point atau taut band yang membentuk seperti jalinan tali dan dirasakan nyeri menjalar (referred pain) saat diprovokasi dan menimbulkan reflek ketegangan pada otot yang besangkutan. Dengan penerapan intervensi Short Wave Diathermy dan Contract Relax and Stretching sebagai perlakuan I, dan penerapan Short Wave Diathermy dan Transverse Friction sebagai perlakuan II, dapat mengurangi nyeri akibat sindroma nyeri miofasial otot levator skapula. Dalam penelitian yang dilakukan pada uji kolmogorov–Smirnov sebelum intervensi hasilnya adalah p=0,759 yang berarti tidak ada perbedaan tingkat nyeri sebelum intervensi pada kelompok perlakuan I dan kelompok perlakuan II. Dari kedua perlakuan intervensi ini ternyata sesuai dengan hasil pengujian analisis penelitian setelah dilakukan empat kali intervensi dan berdasarkan hasil uji Mann-Whitney, diperoleh nilai p=0,002 yang berarti bahwa ada perbedaan pengaruh yang sangat signifikan terhadap pengurangan nyeri akibat sindroma nyeri miofasial otot levator skapula antara kelompok perlakuan I dengan penerapan terapi Short Wave Diathermy dan Contact Relax and Stretching dengan kelompok perlakuan II dengan terapi Short Wave Diathermy dan Transverse Friction. Dimana kesimpulannya adalah terapi Short Wave Diathermy dan Contract Relax and Stretcing sangat bermakna pengaruhnya terhadap pengurangan nyeri akibat sindroma nyeri miofasial otot levator skapula dari pada terapi Short Wave Diathermy dan Transverse Friction.
Kata Kunci: Contract Relax and Stretching, Transverse Friction, Sindroma Miofasial Otot Levator Skapula. 
 
SUMBER : http://jurnal.esaunggul.ac.id/index.php/abstrak-fisioterapi-vol-6-no-1-april-2006.html
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

CEDERA OLAH RAGA

Inilah Cara Tepat Penanganan Cedera Olahraga
Headline
Foto: Ilustrasi
Oleh: Dahlia Krisnamurti
gayahidup - Selasa, 23 Oktober 2012 | 22:05 WIB
Share on facebookShare on twitterShare on emailShare on googleMore Sharing Services



untuk memelihara kebugaran fisik serta mental seseorang. Namun, kurangnya persiapan yang benar sebelum berolahraga bisa mengakibatkan cedera.
Cedera yang terjadi bisa sangat berat, dari otot robek, patah tulang, hingga kefatalan. Padahal, dengan pemanasan dan peregangan, cedera olahraga dapat dihindari. Cedera yang sering dialami oleh para atlet maupun pelaku olahraga individual bisa berupa trauma akut dan sindrom yang berlarut-larut atau overuse syndrome.
Penanganan cedera tersebut dapat bersifat non operatif (tidak memerlukan tindakan). Namun, pada kasus-kasus tertentu, cedera olahraga harus ditangani melalui tindakan operasi seperti untuk kasus patah tulang dan putusnya urat. Teknik operasi yang digunakan dapat bersifat terbuka atau secara minimal invasif.
"Bedah minimal invasif pada sendi dapat dilakukan melalui teknik Arthroscopy melalui luka goresan kecil, menggunakan video kamera yang di masukkan ke dalam sendi lutut," kata Dokter Spesialis Ortopedi RS Premier Bintaro, Dr Sapto Adji, SpOT dalam acara media gathering dan health talk mengenai Manejemen Nyeri & Penanganan Cedera Olahraga di RS Premier Bintaro, Tangerang, Selasa (23/10).
Sapto Adji menjelaskan, pembedahan ini memberikan keuntungan yang cukup besar dibanding tindakan pembedahan konvensional. Bedah minimal invasif hanya membutuhkan sayatan kecil sehingga mengurangi kerusakan jaringan lunak dan mempercepat masa pemulihan.
"Sistem pembedahan ini bukanlah hal yang baru karena sudah dikenal di dunia olah raga profesional," jelas Sapto Adji yang didampingi Ketua tim menejemen nyeri RS Premier Bintaro, dr Pantja Wibowo, SpAn KIC.
Menurutnya, olahragawan amatirpun dapat menggunakan bedah minimal invasif yang memungkinkannya kembali pulih seperti semula, dengan jangka waktu yang relatif singkat.
Lantas, seperti apa cara kerja bedah minimal invasif (artroskopi)? Bedah minimal invasif memiliki beberapa kelebihan, di antaranya luka sayatan operasi lebih kecil (hanya sebesar kancing baju). Luka yang kecil akan meminimalkan kerusakan jaringan lunak dan infeksi luka, perdarahan, serta waktu penyembuhan lebih cepat. Kecepatan penyembuhan, terutama bagi atlet profesional, sangat penting. Secara estetika luka sayatan bedah konvensional kurang indah dipandang.
Salah satu teknik dalam bedah invasif minimum adalah artroskopi. Bedah dilakukan melalui tiga lubang kecil. Satu lubang menjadi tempat memasukkan kamera fiber optik mini yang tersambung dengan monitor sehingga dokter bisa melihat kondisi persendian. Dua lubang lain berfungsi sebagai jalan masuk peralatan bedah.
Menurut Adji, ligamen yang robek tidak bisa dijahit. Ligamen akan diganti dengan jaringan dari bagian tubuh lain yang kekuatannya sama atau lebih tinggi. Rekonstruksi cedera ACL bisa menggunakan otot lutut (tendon patella). Namun, luka operasi untuk melakukan tetap besar dan berisiko fraktur lutut. Selain itu, pascaoperasi tindakan itu kemungkinan menimbulkan nyeri pada saat bersujud.
Selain otot lutut, otot yang biasa dijadikan pengganti ACL yang cedera adalah semi T dan gracilis yang berada pada paha (hamstring). Otot diambil kemudian dipilin dan dimasukkan ke rongga lutut di lokasi ACL.
Kekuatan otot hamstring yang diambil untuk rekonstruksi ACL mungkin sedikit berkurang. Secara umum otot lain di sekitarnya akan menutupi kelemahan otot yang hilang.
Prosedur artoskopi sambung Sapto Adji, umumnya berlangsung selama 1-2 jam. Sesudahnya, pasien perlu menjalani proses pemulihan selama 6-9 bulan sebelum sendi bisa digunakan seperti sedia kala.
Selain untuk mengatasi jaringan yang rusak karena trauma, antroskopi juga bermanfaat 'membersihkan' sendi. Umumnya, prosedur ini diperlukan pasien-pasien usia lanjut yang mengalami pengapuran.
"Dengan artroskopi, zat-zat yang menimbulkan nyeri tersebut dibersihkan. Bedah invasif minimum juga diterapkan untuk menangani cedera pada bahu, pergelangan kaki, siku, dan tulang belakang," urai Sapto Adji. [mdr]

ALAT TERAPI CEDERA OLAHRAGA KLIK DISINI
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

BOLA FITNESS

Price : Rp.300.000,-

Phisio Ball.
Brand : Kettler
Manufacturer : Germany.
Waranty : 1 year.
Diameter : 65 & 75 cm

BELI BOLA FITNESS KLIK DISINI
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

BOLA GYM

Price : Rp.300.000,-

Phisio Ball.
Brand : Kettler
Manufacturer : Germany.
Waranty : 1 year.
Diameter : 65 & 75 cm

BELI DI KLIK DISINI
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

BOLA PILLATES

Price : Rp.300.000,-

Phisio Ball.
Brand : Kettler
Manufacturer : Germany.
Waranty : 1 year.
Diameter : 65 & 75 cm

BELI DI KLIK DISINI
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

Alat Fisioterapi uap

Selamat datang di Toko online alat fisioterapi "INDONESIAN REHAB EQUIPMENT", Toko Online Alat Fisioterapi dan Sensori Integrasi yang mendistribusikan alat fisioterapi dan alat sensori integrasi ke seluruh wilayah indonesia dengan harga terjangkau.


WEBSITE KAMI TELAH DI ALIHKAN ALAT FISIOTERAPI

KLIK LINK DI BAWAH INI UNTUK MENGUNJUNGI TOKOALAT FISIOTERAPI





Dapatkan berbagai alat fisioterapi di INDONESIAN REHAB EQUIPMENT dengan harga bersaing . Untuk informasi harga dan penawaran silahkan ke kontak kami .
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

Alat Terapi Stroke

Selamat datang di Toko online alat fisioterapi "INDONESIAN REHAB EQUIPMENT", Toko Online Alat Fisioterapi dan Sensori Integrasi yang mendistribusikan alat fisioterapi dan alat sensori integrasi ke seluruh wilayah indonesia dengan harga terjangkau.


WEBSITE KAMI TELAH DI ALIHKAN ALAT FISIOTERAPI

KLIK LINK DI BAWAH INI UNTUK MENGUNJUNGI TOKOALAT FISIOTERAPI




Alat-alat fisioterapi yang kami jual antara lain : Elektrikal Traksi, Shortwave Diatermi (SWD), Microwave Diatermi (MWD), Ultrasound terapi (US), transcutaneus electrical nerve stimulation (TENS), infra red, nebulizer, TDP, Shoulder wheel, Bola bobath, korset, dll.

Dapatkan berbagai alat fisioterapi di INDONESIAN REHAB EQUIPMENT dengan harga bersaing . Untuk informasi harga dan penawaran silahkan ke kontak kami .
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

Jual Alat Fisioterapi

Selamat datang di Toko online alat fisioterapi "INDONESIAN REHAB EQUIPMENT", Toko Online Alat Fisioterapi dan Sensori Integrasi yang mendistribusikan alat fisioterapi dan alat sensori integrasi ke seluruh wilayah indonesia dengan harga terjangkau.


WEBSITE KAMI TELAH DI ALIHKAN ALAT FISIOTERAPI

KLIK LINK DI BAWAH INI UNTUK MENGUNJUNGI TOKOALAT FISIOTERAPI




Alat-alat fisioterapi yang kami jual antara lain : Elektrikal Traksi, Shortwave Diatermi (SWD), Microwave Diatermi (MWD), Ultrasound terapi (US), transcutaneus electrical nerve stimulation (TENS), infra red, nebulizer, TDP, Shoulder wheel, Bola bobath, korset, dll.

Dapatkan berbagai alat fisioterapi di INDONESIAN REHAB EQUIPMENT dengan harga bersaing . Untuk informasi harga dan penawaran silahkan ke kontak kami .
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

alat fisioterapi ultrasound

Selamat datang di Toko online alat fisioterapi "INDONESIAN REHAB EQUIPMENT", Toko Online Alat Fisioterapi dan Sensori Integrasi yang mendistribusikan alat fisioterapi dan alat sensori integrasi ke seluruh wilayah indonesia dengan harga terjangkau.


WEBSITE KAMI TELAH DI ALIHKAN ALAT FISIOTERAPI

KLIK LINK DI BAWAH INI UNTUK MENGUNJUNGI TOKOALAT FISIOTERAPI




Alat-alat fisioterapi yang kami jual antara lain : Elektrikal Traksi, Shortwave Diatermi (SWD), Microwave Diatermi (MWD), Ultrasound terapi (US), transcutaneus electrical nerve stimulation (TENS), infra red, nebulizer, TDP, Shoulder wheel, Bola bobath, korset, dll.

Dapatkan berbagai alat fisioterapi di INDONESIAN REHAB EQUIPMENT dengan harga bersaing . Untuk informasi harga dan penawaran silahkan ke kontak kami .
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

Fisioterapi stroke

Karta Raharja Ucu
Fisioterapi
Fisioterapi
"Bagi penderita stroke, semakin dini penyakitnya dikelola maka persentase kesembuhannya bisa semakin besar."
SEMARANG, Jaringnews.com - Pakar fisioterapi, dr. Budi Susanto mengatakan, penderita stroke dapat dilatih untuk meningkatkan kualitas hidupnya, serta dapat kembali bekerja kembali dengan pola gerak yang mendekati normal.

Untuk mendapatkan kembali kesehatan tersebut, Budi menyarankan kepada para penderita stroke melakukan fisioterapi untuk memperbaiki dan meminimalisir kecacatannya.

"Waktu yang diperlukan untuk kesembuhan pasien stroke ini tergantung dari keadaan atau kondisi penderita itu sendiri, seperti berat ringannya kelumpuhan, kemampuan bicara, ada atau tidaknya gangguan koordinasi," katanya di Semarang, Kamis (2/2/2012).

Dokter di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kudus itu mengatakan, penyakit stroke yang tiba-tiba menyerang sebenarnya dapat disembuhkan dengan pengelolaan stroke sejak dini dan dilakukan secara intensif.

"Bagi penderita stroke, semakin dini penyakitnya dikelola maka persentase kesembuhannya bisa semakin besar. Sebab, terjadinya gangguan peredaran darah yang dialami kecil," jelas dia.

Budi menjelaskan, stroke merupakan gangguan peredaran darah otak yang dapat terjadi secara mendadak dan tidak jarang menyebabkan kematian. Untuk itu, semua pasien stroke membutuhkan fisioterapi di dalam pemulihan kondisinya.

Namun, semakin berat komplikasi stroke, kata dia, tentunya semakin lama dan kompleks pula program fisioterapinya.

Cara kerja fisioterapi pada penderita stroke adalah dengan memberikan latihan-latihan pada penderita baik dengan alat bantu atau tidak, sesuai dengan kemampuan atau kondisi penyakitnya.

Untuk itu, Budi yang juga membuka praktik di Apotek Bina Sehat Semarang itu berharap, fisioterapi bisa membantu penderita untuk dapat melakukan pekerjaan dan aktivitas sehari-hari dengan mandiri atau dengan sedikit bantuan dari orang lain.

"Dengan adanya kemajuan teknologi sekarang ini, harapan hidup penderita stroke sebenarnya juga semakin membaik. Penderita dapat sembuh sempurna, namun seringkali masih ada gejala sisa seperti kelumpuhan anggota gerak, tangan, maupun kaki, dan gangguan koordinasi organ," imbuh dia.

Perkembangan pada teknik-teknik fisioterapi saat ini, masih kata Budi, mengalami perkembangan yang sangat pesat, ditunjang dengan kemajuan teknologi alat-alat kesehatan dan fisioterapi yang semakin canggih.

"Center fisioterapi saat ini sudah ada di daerah-daerah. Penderita stroke bisa mudah mendapatkan layanan fisioterapi untuk menyembuhkan penyakitnya, atau setidaknya kualitas hidupnya bisa lebih baik," kata Budi.

http://jaringnews.com/hidup-sehat/medika/9243/fisioterapi-upaya-untuk-meringankan-sakit-stroke
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

FISIOTERAPI DADA

MEKANISME PELAKSANAAN FISIOTERAPI DADA

Fisioterapi dada merupakan tindakan yang dilakukan pada klien yang mengalami retensi sekresi dan gangguan oksigenasi yang memerlukan bantuan untuk mengencerkan atau mengeluarkan sekresi.
Tujuan
-Meningkatkan efisiensi pernapasan dan ekspansi paru
-Memperkuat otot pernapasan
-Mengeluarkan secret dari saluran pernapasan
-Klien dapat bernapas dengan bebas dan tubuh mendapatkan oksigen yang cukup. 
Anatomi



Percabangan trakheobronkhial








Lobus Kanan Atas :
  1. segmen apical
  2. segmen posterior
  3. segmen anterior
Lobus Kanan Tengah :
  1. segmen lateral
  2. segmen medial

Lobus Kanan Bawah :
  1. segmen superior
  2. segmen basal anterior
  3. segmen basal lateral
  4. segmen basal posterior
  5. segmen basal medial




























Fisioterapi dada mencakup tiga teknik: drainase postural, perkusi dada, dan vibrasi.
1.Drainase Postural
Merupakan cara klasik untuk mengeluarkan secret dari paru dengan mempergunakan gaya berat (gravitasi) dari secret.
Pembersihan dengan cara ini dicapai dengan melakukan salah satu atau lebih dari 11 posisi tubuh yang berbeda. Setiap posisi mengalirkan secret dari pohon trakheobronkhial ke dalam trachea. Batuk penghisapan kemudian dapat membuang secret dari trachea.
Pada penderita dengan produksi sputum yang banyak drainase postural lebih efektif bila disertai dengan perkusi dan vibrasi dada.
Indikasi Klien Yang Mendapat Drainase Postural
a.Mencegah penumpukan secret yaitu pada:
-pasien yang memakai ventilasi
-pasien yang melakukan tirah baring yang lama
-pasien yang produksi sputum meningkat seperti pada fibrosis kistik, bronkiektasis
b.mobilisasi secret yang tertahan :
-pasien dengan atelektasis yang disebabkan oleh secret
-pasien dengan abses paru
-pasien dengan pneumonia
-pasien pre dan post operatif
-pasien neurology dengan kelemahan umum dan gangguan menelan atau batuk
Kontra Indikasi Drainase Postural
  1. tension pneumothoraks
  2. hemoptisis
  3. gangguan system kardiovaskuler seperti hipotensi, hipertensi, infarkniokard, aritmia
  4. edema paru
  5. efusi pleura
  6. tekanan tinggi intrakranial
Persiapan Pasien Untuk Drainase Dostural
  1. Longgarkan seluruh pakaian terutama daerah leher dan pnggang
  2. Terangkan cara pelaksanaan kepada klien secara ringkas tetapi lengkap
  3. Periksa nadi dan tekanan darah
  4. Apakah pasien mempunyai refleks batuk atau memerlukan suction untuk mengeluarkan secret.
Cara Melakukan Drainase Postural
  1. Dilakukan sebelum makan untuk mencegah mual muntah dan menjelang tidur malam untuk meningkatkan kenyamanan tidur.
  2. Dapat dilakukan dua kali sehari, bila dilakukan pada beberapa posisi tidak lebih dari 40 -60 menit, tiap satu posisi 3-10 menit
  3. Posisi drainase postural dilihat pada gambar
Evaluasi Setelah Dilakukan Drainase Postural
  1. Auskultasi : suara pernapasan meningkat dan sama kiri dan kanan
  2. Inspeksi : dada kanan dan kiri bergerak bersama-sama
  3. Batuk produktif (secret kental/encer)
  4. Perasaan klien mengenai darinase postural (sakit, lelah, lebih nyaman)
  5. Efek drainase postural terhadap tanda vital (Tekanan darah, nadi, respirasi, temperature)
  6. Rontgen thorax
Drainase postural dapat dihentikan bila:
  1. Suara pernapasan normal atau tidak terdengar ronchi
  2. Klien mampu bernapas secara efektif
  3. Hasil roentgen tidak terdapat penumpukan sekret
2. Perkusi Dada
Perkusi dilakukan pada dinding dada dengan tujuan melepaskan atau melonggarkan secret yang tertahan.
Indikasi Klien Yang Mendapat Perkusi Dada
Perkusi secara rutin dilakukan pada pasien yang mendapat drainase postural, jadi semua indikasi drainase postural secara umum adalah indikasi perkusi.
Cara Melakukan Perkusi Dada
Perkusi dilakukan dengan kedua telapak tangan perawat membentuk “setengah bulan” atau “mangkuk” dengan jari-jari tangan rapat, secara bergantian tepukan telapak tangan di atas dada klien selama 1-2 menit.
Kecepatan dari perkusi masih kontroversi, sebagian mengatakan bahwa teknik yang cepat lebih efektif, tetapi ada yang mengatakan bahwa teknik yang lambat lebih santai sehingga klien lebih suka yang lambat.
Hindari daerah-daerah klavikula, sternum, scapula, vertebra, ginjal, limpa.
3.Vibrasi
Vibrasi merupakan kompresi dan getaran manual pada dinding dada dengan tujuan menggerakkan secret ke jalan napas yang besar.
Cara Melakukan Vibrasi
a.Vibrasi dilakukan hanya pada waktu klien ekspirasi.
b.Letakkan tangan, telapak tangan menghadap ke bawah di area yang didrainase, satu tangan di atas tangan yang lain.
c.Instruksikan klien untuk napas lambat dan dalam melalui hidung hembuskan melalui mulut dengan bibir dimonyongkan selama proses vibrasi, tujuannya memperpanjang fase ekspirasi.
d.Ketika klien menghembuskan napas getarkan telapak tangan, hentikan saat klien inspirasi. Lakukan vibrasi 5 kali ekspirasi
FISIOTERAPI DADA :DRAINASE POSTURAL, PERKUSI DAN VIBRASI
A. Persiapan Alat :
Baki berisi :
1.Handuk
3.Bantal ( 2 – 3 buah )
4.Segelas air
5.Tissue
6.Sputum pot, berisi cairan desinfektan
7.Buku catatan




B.Persiapan Klien
1.Informasikan klien mengenai : tujuan
pemeriksaan, waktu dan prosedur
2.Pasang sampiran / jaga privacy pasien
3.Atur posisi yang nyaman




C.Persiapan perawat :
1.Cuci tangan
2.Perhatikan universal precaution




D.Prosedur
  • Lakukan auskultasi bunyi napas klien
  • Instruksikan klien untuk mengatakan bila mengalami mual, nyeri dada, dispneu.
  • Berikan medikasi yang dapat membantu mengencerkan sekresi.
  • Kendurkan pakaian klien
1.Postural drainase
·Pilih area yang tersumbat yang akan didrainase
·Baringkan klien dalam posisi untuk mendrainase area yang tersumbat. Letakkan bantal sebagai penyangga
·Minta klien untuk mempertahankan posisi selama 10 – 15 menit
·Selama dalam posisi ini, lakukan perkusi dan vibrasi dada di atas area yang didrainase
·Setelah drainase pada posisi pertama, minta klien duduk dan batuk efektif. Tampung sekresi dalam sputum pot.
·Istirahatkan pasien, minta klien minum sedikit air
·Ulangi untuk area tersumbat lainnya. Tindakan tidak lebih dari 30 – 60 menit.



2.Perkusi
·Tutup area yang akan diperkusi dengan menggunkan handuk
·Anjurkan klien untuk tarik napas dalam dan lambat untuk meningkatkan relaksasi
·Jari dan ibu jari berhimpitan dan fleksi membentuk mangkuk
·Secara bergantian, lakukan fleksi dan ekstensi pergelangan tangan secara cepat menepuk dada
·Perkusi pada setiap segmen paru selama 1 -2 menit, jangan pada area yang mudah cedera



3.Vibrasi
·Letakkan tangan, telapak tangan menghadap ke bawah di area yang didrainase, satu tangan di atas tangan yang lain dengan jari-jari menempel bersama dan ekstensi.
·Anjurkan klien inspirasi dalam dan ekspirasi secara lambat lewat mulut ( pursed lip breathing )
·Selama ekspirasi, tegangkan seluruh otot tangan dan lengan, dan gunakan hamper semua tumit tangan, getarkan tangan, gerakkan ke arah bawah. Hentikan getaran saat klien inspirasi
·Lakukan vibrasi selama 5 kali ekspirasi pada segmen paru yang terserang.




Kembalikan klien ke posisi yang nyaman




Evaluasi respon klien : subyektif dan obyektif




Rapikan kembali alat-alat




Dokumentasikan hasil pemeriksaan fisik




Responsi
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

analisis pola jalan

Gait analisis

PEMERIKSAAN
GAIT, LOCOMOTION AND BALANCE

A.    PENDAHULUAN
Gait (Pola berjalan) adl cara seseorang berjalan yang dikarakterisasikan oleh ritme, irama (cadence), langkah, jarak langkah dan kecepatan.
Locomotion (Pidah tempat) adl kemampuan untuk bergerak dari suatu tempat ke tempat lain.
Balance (keseimbangan) adl kemampuan untuk mempertahankan tubuh dalam keseimbangan dengan gravitasi secara statik (ketika stationary) dan dinamik (ketika bergerak)

B.     INDIKASI KLINIS
Indikasi klinis untuk penggunaan tes dan pengukuran ini, diprediksikan setelah diperoleh temuan riwayat sakit dan tinjauan sistem tubuh ( mis : informasi dari pasien/klien, keluarga, perawat atau sumber lain, gejala yang digambarkan oleh pasien atau klien, tanda-tanda yang diobservasi atau dicatat selama tinjauan sistem tubuh, dan informasi yang didapatkan dari sumber lain dan catatan-catatan). Temuan tersebut dapat menunjukkan adanya aktual atau resiko patologi / patofisiologi (penyakit, gangguan atau kondisi), impairment, keterbatasan fungsi dan ketidakmampuan, sehingga diperlukan pemeriksaan lebih definitif melalui pemilihan tes dan pengukuran gait, lokomposi dan keseimbangan tertentu.
Indikasi kilinik tes dan pengukuran ini meliput :
v  Patologi/patofisiologi (penyakit, gangguan, atau kondisi) pada sisitem berikut :
§ Cardiovaskuler (mis : penyakit vaskuler perifer)
§ Endokrin/metabolism (mis cellulitis)
§ Sistem multipel (down syndrome)
§ Musculoskeletal (arthropaty, gangguan otot, ligament, dan fascia, osteoarthrosis)
§ Neuromuscular (gangguan vestibular pusat, neuropati periper)
§ Pulmonary (empisema)
v  Impairment yang meliputi kategori berikut :
§ Circulation (mis : nyeri claudication )
§ Integritas dan mobilitas sendi (mis nyeri hip saat mobilisasi)
§ Fungsi motor (mis pola gerakan abnormal)
§ Kinerja otot (mis penurunan dan ketahanan otot)
§ ROM (mis lingkup tak normal saat berjalan)
§ Ventilasi (mis pola bernafas paradoxical saat ambulasi)
v  Keterbatsan fungsi dalam kemampuan membentuk aksi, kerja dan aktifitas yang meliputi kategori :
§ Pemeliharaan diri (mis ketidakmampuan berpakaiankarena ketidak normalan keseimbangan duduk)
§ Pengelolaan rumah tangga (mis ketidakmampuan melakukan berkebun karena menurunnya kekuatan)
§ Kegiatan kerja / sekolah / bermain (mis ketidakmampuan untuk belanja karena nyeri saat ambulasi, ketidakmampuan membawa anak – anak naik tangga karena menurunnya kekuatan)
§ Kemasyarakatan / leisure (mis ketidakmampuan menjadi wasit dalam perkumpulan kecil karena adanya nyeri hip, ketidakmampuan bermain shuffleboard karena pusing)
v  Disability – yaitu ketidakmampuan atau keterbatasan kemampuan untuk membentuk aksi, tugas atau aktifitas sesuai dengan aturan dalam konteks sosial budaya individu – yang meliputi kategori:
§ Pemeliharaan diri
§ Kegiatan rumah tangga
§ Pekerjaan (job / sekolah / play)
§ Kemasyarakatan / leisure
v  Faktor resiko untuk impaired gait, lokomotion, dan keseimbangan.
§ Meningkatnya resiko jatuh.
§ Perilaku beresiko (scatter rugs, cara melangkah yang jelas)
v  Kebutuhan kesehatan, wellness dsn kebugaran
§ Kebugaran termasuk penampilan fisik (keseimbangan dinamik yang cukup saat memanjat, terbatasnya kekuatan tungkai untuk berjongkok)
§ Kesehatan dan wellness (pemahaman yang tidak sempurna tentang keseimbangan dinamis dalam sebuah fungsi aksi)

C.    TEST DAN PENGUKURAN
            Test dan pengukuran termasuk karakterisasi dan kuantifikasi berikut:
  • Keseimbangan selama aktifitas fungsional dengan atau tanpa menggunakan alat bantu, adaptive, orthotic, protective, supportive atau prosthetic (mis skala ADL, skala IADL, observasi, pemeriksaan videographic)
  • Keseimbangan statik dan dinamis dengan atau tanpa menggunakan peralatan dan perlengkapan adaptive, orthotic, protective, supportive atau prosthetic (skala keseimbangan, inventories dizziness, posturographic dinamik, skala falls, test motor impairment, observasi, pemeriksaan photography, test kontrol posture)
  • Gait dan locomotion selama aktivitas fungsional dengan atau tanpa menggunakan peralatan dan perlengkapan orthotik, protective, supportive atau prosthetic (mis skala ADL, indeks berjalan, skala IADL, profil ketrampilan mobilitas, observasi, pemeriksaan videography)
  • Gait dan locomotion dengan atau tanpa menggunakan peralatan dan perlengkapan orthotik, protective, supportive atau prosthetic (dinamometer, electroneuromyography, analisa footprint, indeks berjalan, profil ketrampilan mobilitas, observasi, pemeriksaan videography, pemeriksaan photography, pemeriksaan bantuan teknologi, skala weight bearing, test mobilitas dengan menggunakan kursi roda)
  • Keselamatan selama berjalan, locomotion, dan keseimbangan (skala confidence, diari, skala fall, profil pemeriksaan fungsional, logs, pelaporan).

D.    ALAT YANG DIGUNAKAN UNTUK MENYARING DATA
Alat yang digunakan untuk menyaring data, meliputi:
    • Batteries of test
    • Camera dan photography
    • Diari
    • Dynamometer
    • Electroneuromyography
    • Force Platform
    • Goniometer
    • Indeks
    • Inventories
    • Logs
    • Sistem Analisa gerakan
    • Observasi
    • Tes kontrol Postur
    • Profile
    • Skala Rating
    • Pelaporan
    • Sisten analisa bantuan teknologi
    • Camera video dan videotape

E.     DATA YANG DIHASILKAN
Data yang digunakan untuk dokumentasi, yang meliputi:
Deskripsi memori jangka panjang dan jangka pendek
  • Berjalan dan Locomotion
  • Berjalan, locomotion dan keseimbangan yang dikarakterisasikan dengna atau tanpa menggunakan peralatan dan perlengkapan.
  • Tingkat keselamatan selama berjalan, locomotion dan keseimbangan.
  • Keseimbangan statis dan dinamis
  • Cara menggerakkan kursi roda dan mobilitasnya

F.     OBSERVASI GAIT
Observasi visual gait analisis dipergunakan untuk mengetahui ketidaknormalan gait yang disebabkan kelemahan otot, keterbatasan mobilitas sendi, nyeri, atau gangguan kontrol motoris akibat lesi sistem saraf. Penggunaan videotape sangat bermanfaat dalam menganalisis misalnya deviasi / patologi, perkembangan, atau memfokuskan pada satu sendi. Untuk dapat terampil dalam observasi visual haruslah difahami gait yang normal.

Siklus Gait normal
            Siklus dimulai dari initial contact (hell strike) hingga initial contact periode berikutnya, terdiri atas:
Stance Phase (40 %)
Swing Phase (60%)
Terminologi Racho
Term. Konvensional
Terminologi Racho
Term. Konvensional
Initial contact
Heel strike
Initial swing
Acceleration
Loading response
Foot flat
Mid swing
Mid swing
Mid stance
Mid stance
Terminal swing
Deceleration
Terminal stance
Heel off


Pre swing
Toe off



Dari masing-masing tahap diuraikan sebagai berikut.
Initial contact to Loading response
Sendi
Otot Yang Aktif
Deviasi Gait
Penyebab Muskular
Kemungkinan Penyebab Lain
Hip
Gluteus maximus / hamstring / adducor magnus.
Mengontrol gaya hip fleksi

Gluteus medius / tensor fascia latae.
Mengontrol gaya hip adduction

Anterior pelvic tilt




Badan condong ke belakang
Kelemahan hip extensor




Kelemahan hip extensor

Hip flexion contracture / hip flexor spastic


Hip flexion contracture
Knee
Quadriceps aktif mengontrol knee flexion
Insufficiency knee flexion, knee hyperextension

Excessive knee flexion
Kelemahan knee extensor



Not due to muscle weakness
Excessive ankle plantar flexion, knee pain, quadriceps spasticity, knee extension contracture
Knee flexion contracture, hamstrings spasticity
Ankle
Pretibial ms. To control ankle plantar flexion
Excessive (terlalu cepat) plantar flexion
Weak ankle dorsifleksor
Plantar flexor spasticity, ankle plantar flexion contracture.

Mid stance
Sendi
Otot Yang Aktif
Deviasi Gait
Penyebab Muskular
Kemungkinan Penyebab Lain
Hip
Gluteus medius & minimus / tensor fascia latae
Mengkonter gaya hip adduction
Pelvic drop contra lateral atau badan condong ipsi lateral

Excessive hip flexion

Badan condong ke belakang
Kelemahan hip abductor




Umum, bukan karena kelemahan otot
Kelemahan hip extensor

Hip pain (antalgic gait), Hip abduction contracture ipsi lateral (Trendelen)



Hip flexion atau iliotibial band contracture

Hip flexion contracture
Knee
Quadriceps
Mengontrol gaya knee flexion, hanya saat awal mid stance.
knee hyperextension

Insufficiency knee extension
Kelemahan knee extensor

Soleus weakness
Excessive ankle plantar flexion (karena spastisitas / contracture)
Knee flexion contracture, hamstring spasticity
Ankle
Soleus / gastrocnemius
Mengotrol anterior advancement of tibia
Insufficiency ankle dorsiflexion

Excessive ankle dorsiflexion
Umum bukan karena kelemahan otot selama tahap ini
Kelemahan soleus
Ankle plantar flexion contracture / spasticity


Flexed knee gait (karena knee flexion contracture, hamstring spasticity)

Terminal stance
Sendi
Otot Yang Aktif
Deviasi Gait
Penyebab Muskular
Kemungkinan Penyebab Lain
Hip
Tensor fascia latae serabut anterior gerak hip ekstension dan mengkonter gaya hip adduction

Insufficiency hip extension

Pelvic drop contra lateral atau badan condong ipsi lateral
Umumnya bukan karena kelemahan otot
Kelemahan hip abduction

Hip flexor contracture / spasticity

Hip pain (antalgic gait), Hip abduction contracture ipsi lateral (Trendelen)

Knee
Popliteus, cegah knee hyperextension
knee hyperextension
Insufficiency knee extension
Kelemahan knee extensor
Kelemahan soleus
Excessive ankle plantar flexion (karena spastisitas / contracture)
Knee flexion contracture, hamstring spasticity
Ankle
Soleus / gastrocnemius
Mengotrol gaya ankle dorsiflexion
Excessive ankle plantarflexion Excessive ankle dorsiflexion
Bukan kelemahan otot
Kelemahan soleus
Ankle plantarflexion contracture / spasticity
Flexed knee gait (karena knee flexion contracture, hamstring spasticity


Pre swing
Sendi
Otot Yang Aktif
Deviasi Gait
Penyebab Muskular
Kemungkinan Penyebab Lain
Hip
Adductor longus, gerak flection dan mengontrol hip abduction menghasilkan pamindahan berat badan ke ekstremitas contra lateral
Rectus femoris, gerak hip flexion dan mengontrol derajat knee flexion
Excessive hip flexion

Umumnya bukan karena kelemahan otot

Hip flexion / iliotibial band contracture
Spasticity hip flexor, hip pain
Knee
Popliteus / gastrocnemius, gerak knee flexion
Rectus femoris, mengontrol derajat knee flexion

Insufficiency knee flexion
Kelemahan knee extensor

Knee pain, knee extension contracture, quadriceps spasticity
Ankle
Soleus,  gastrocnemius: pada awal pre swing untuk anterior acceleration tibia.
Tibialis anterior, ekstensor digitorum longus, akhir pre swing mencegah plantar fleksi berlebih.
Excessive ankle dorsiflexion
Kelemahan soleus
AFO dengan rigit ankle, flexed knee gait (karena knee flexion contracture, hamstring spasticity)

Initial swing
Sendi
Otot Yang Aktif
Deviasi Gait
Penyebab Muskular
Kemungkinan Penyebab Lain
Hip
Iliacus / adductor longus: hip flexion

Gracilis / sartorius: Hip &  flexion
Insufficiency hip flexion


Circumduction hip



Badan condong ke contra lateral
Kelemahan hip flexor


Kelemahan hip flexor



Kelemahan hip flexor
Lemahnya kontrol hip flexor akibat CNS Lesion


Knee ekstension contracture: kelemahan ankle dorsifleksor: Excessive ankle plantarflexion
Kelemahan hip abductor (stance limb):
Knee extension contracture (swing limb):
kelemahan ankle dorsifleksor (swing limb): Excessive ankle plantarflexion (swing limb):

Knee
Biceps femoris (caput brevis) : knee flexion
Insufficient hip flexion
Kelemahan hip flexor
Quadriceps spasticity: knee pain: knee extension contracture.
Ankle
Tibialis anterior, extensor digit longus, ankle dorsiflexion
Excessive ankle plantar flexion
Umumnya bukan karena faktor otot
Ankle plantar flexion contracture

Mid swing
Sendi
Otot Yang Aktif
Deviasi Gait
Penyebab Muskular
Kemungkinan Penyebab Lain
Hip
Biceps femoris (caput brevis), semimembranosus: pada mendekati tahap akhir mid swing untuk decelerate femur.
Excessive hip flexion



Insufficient hip flexion


Ipsilateral pelvic drop / tubuh condong ke contralateral.


Excessive hip abduction.

Circumduction of hip

Kelemahan ankle dorsiflexor dikompensasi hip flexion.
Kelemahan hip flexor
.

Kelemahan hip abductor tungkai berdiri.



Kelemahan hip flexor (diganti adductor).
Kelemahan hip flexor

Hip flexion contracture: Excessive ankle plantarflexion

Kurangnya kontrol hip flexor akibat CNS lesion
Hip pain (antalgic gait): contra lateral hip abduction contracture (trendelen gait)
Hip adductor spasticuty.

Knee extension contracture: kelemahan ankle dorsifleksi:
Excessive ankle plantarfleksi.

Knee
Biceps femoris (caput brevis)
Insufficient knee flexion
Kelemahan hip flexor

Knee extension contracture.
Ankle
Tibialis anterior, extensor digit. Longus, ankle dorsi flexion
Excessive ankle plantarfleksi
Kelemahan ankle dorsifleksi
Ankle plantarfleksors spasticity / contracture

Terminal swing
Sendi
Otot Yang Aktif
Deviasi Gait
Penyebab Muskular
Kemungkinan Penyebab Lain
Hip
Biceps femoris (caput longus), semimembranosus, Semitendinosus: decelerasi femur
Gluteus maximus: decelerasi femur
Insufficient hip flexion

Circumduction of hip
Excessive hip adduction

Kelemahan hip flexor

Kelemahan hip flexor
Kelemahan ankle dorsifleksi
Kelemahan hip flexor (dan adductor pengganti)

Kurangnya kontrol hip flexor akibat CNS lesion

Knee extension contracture; Knee extension contracture


Hip adductor spasticity
Knee
Vastus medialis, intermedius, lateralis
Biceps femoris (caput longus) semimembranosus, semitendinosus: mengontrol knee extension berlebihan
Insufficient knee flexion
Kelemahan knee extensor

Hamstring Spasticity:
Knee flexion contracture
Ankle
Tibialis anterior, extensor digit. Longus: ankle dorsiflexion
Excessive ankle plantarflexion
Kelemahan ankle dorsifleksi
Kelemahan knee extensor




Dari analisis berjalan tersebut dapat diindikasikan kebutuhan test dan pengukuran lain. Bila dijumpai kelemahan otot maka diperlukan test dan pengukuran kekuatan otot. Bila ditemukan pemendekan otot diperlukan tes panjang otot. Bila ditemukan contracture perlu test integritas dan mobilisasi sendi, dan lain-lain.
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel