SELAMAT DATANG DI BLOG-NYA FISIOTERAPIS INDONESIA..........................................................................SEMUA TENTANG FISIOTERAPI ADA DISINI

9 Panduan Myofascial release technique (MRT)

Myofascial release technique (MRT) merupakan prosedur yang mengkombinasikan tekanan manual terhadap bagian otot yang spesifik dan penggunaan stretching secara simultan (Scheneider, 2005). Myofascial release technique terdapat 4 level. Empat level MRT dideskripsikan berdasarkan posisi, ketegangan, dan aktivitas jaringan yang diintervensi oleh praktisioner yang menggunakan kontak manual.

MRT level 1merupakan penanganan pada jaringan lunak dengan tidak ada ketegangan yang terlibat dan pasien dalam keadaan pasif. Kontak manual praktisioner bergerak secara longitudinal sepanjang serabut otot dari distal ke proksimal dan pada arah aliran darah yang menuju jantung.

MRT level 2 dilakukan dengan meletakkan jaringan lunak yang akan dintervensi pada keadaan menegang, pasien dalam keadaan pasif, kemudian manual kontak praktisioner bergerak secara longitudinal sepanjang serabut otot, dari distal ke proksimal, dan pada arah ke jantung.

Pada MRT level 3 dan 4, disertai dengan gerakkan dan otot dipendekkan. Praktisioner memberikan manual kontak yang statik hanya pada distal lesi, kemudian daerah lesi ditarik oleh kontak dengan memanjangkan jaringan lunak menggunakan gerakan pasif atau aktif.

Pada MRT level 3, pasien dalam keadaan pasif dan jaringan lunak yang diintervensi digerakkan oleh praktisioner sepanjang range of motion (ROM) dari posisi terpendek ke posisi yang terpanjang.

Level MRT yang terakhir adalah MRT level 4. MRT level 4 pasien menggerakakan jaringan yang diintervensi secara aktif sepanjang ROM dari posisi terpendek ke posisi yang terpanjang.

Pada MRT
level 3 dan 4, praktisioner berusaha untuk menjaga manual kontak dalam posisi statik dan hanya jaringan yang bergerak. Gerakan dari struktur myofascial sepanjang ROM dari posisi terpendek ke posisi terpanjang dibawah manual kontak yang statik memberikan sebuah teknik pelepasan yang akan membongkar perlengketan jaringan dan mengembalikan gerakan.

Komponenn gerakan pada MRT level 3 dan 4 merupakan komponen utama yang membedakaan level MRT yang diakukan (Mock, 2005)

 Prinsip umum MRT level 3 dan 4
Ada beberapa prinsip dasar yang memungkinkan MRT level 3 dan 4 dapat dilakukan pada grup otot dan cedera muskuloskletal.

Beberapa panduan akan
memberikan hasil yang menguntungkan
diantaranya (Mock, 2005).,
(1) myofascial release technique tidak boleh
dilakukan jika terdapat peradangan
(2) myofascial release technique tidak boleh
dilakukan stiap hari. Idealnya MRT diberikan
seminggu dua kali. Hal ini dimaksudkan untuk
memberikan waktu untuk perbaikan pada
jaringan agar tidak sensitif ketika dilakukan
penanganan selanjutnya
(3) manual kontak yang diberikan harus
lembut, melebar dan datar, jempol dalam
posisi datar lebih bisa dipakai pada banyak
area dengan traksi dan konrol yang diberikan
oleh
(4) jaringan harus digerakkan secara
longitudinal, bekerja dengan cara transversal
melintang serabut otot akan menyebabkan
peningkatan rasa tidak nyaman yang dialami
pasien
(5) ketika bekerja secara longitudinal
sepanjang otot, manual kontak harus
menyesuaikan kontur otot untuk mencegah
agar otot tidak terlepas dari manual kontak, hal
ini akan menyebabkan rasa yang tidak nyaman
pada pasien
(6) lotion mungkin digunakan untuk
meminimalkan sensasi pada kulit yang di ulur
(7) gerakan aktif atau pasif secara pada ROM
penuh harus dilakukan secara perlahan
(8) praktisioner harus selalu bekerja dengan
kontak yang bergerak pada arah dari jantung
untuk meminimalkan tekanan balik pada katup
vena untuki mencegah memar pada pasien
(9) praktisioner harus melakukan 3 sampai 5
kali pengulangan setiap kali kedatangan

references

Schneider M., 2005; Tennis Elbow; dalam
Ferguson Whyte ,dan Robert Garwin, 2004;
Clinical Mastery in the treatment of Myofascial
Pain, Lippincott Williams & Wilkins, Maryland
Mock L., 2005; Carpal Tunnel Syndrome, dalam
Ferguson Whyte ,dan Robert Garwin, 2004;
Clinical Mastery in the treatment of Myofascial
Pain, Lippincott Williams & Wilkins, Maryland
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

EFEK TERAPI MICROWAVE DIATERMI

MWD (Micro Wave Diatermy)
Micro Wave Diatermy merupakan seatu pengobatan mengguanakan stressor fisis berupa energi elektromagnetik yang dihasilkan oleh arus bolak balik frekwensi 2450 MHz dengan panjang gelombang 12,25 cm.

1) Produksi dan Penerapan
Prinsip produksi gelombang mekro pada dasarnya sama untuk arus listrik bolak-balik frekwensi tinggi yang lain, hanya untuk
memperoleh frekwensi yang lebih tinggi lagi diperlukan seatu tabung khusus yang dsebut magnetron. Magnetron ini memerlukan waktu
untuk pemanasan, sehingga output belum diperoleh segera setelah mesin dioperasikan.

Untuk itu mesin dilengkapi dengan
tombol pemanasan agar mesin tetap dalam posisi dosis nol antara pengobatan satu dengan yang berikutnya. Pada posisi dosis nol
antara pengobatan satu dengan yang berikutnya. Pada posisi tersebut tabung tetap
mendapatkan arus listrik, tetapi dosis ke pasien nol, sehingga terhindar dari seringnya perubahan panas.

Arus dari mesin mengalir ke electrode melalui co-axial cable, yaitu suatu kabel yang terdiri dari serangkaian kawat di tengah yang
diselubungi oleh selubung logam yang dikelilingi suatu benda isolator, kawat dan selubung logam tadi berjalan sejajar dan
membentuk sebagai kabel output dan kabel bolak-balik dari mesin/. Konstuksi kabel semacam ini diperlukan untuk arus frekwensi
tertentu pula. Co-axial cable ini menghantarkan arus listrik ke sebuah area dimana gelombang mikro dipancarkan. Area ini dipasang suatu reflector yang
dibungkus dengan bahan yangdapat meneruskan gelombang elektromagnetik. Konstruksi tubuh yang disebut emitter, director atau applicator atau sebagai electrode.

2) Penerapan pada Jaringan
Emitter yang sering juga disebut electrode atau magnetode terdiri dari serial, reflector, dan pembungkus. Emitter ini
bermacam-macam bentuk dan ukurannya serta sifat energi elektromagnetik yang dipancarkan. Antara emitter dan kulit di dalam tekhnik aplikasi terdapat jarak udara. Pada emitter yang berbentuk bulat sedang maka medan elektromagnetik yang
dipancarkan berbentuk sirkuler dan paling padat di daerah tepi.

Pada bentuk segiempat medan elektromagnetik yang dipancarkan berbentuk oval dan paling padat di daerah daerah tengah.

3) Efek Fisiologi
1. Perubahan temperature
a. Reaksi lokal jaringan
· Meningkatkan metabolisme, sel-sel local
± 13 % tiap kenaikan temperature 1o C.
· Meningkatkan vasomotiom sphincter
sehingga timbul homeostatic local dan
akhirnya terjadi vasodilatasi local.
b. Reaksi general
Mungkin dapat terjadi kenaikan
temperature, tetapi perlu dipertimbangkan karena penetrasinya dangkal ± 3
cm dan aplikasinya local.
c. Consensual efek
Timbulnya respon panas pada sisi
kontralateral dari segmen yang sama. Dengan
penerapan Micro Wave Diatermy, penetrasi dan perubahan temperature
lebih terkonsentrasi pada jaringan otot, sebab
jaringan otot lebih banyak mengndung cairan dan darah.
2. Jaringan Ikat
Meningkatkan elastisitas jaringan ikat lebih baik seperti jaringan collagen kulit, otot,
tendon, ligament dan kapsul sendi akibat menurunya viskositas matriks jaringan
tanpa menambah panjang matriks, tetapi terbatas pada jaringan ikat yang letak
kedalamannya ± 3 cm
3. Jaringan otot
Meningkatkan elastisitas jaringan otot dan menurunkan tonus melalui normalissi
nocisensorik.
4. Jaringan Saraf
Meningkatkan elastisitas pembungkus jaringan saraf, meningkatkan konduktivitas
saraf ambang rangsang saraf.


4) Efek Terapeutik
1. Penyembuhan luka pada jaringan lunak Meningkatkan proses perbaikan atau reparasi jaringan secara fisiologi
2. Nyeri, hipertonus dan gangguan vaskularissi Menurunkan nyeri, normalitas
tonus otot melalui efek sedative, serta perbaikan metabolisma.

1. Kontraktur jaringan lemak
Dengan peningkatan elastisitas jaringn lemak, maka dapat mengurangi proses
kontraktur jaringan. Ini dimasukkan sebagai persiapan sebelum pemberian latihan.
2. Gangguan konduktifitas dan threshold jaringan saraf Apabila elastisitas dan
threshold jaringan saraf semakin membaik, maka conduktifitas jaringan saraf akan membaik pula. Proses ini melalui efek fisiologi.
5) Indikasi
1. Kondisi inflamasi subkutaneus dan kronik
2. Spasme otot, jaringan collagen.
3. Kelainan tulang, sendi, otot.
4. Kelainan saraf perifer (neuritis)


6) Kontra Indikasi
1. Pemakaian Implant pacemaker
2. Metal di dalam jaringan dan permukaan jaringan
3. Gangguan sensasi panas dan adanya perdarahan
4. Malignant Tumor
5. Pasien dengan gangguan control gerakan atau tidak bisa bekerja sama.
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

EFEK FISIOLOGIS dan EFEK TERAPI MICROWAVE DIATERMI

MWD (Micro Wave Diatermy)
Micro Wave Diatermy merupakan seatu pengobatan mengguanakan stressor fisis berupa energi elektromagnetik yang dihasilkan oleh arus bolak balik frekwensi 2450 MHz dengan panjang gelombang 12,25 cm.

1) Produksi dan Penerapan
Prinsip produksi gelombang mekro pada dasarnya sama untuk arus listrik bolak-balik frekwensi tinggi yang lain, hanya untuk
memperoleh frekwensi yang lebih tinggi lagi diperlukan seatu tabung khusus yang dsebut magnetron. Magnetron ini memerlukan waktu
untuk pemanasan, sehingga output belum diperoleh segera setelah mesin dioperasikan.

Untuk itu mesin dilengkapi dengan
tombol pemanasan agar mesin tetap dalam posisi dosis nol antara pengobatan satu dengan yang berikutnya. Pada posisi dosis nol
antara pengobatan satu dengan yang berikutnya. Pada posisi tersebut tabung tetap
mendapatkan arus listrik, tetapi dosis ke pasien nol, sehingga terhindar dari seringnya perubahan panas.

Arus dari mesin mengalir ke electrode melalui co-axial cable, yaitu suatu kabel yang terdiri dari serangkaian kawat di tengah yang
diselubungi oleh selubung logam yang dikelilingi suatu benda isolator, kawat dan selubung logam tadi berjalan sejajar dan
membentuk sebagai kabel output dan kabel bolak-balik dari mesin/. Konstuksi kabel semacam ini diperlukan untuk arus frekwensi
tertentu pula. Co-axial cable ini menghantarkan arus listrik ke sebuah area dimana gelombang mikro dipancarkan. Area ini dipasang suatu reflector yang
dibungkus dengan bahan yangdapat meneruskan gelombang elektromagnetik. Konstruksi tubuh yang disebut emitter, director atau applicator atau sebagai electrode.

2) Penerapan pada Jaringan
Emitter yang sering juga disebut electrode atau magnetode terdiri dari serial, reflector, dan pembungkus. Emitter ini
bermacam-macam bentuk dan ukurannya serta sifat energi elektromagnetik yang dipancarkan. Antara emitter dan kulit di dalam tekhnik aplikasi terdapat jarak udara. Pada emitter yang berbentuk bulat sedang maka medan elektromagnetik yang
dipancarkan berbentuk sirkuler dan paling padat di daerah tepi.

Pada bentuk segiempat medan elektromagnetik yang dipancarkan berbentuk oval dan paling padat di daerah daerah tengah.

3) Efek Fisiologi
1. Perubahan temperature
a. Reaksi lokal jaringan
· Meningkatkan metabolisme, sel-sel local
± 13 % tiap kenaikan temperature 1o C.
· Meningkatkan vasomotiom sphincter
sehingga timbul homeostatic local dan
akhirnya terjadi vasodilatasi local.
b. Reaksi general
Mungkin dapat terjadi kenaikan
temperature, tetapi perlu dipertimbangkan karena penetrasinya dangkal ± 3
cm dan aplikasinya local.
c. Consensual efek
Timbulnya respon panas pada sisi
kontralateral dari segmen yang sama. Dengan
penerapan Micro Wave Diatermy, penetrasi dan perubahan temperature
lebih terkonsentrasi pada jaringan otot, sebab
jaringan otot lebih banyak mengndung cairan dan darah.
2. Jaringan Ikat
Meningkatkan elastisitas jaringan ikat lebih baik seperti jaringan collagen kulit, otot,
tendon, ligament dan kapsul sendi akibat menurunya viskositas matriks jaringan
tanpa menambah panjang matriks, tetapi terbatas pada jaringan ikat yang letak
kedalamannya ± 3 cm
3. Jaringan otot
Meningkatkan elastisitas jaringan otot dan menurunkan tonus melalui normalissi
nocisensorik.
4. Jaringan Saraf
Meningkatkan elastisitas pembungkus jaringan saraf, meningkatkan konduktivitas
saraf ambang rangsang saraf.


4) Efek Terapeutik
1. Penyembuhan luka pada jaringan lunak Meningkatkan proses perbaikan atau reparasi jaringan secara fisiologi
2. Nyeri, hipertonus dan gangguan vaskularissi Menurunkan nyeri, normalitas
tonus otot melalui efek sedative, serta perbaikan metabolisma.

1. Kontraktur jaringan lemak
Dengan peningkatan elastisitas jaringn lemak, maka dapat mengurangi proses
kontraktur jaringan. Ini dimasukkan sebagai persiapan sebelum pemberian latihan.
2. Gangguan konduktifitas dan threshold jaringan saraf Apabila elastisitas dan
threshold jaringan saraf semakin membaik, maka conduktifitas jaringan saraf akan membaik pula. Proses ini melalui efek fisiologi.
5) Indikasi
1. Kondisi inflamasi subkutaneus dan kronik
2. Spasme otot, jaringan collagen.
3. Kelainan tulang, sendi, otot.
4. Kelainan saraf perifer (neuritis)


6) Kontra Indikasi
1. Pemakaian Implant pacemaker
2. Metal di dalam jaringan dan permukaan jaringan
3. Gangguan sensasi panas dan adanya perdarahan
4. Malignant Tumor
5. Pasien dengan gangguan control gerakan atau tidak bisa bekerja sama.
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

3 Cara Mencegah Nyeri Punggung

Nyeri punggung termasuk dalam keluhan yang muncul dan biasanya dipicu oleh aktivitas fisik, kegemukan atau
gangguan pada persendian. Meski posisi berbaring bisa mengisirahatkan punggung namun alas tidur yang salah justru akan
menyebabkan keluhan nyeri punggung terus berulang. "Tidur telentang merupakan posisi
yang paling sedikit membebani punggung, tetapi alas tidurnya sebaiknya jangan yang terlalu empuk karena alas tidur yang akan
mengatur posisi tulang belakang," kata dr.Muki Partono, Sp.OT, ahli ortophedi dari RS.Puri Indah Jakarta. Kasur atau alas tidur harus menyediakan dukungan yang benar,
rata, dan tidak melesak ke dalam. Dengan kata lain, jika Anda tidur di kasur yang terlalu empuk, risiko Anda untuk menderita nyeri
punggung lebih besar.

"Tidak sedikit pasien nyeri punggung yang keluhannya berkurang setelah mereka tidur di lantai yang keras. Kasur yang terlalu empuk membuat otot-otot tidak bisa rileks," kata Muki. Untuk mencegah nyeri punggung,
tidurlah dalam posisi telentang dengan mengganjal bantal di bawah lutut. Atau, dalam posisi miring letakkan bantal di antara kedua paha.

Cara lain untuk mencegah dan mengatasi nyeri punggung adalah melakukan peregangan saat bangun tidur. Setelah berbaring tidur selama lebih dari 8 jam lalu tiba-tiba bangkit berdiri bisa menimbulkan cedera. Sebelum bangun, perlahan-lahan
regangkan lengan Anda ke atas kepala, kemudian tarik lutut ke arah dada secara bergantian. Apabila Anda telah siap untuk duduk, bergulirlah ke sisi tempat tidur dan
gunakan lengan untuk membantu mengangkat tubuh Anda. Setelah berdiri letakkan tangan pada pantat lalu pelan-pelan condongkan tubuh ke belakang dan depan untuk meregangkan tulang punggung.

Bila nyeri punggung yang Anda rasakan berlangsung lebih dari dua minggu dan semakin parah, segeralah ke dokter untuk
penanganan lebih lanjut.

Sumber : Kompas.com -
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

5 Jenis Latihan Fisioterapi Pada Stroke

Kompetensi Fisioterapi Dengan
Stroke
Dari:Jowir
Kumpulan Makalah Ft

Gambaran Umum :

Stroke adalah kematian sel otak yang mendadak atau tiba-tiba oleh karena gangguan sirkulasi darah ke otak. ketika asupan darah keotak lemah, oksigen dan nutrisi yang penting untuk otak tidak dapat disalurkan. Akibatnya tenjadi ketidak normalan fungsi otak. Gangguan aliran darah keotak dapat terjadi oleh karena blokade atau kerusakan dari pembuluh arteri.

Stroke dapat disebabkan oleh trombosis, emboli, perdarahan subarachnoid dan lain-lain yang menimbulkan hemiplegia.

Pemberian latihan pada pasien stroke akibat trombosis dan emboli jika tidak ada komplikasi lain dapat dimulai 23 hari setelah serangan dan bilamana terjadi perdarahan subarachnoid dimulai setelah 2 minggu. Pada stroke karena trombosis atau emboli pada penderita infark miokard tanpa komplikasi, program latihan dapat dimulai setelah minggu ke tiga, tetapi jika segera menjadi stabil dan tidak didapatkan aritmia, latihan yang gentle dapat dimulai pada hari kesepuluh. Pada stroke yang berat lebih aman menunggu sampai tercapai complete stroke kemudian baru dimulal program latihan, meskipun hanya gerakan pasif saja yang diberikan. Jika proses penyebabnya dicurigai berasal dari arteri karotis ditunggu 18 s/d 24 jam dan jika penyebabnya dari sistem vertebrobasiler
tunggu sampai 72 jam sebelum memastikan
tidak ada perburukan lagi.

Ada beberapa bentuk metode atau tipe latihan yang dapat diaplikasikan oleh pasien stroke diantaranya adalah :

1. Conservative/Tradisional :
Metode latihan ini terkesan umum dan latihan-latihannyapun didasarkan penekanan pada pencegahan & perawatan kontraktur dengan mempertahankan luas gerak sendi atau latihan Range Of Motion (ROM exercises).

Memperkenalkan mobilisasi dini kepasien dengan cara pengoptimalan sisi yang sehat untuk mengkompensasi sisi yang sakit. Tipe jenis latihannya adalah penguatan dengan
menggunakan tahanan.

2.Propioseptive Neuromuscular Fascilitation (Metode PNF) Metode latihan ini bertujuan untuk merangsang respon mekanisme neuromuskuler melalui stimulasi proprioseptor. Bertujuan memfasilitasi
pola gerakan sehingga mencapai "functional
relevant" dengan tujuan memfasilitasi irradiasi
impuls untuk tubuh bagian lain yang
berhubungan dengan gerakan utama.
Menggunakan rangsangan proprioseptif
(streetching/peregangan otot, active movement/gerakan sendi dan resisted/tahanan terhadap kontraksi otot sebagai input sensorik yang didesain untuk memfasilitasi kontraksi otot spesifik)Tehnik-tehnik dari PNF dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Pemberian tahanan maksimal
2. Traksi & aproksimasi sendi
3. Quick stretch
4. Cutaneous pressure (hold & grip)
5. Gerakan sinergis (untuk memperkuat gerakan
yang lemah)
6. Mempergunakan aba-aba yang sederhana
(verbal)
7. Pola gerak : spiral - diagonal

3. Movement Therapy/Brunnstorm
Konsepnya :
Reedukasi otot menggunakan latihan refleks.
Dasar teori :
Kerusakan susunan syaraf pusat/SSP telah
menyebabkan evolusi terbalik & regresi kembali
ke pola gerak filogenetik yang lebih tua (terjadi
sinergi dan refleks primitive). Sinergi & refleks
primitive ini dianggap sebagai bagian normal dari
proses penyembuhan sebelum terbentuk pola
baru.
Kombinasi eksteroseptif & proprioseptif
Tehnik :
1. Memberikan tahanan pada ekstremitas yang
normal, tapping (input sensoris) & tehnik
relaksasi
2. Diberikan sesuai dengan 6 stadium
penyembuhan Twitchell :Flasiditas, Spastisitas
dan onset sinergi, Peningkatan spastisitas &
beberapa control sinergi volunteer, Penurunan
spastisitas & peningkatan control sinergi
volunteer, Tidak adanya control fungsi motorik
dari sinergi, Gerakan sendi individual
3. Tahapan tehnik latihan : Merangsang gerak
sinergis (Associated Reaction Pathological Tonic
Neck & Labyrinthine reflex)
Mengontrol gerakan sinergi :
- Latihan terlepas dari pengaruh pola sinergis
(dengan gerakan kombinasi pola sinergis
antagonis)
- Merangsang fungsi tangan & jari tangan secara
volunteer, ada beberapa tahapan yang harus
diperhatikan dalam latihan ini diantaranya
adalah :
Tahap 1-3 : merangsang control volunteer
sinergis & memakai gerakan ini untuk aktifitas
stabilisasi obyek /àyang bertujuan (ROM bahu,
abd volunteer, untuk ADL memegang,
menjinjing, dll)
Tahap 4-5 : mengontrol flexor & ekstensor sinergi
sehingga penderita dapat melakukan aktifitas
fungsional
Tahap 6 : ketrampilan tangan dengan melatih
fungsi tangan

4. Neurodevelopmental Technique/Bobath
Dasar teori :
Pola gerakan patologis tidak boleh digunakan
untuk latihan oleh karena penggunaan berulang
jalur eferen patologis dapat menyebabkan
ekspansi ke jalur normal. Menggunakan konsep
hirarki fungsi SSP manusia, dengan komponen
yang saling integral : input sensorik & system
feedback motorik. Konsep motor relearning
mungkin dapat berurutan seperti pada
perkembangan normal dan Berlawanan dengan
Brunnstorm & PNF.
Prinsip :
1. Kontrol pola spastisitas dengan menghambat
pola abnormal
2. Fasilitasi pola normal / refleks postural normal
(righting & equilibrium reaction)
Tujuan :
1. Stabilisasi tonus postural
2. Inhibisi pola abnormal / gerakan abnormal
3. Fasilitasi refleks otomatis & pola gerakan
normal yang lebih selektif & persiapan
ketrampilan fungsional
Tehnik :
1. Reflex Inhibiting Posture/pattern (RIP) :
meletakkan anggota gerak dalam posisi pola
antispastik
2. Key Point of Control (KPOC) : menghambat
spastisitas & pola gerak abnormal sekaligus
memberi fasilitasi pola gerak yang normal
a. Proximal KPOC (shoulder, hip dan trunk)
b. Distal KPOC (tangan & kaki) Tidak
menganjurkan pemakaian alat bantu jalan, oleh
karena latihan NDT menekankan penggunaan &
weight bearing pada sisi lumpuh
3. Push-pull technique : tehnik untuk
menimbulkan ekstensi terutama pada lengan di
mana fleksi lebih dominan
4. Placing & holding : mempertahankan posisi
dalam RIP position
5. Tapping : pada otot antagonis dari otot yang
spastik


5. Sensory Motor Approach
Fasilitasi/inhibisi pergerakan melalui stimulasi
proprioceptor, exteroceptor atau enteroceptor.
Teori :
Deficit motorik adalah hilangnya fungsi yang
terjadi dipandang dari sudut pandang
yangàselama perkembangan sensorimotorik
normal berhubungan dengan input sensorik
Stimulasi kulit untuk fasilitasi stabilisasi &
mobilisasi otot :
1. Stimulasi free nerve ending : Fasilitasi pada
kulit di atas otot stabilisator 30 menit sebelum
terapi untuk brushing yang tujuannya
memfasilitasi gamma motor neuron dengan
tujuan untuk stabilitas otot proksimal sendi
(biasanya menggunakan electrically powered
brush), Aplikasi dengan es (suhu 12-17derajat F)
3-5 menit memfasilitasi C fiber
2. Fasilitasi mobilizing muscle : Quick stroking /
icing pada tangan, kaki &/bibir
3. Stimulasi otot stabilisator : Electric brushing/
repetitive icing dengan tujuan stimulasi
stabilisator secondary muscle & inhibisi spastic
mobilizing muscle
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

FISIOTERAPI POST STROKE

Gerak tubuh yang salah pascastroke bisa menimbulkan masalah kesehatan yang lain.

Syaiful Junandar sebut saja begitu terpincang berjalan. Sementara itu, tangan kanannya menekuk kaku seolah orang patah lengan. ''Saya kena stroke separuh badan kanan,'' ungkap bapak 60 tahunan ini.

Sejak kena stroke setahun silam, Syaiful tak lagi bisa mandiri melakukan aktivitas keseharian. Memasang baju pun ia butuh bantuan. ''Stroke membatasi gerak saya,'' kata kakek dua cucu ini dengan suara yang sedikit pelo.Untuk memulihkan fungsi tubuhnya, Syaiful mengikuti anjuran dokter. Tiap hari, dua kali ia fisioterapi di rumah. ''Saya mendapat home program dan evaluasi sebulan sekali,'' ujar penderita stroke yang sudah tidak memakai tongkat untuk membantunya berjalan.

Fisioterapi pascaserangan stroke memang jurus paling ampuh untuk memperbesar kemungkinan pulihnya seseorang. Meski begitu, banyak orang yang melakukannya tidak dengan sungguh-sungguh. ''Semestinya, segera setelah dokter menyarankan terapi, pasien langsung mengerjakannya,'' cetus Daniel A Nugroho, fisioterapis dari Eastwest Phisiotherapy and Rehabilitation.

Gerak kompensasi
Tanpa fisioterapi penderita stroke seperti Syaiful mungkin saja bisa kembali berjalan dan menggerakkan tangannya yang serasa lemah ( flacid ) atau kebas. Namun, sebetulnya, yang ia lakukan hanyalah gerak kompensasi. ''Sebab tubuh akan selalu mencari jalan agar bisa survive ,'' jelas Daniel. Tak heran jika gerakan tubuh pasien stroke terlihat sangat khas. Bahkan orang awam sekalipun bisa mengenali gerak orang stroke. ''Itu karena ia melakukan gerak tubuh yang tidak benar,'' kata Daniel.

Sesaat, kemampuan bergerak akan membuat lega penderita stroke dan keluarga. Mereka akan mencatatnya sebagai sebuah kemajuan. ''Padahal, itu justru bom waktu sebelum timbul masalah kesehatan lain,'' papar alumnus Akademi Fisioterapi Departemen Kesehatan, Solo, Jawa Tengah ini. Daniel menjelaskan saat stroke otak bisa saja kehilangan memori gerak. Tetapi, otak kemudian menemukan cara lain untuk bisa menunjang mobilitas tubuh. ''Ini artinya otak mendapatkan pesan untuk melakukan gerak kompensasi, gerakan yang tidak semestinya begitu.''

Jika dibiarkan, bertahun-tahun kemudian, gerak kompensasi akan terekam menetap di otak dan membentuk posisi tubuh yang salah. Posisi tubuh yang keliru bisa mencederai bagian tubuh lainnya. ''Gerak tangan serupa orang patah lengan jika dipertahankan begitu adanya akan mendatangkan sakit pinggang dan menaikkan otot bahu dan merusak jaringan lunak ( labrum ) bahu,'' jelas Daniel.

Bergerak dengan benar
Dua-tiga bulan pertama, lanjut Daniel, adalah waktu paling krusial dalam pemulihan pasien stroke. Saat itu, pasien stroke biasanya masih merasa lemah. ''Mereka akan masuk ke fase spastic alias kaku jika tidak distimulasi.''Hanya saja ada beberapa hal yang menjadi faktor penyulit stimulasi. Di antaranya, jika pasien terpengaruh bagian otak yang mengatur bicara. Pun, jika orientasinya yang terimbas. ''Lebih mudah dipulihkan andaikan gerak saja yang bermasalah,'' urai Daniel.

Dalam dua sampai tiga bulan pertama, terapi difokuskan pada pengembalian kemampuan kontrol tubuh. Ini adalah modal untuk bisa bergerak dengan benar. ''Kontrol tubuh yang baik juga akan menghindari pasien dari kemungkinan oleng terjatuh saat mendorong pintu atau menunduk mengambil barang,'' tutur Daniel. Kontrol tubuh dapat diraih dengan beragam latihan keseimbangan. Penempatan anggota tubuh pada posisi yang benar adalah target latihannya. ''Ini akan menstabilkan lutut dan menguatkan otot penyangga badan ( core ),'' ucap Daniel yang secara berkala mendapatkan pelatihan fisioterapi dari instruktur besertifikat internasional.

Setelah kontrol tubuh berhasil dipulihkan, terapis akan mengajak pasien seperti Syaiful beranjak ke program berikutnya. Kali ini, perhatian dipusatkan pada latihan gerak. ''Gerakan yang benar membuat sendi berfungsi dengan benar hingga mengurangi nyeri, meminimalkan komplikasi,'' cetus Daniel.

Agar bisa kembali bergerak dengan benar, penderita stroke juga dilatih motorik halusnya. Mereka diajak untuk melakukan gerakan menjapit dan memegang. `'Yang dilihat bukan hasilnya tetapi proses menjapit dan memegangnya,'' ucap Daniel.

Saat evaluasi, itulah yang dilihat oleh terapis. Dari tidak bisa bergerak menjadi bisa saja tidak cukup. Terapis akan membantu pasien mengenali benar-tidaknya mereka melakukan gerak. `'Sebab, itu yang penting demi kesehatan tubuh secara utuh,'' tandas Daniel.

Terapi organ bicara
Kebanyakan penderita stroke mengalami gangguan sebelah badan, kiri ataupun kanan. Sebagian kecil terkena setengah badan, atas atau bawah. `'Tim rehabilitasi akan membantu memulihkan kemampuan gerak yang hilang akibat stroke,'' jelas Daniel.

Sementara itu, untuk mengembalikan kemampuan berkomunikasi lisan, terapis akan bekerja sama dengan terapis wicara. Saat fisioterapi, pasien diajak untuk melatih otot-otot pernapasannya, salah satunya dengan cara meniup. `'Sedangkan pelafalan yang benar dipandu oleh terapis wicara,'' tutur Daniel.

Pasien stroke kerap kali mengalami gangguan kontraksi otot leher, bibir, lidah, dan tenggorokan. Tak jarang, lidah pasien menjadi mencong ke kanan atau kiri akibat stroke. `'Stimulasinya bisa dengan memintanya untuk mengarahkan lidah menyentuh spatula yang dimasukkan ke rongga mulut atau dengan menjilat madu di sisi yang berlawanan dengan posisi lidah,'' urai Daniel.

Terapi organ bicara ini akan lebih baik dilakukan dengan postur tubuh yang benar. Yakni, dalam posisi duduk. Sebab, posisi setengah tidur atau duduk tentu memengaruhi kontrol bicara. `'Dalam posisi setengah tidur, energi yang dipakai untuk bicara menjadi lebih besar,'' papar Daniel. Alhasil, pasien lebih mudah berlatih bicara. rei




Keluarga, Kunci Sukses Terapi

Mampu naik-turun tangga, memegang gelas, dan lebih lancar bicara memulihkan Syaiful Junandar tidak saja secara fisik tetapi juga psikisnya. Ia bersyukur keluarga mencurahkan perhatian dan kasih sayang di saat terburuk dalam hidupnya. `'Tanpa mereka mungkin saya tidak akan banyak kemajuannya,'' kata pengidap hipertensi yang pernah menjalani operasi jantung ini.

Di mata fisioterapis Daniel A Nugroho, Syaiful termasuk beruntung. Sebab, keluarga tak patah semangat memberi dukungan. `'Dalam praktik sehari-hari saya temui lebih sukar menterapi keluarga pasien ketimbang pasiennya sendiri.''

Dukungan psikologis dari keluarga, lanjut Daniel, turut andil dalam proses pemulihan penderita stroke. Daniel kerap melihat keluarga pasien setengah hati menemani terapi atau larut dalam kesedihan. `'Keluarga semestinya menciptakan suasana yang menenteramkan bagi penderita stroke.''

Lantaran kurang dukungan dari keluarga, pasien stroke kerap kali urung menjalankan program latihannya di rumah. Kualitas latihan yang jelek otomatis menghalanginya membuat kemajuan. `'Keluarga lantas beranggapan fisioterapi tidak berhasil dan beralih ke penyembuhan alternatif,'' sesal Daniel.

Selain itu, keluarga yang tidak sepenuh hati mendampingi pasien stroke juga sering menganggap dua-tiga bulan pertama yang menjadi masa emas penyembuhan sebagai harga mati. Mereka mengira lewat dari periode tersebut hilanglah harapan pulih bagi pasien. Padahal, golden period tidak mentok di dua-tiga bulan. `'Sesungguhnya, keluargalah yang bisa memperpanjang masa keemasan tersebut,'' kata Daniel. rei

Sumber : www.republika.co.id
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

PENGOBATAN STROKE

Gerak tubuh yang salah pascastroke bisa menimbulkan masalah kesehatan yang lain.

Syaiful Junandar sebut saja begitu terpincang berjalan. Sementara itu, tangan kanannya menekuk kaku seolah orang patah lengan. ''Saya kena stroke separuh badan kanan,'' ungkap bapak 60 tahunan ini.

Sejak kena stroke setahun silam, Syaiful tak lagi bisa mandiri melakukan aktivitas keseharian. Memasang baju pun ia butuh bantuan. ''Stroke membatasi gerak saya,'' kata kakek dua cucu ini dengan suara yang sedikit pelo.Untuk memulihkan fungsi tubuhnya, Syaiful mengikuti anjuran dokter. Tiap hari, dua kali ia fisioterapi di rumah. ''Saya mendapat home program dan evaluasi sebulan sekali,'' ujar penderita stroke yang sudah tidak memakai tongkat untuk membantunya berjalan.

Fisioterapi pascaserangan stroke memang jurus paling ampuh untuk memperbesar kemungkinan pulihnya seseorang. Meski begitu, banyak orang yang melakukannya tidak dengan sungguh-sungguh. ''Semestinya, segera setelah dokter menyarankan terapi, pasien langsung mengerjakannya,'' cetus Daniel A Nugroho, fisioterapis dari Eastwest Phisiotherapy and Rehabilitation.

Gerak kompensasi
Tanpa fisioterapi penderita stroke seperti Syaiful mungkin saja bisa kembali berjalan dan menggerakkan tangannya yang serasa lemah ( flacid ) atau kebas. Namun, sebetulnya, yang ia lakukan hanyalah gerak kompensasi. ''Sebab tubuh akan selalu mencari jalan agar bisa survive ,'' jelas Daniel. Tak heran jika gerakan tubuh pasien stroke terlihat sangat khas. Bahkan orang awam sekalipun bisa mengenali gerak orang stroke. ''Itu karena ia melakukan gerak tubuh yang tidak benar,'' kata Daniel.

Sesaat, kemampuan bergerak akan membuat lega penderita stroke dan keluarga. Mereka akan mencatatnya sebagai sebuah kemajuan. ''Padahal, itu justru bom waktu sebelum timbul masalah kesehatan lain,'' papar alumnus Akademi Fisioterapi Departemen Kesehatan, Solo, Jawa Tengah ini. Daniel menjelaskan saat stroke otak bisa saja kehilangan memori gerak. Tetapi, otak kemudian menemukan cara lain untuk bisa menunjang mobilitas tubuh. ''Ini artinya otak mendapatkan pesan untuk melakukan gerak kompensasi, gerakan yang tidak semestinya begitu.''

Jika dibiarkan, bertahun-tahun kemudian, gerak kompensasi akan terekam menetap di otak dan membentuk posisi tubuh yang salah. Posisi tubuh yang keliru bisa mencederai bagian tubuh lainnya. ''Gerak tangan serupa orang patah lengan jika dipertahankan begitu adanya akan mendatangkan sakit pinggang dan menaikkan otot bahu dan merusak jaringan lunak ( labrum ) bahu,'' jelas Daniel.

Bergerak dengan benar
Dua-tiga bulan pertama, lanjut Daniel, adalah waktu paling krusial dalam pemulihan pasien stroke. Saat itu, pasien stroke biasanya masih merasa lemah. ''Mereka akan masuk ke fase spastic alias kaku jika tidak distimulasi.''Hanya saja ada beberapa hal yang menjadi faktor penyulit stimulasi. Di antaranya, jika pasien terpengaruh bagian otak yang mengatur bicara. Pun, jika orientasinya yang terimbas. ''Lebih mudah dipulihkan andaikan gerak saja yang bermasalah,'' urai Daniel.

Dalam dua sampai tiga bulan pertama, terapi difokuskan pada pengembalian kemampuan kontrol tubuh. Ini adalah modal untuk bisa bergerak dengan benar. ''Kontrol tubuh yang baik juga akan menghindari pasien dari kemungkinan oleng terjatuh saat mendorong pintu atau menunduk mengambil barang,'' tutur Daniel. Kontrol tubuh dapat diraih dengan beragam latihan keseimbangan. Penempatan anggota tubuh pada posisi yang benar adalah target latihannya. ''Ini akan menstabilkan lutut dan menguatkan otot penyangga badan ( core ),'' ucap Daniel yang secara berkala mendapatkan pelatihan fisioterapi dari instruktur besertifikat internasional.

Setelah kontrol tubuh berhasil dipulihkan, terapis akan mengajak pasien seperti Syaiful beranjak ke program berikutnya. Kali ini, perhatian dipusatkan pada latihan gerak. ''Gerakan yang benar membuat sendi berfungsi dengan benar hingga mengurangi nyeri, meminimalkan komplikasi,'' cetus Daniel.

Agar bisa kembali bergerak dengan benar, penderita stroke juga dilatih motorik halusnya. Mereka diajak untuk melakukan gerakan menjapit dan memegang. `'Yang dilihat bukan hasilnya tetapi proses menjapit dan memegangnya,'' ucap Daniel.

Saat evaluasi, itulah yang dilihat oleh terapis. Dari tidak bisa bergerak menjadi bisa saja tidak cukup. Terapis akan membantu pasien mengenali benar-tidaknya mereka melakukan gerak. `'Sebab, itu yang penting demi kesehatan tubuh secara utuh,'' tandas Daniel.

Terapi organ bicara
Kebanyakan penderita stroke mengalami gangguan sebelah badan, kiri ataupun kanan. Sebagian kecil terkena setengah badan, atas atau bawah. `'Tim rehabilitasi akan membantu memulihkan kemampuan gerak yang hilang akibat stroke,'' jelas Daniel.

Sementara itu, untuk mengembalikan kemampuan berkomunikasi lisan, terapis akan bekerja sama dengan terapis wicara. Saat fisioterapi, pasien diajak untuk melatih otot-otot pernapasannya, salah satunya dengan cara meniup. `'Sedangkan pelafalan yang benar dipandu oleh terapis wicara,'' tutur Daniel.

Pasien stroke kerap kali mengalami gangguan kontraksi otot leher, bibir, lidah, dan tenggorokan. Tak jarang, lidah pasien menjadi mencong ke kanan atau kiri akibat stroke. `'Stimulasinya bisa dengan memintanya untuk mengarahkan lidah menyentuh spatula yang dimasukkan ke rongga mulut atau dengan menjilat madu di sisi yang berlawanan dengan posisi lidah,'' urai Daniel.

Terapi organ bicara ini akan lebih baik dilakukan dengan postur tubuh yang benar. Yakni, dalam posisi duduk. Sebab, posisi setengah tidur atau duduk tentu memengaruhi kontrol bicara. `'Dalam posisi setengah tidur, energi yang dipakai untuk bicara menjadi lebih besar,'' papar Daniel. Alhasil, pasien lebih mudah berlatih bicara. rei




Keluarga, Kunci Sukses Terapi

Mampu naik-turun tangga, memegang gelas, dan lebih lancar bicara memulihkan Syaiful Junandar tidak saja secara fisik tetapi juga psikisnya. Ia bersyukur keluarga mencurahkan perhatian dan kasih sayang di saat terburuk dalam hidupnya. `'Tanpa mereka mungkin saya tidak akan banyak kemajuannya,'' kata pengidap hipertensi yang pernah menjalani operasi jantung ini.

Di mata fisioterapis Daniel A Nugroho, Syaiful termasuk beruntung. Sebab, keluarga tak patah semangat memberi dukungan. `'Dalam praktik sehari-hari saya temui lebih sukar menterapi keluarga pasien ketimbang pasiennya sendiri.''

Dukungan psikologis dari keluarga, lanjut Daniel, turut andil dalam proses pemulihan penderita stroke. Daniel kerap melihat keluarga pasien setengah hati menemani terapi atau larut dalam kesedihan. `'Keluarga semestinya menciptakan suasana yang menenteramkan bagi penderita stroke.''

Lantaran kurang dukungan dari keluarga, pasien stroke kerap kali urung menjalankan program latihannya di rumah. Kualitas latihan yang jelek otomatis menghalanginya membuat kemajuan. `'Keluarga lantas beranggapan fisioterapi tidak berhasil dan beralih ke penyembuhan alternatif,'' sesal Daniel.

Selain itu, keluarga yang tidak sepenuh hati mendampingi pasien stroke juga sering menganggap dua-tiga bulan pertama yang menjadi masa emas penyembuhan sebagai harga mati. Mereka mengira lewat dari periode tersebut hilanglah harapan pulih bagi pasien. Padahal, golden period tidak mentok di dua-tiga bulan. `'Sesungguhnya, keluargalah yang bisa memperpanjang masa keemasan tersebut,'' kata Daniel. rei

Sumber : www.republika.co.id
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

LOWONGAN FISIOTERAPI JANUARI 2013

Sumber : www.facebook.com


Damar Brajamusti posted in Ruang Diskusi
Fisioterapi

Dibutuhkan segera 2 orang tenaga
Physiotherapist.
syarat:

- Llsn D3 fisioterapi
- Diutamakan yang sudah berpengalaman
- Bersedia kerja khusus home visit
- Tidak dalam sedang terikat kerja dengan
instansi lain
- Mempunyai kendaraan sendiri
Fasilitas: - di sediakan asrama
- Gaji pokok
- Insentif
- Tunjangan lainnya

Datang langsung bawa CV anda ke:
OZORA HOME CARE
Ruko Taman duta no 1 pondok indah
( Disebrang RS.Pondok Indah/ Emergensi)
hub. Ms. Farida 021-71010293, Ms. Helmes.
081317920001 (no. SMS)
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

Penanganan FT pada Nyeri Adnexitis

"FISIOTERAPI"Adnexitis

[Sponsor "KORSET TLSO" ]
Adnexitis adalah inflamasi yang mengenai adnexa yaitu salah satu atau kedua tuba falopii dan ovarium. Radang tuba falopii dan radang ovarium (adnexa) biasanya terjadi bersamaan. Oleh sebab itu tepatlah nama salpingo-ooforitis atau adneksitis untuk radang tersebut. Tuba dan ovarium (adneksum) berdekatan, dan dengan perabaan tidak dapat dibedakan apakah suatu proses berasal dari tuba atau dari ovarium, maka lazim digunakan istilah kelainan adneksum. Istilah tumor adneks digunakan apabila pembesaran terdapat disebelah uterus, dan tidak diketahui apakah itu berasal dari tuba atau dari ovarium, serta tidak/belum diketahui pula apakah itu proses peradangan atau neoplasma. Apabila itu jelas proses peradangan, maka istilahnya diubah menjadi adneksitis (akuta atau kronika). Pada adnexitis di samping cukup banyaknya durasi nyeri juga menyebabkan keterbatasan yang nyata pada aktifitas, peran dan fungsi biologis wanita. Adnexitis terutama terjadi pada wanita usia 16-35 tahun dan berbahaya bagi wanita karena dapat menimbulkan infertilitas karena adanya pembengkakan dan jaringan parut yang lengket pada tuba falopii sehingga menyebabkan tuba non patten (tidak berlubang).

Adnexitis terutama disebabkan oleh infeksi bakteri dan jarang oleh virus. Sebagian besar kasus infeksi disebabkan oleh gonococcus, streptococcus, staphylococcus, E. coli, chlamydia trachoma, dan clostridium, dimana bakteri-bakteri tersebut hidup tanpa oksigen. Faktor air sangat dicurigai sebagai faktor penyebab adnexitis, hal ini dikarenakan air mengandung bakteri yang dapat masuk ke dalam tuba falopii melalui vagina. Begitu pula dengan pembalut wanita yang kurang steril dan micobacterium tuberculosa juga dapat menimbulkan adnexitis. Adnexitis dapat dengan mudah terjadi pada wanita saat dan setelah menstruasi, setelah aborsi dan setelah melahirkan. Hal ini disebabkan oleh pengeluaran zat horsestyle yang ikut keluar pada saat menstruasi, saat aborsi dan saat melahirkan. Zat tersebut berfungsi sebagai daya tahan tubuh terhadap mikroorganisme atau benda asing yang akan menyebabkan terjadinya suatu penyakit atau radang. Dengan berkurangnya zat tersebut akan menyebabkan daya tahan tubuh menurun. Sehingga mikroorganisme atau benda asing dapat dengan mudah masuk ke tubuh melalui organ genitalia eksterna dan menimbulkan reaksi berupa penyakit atau radang. Perjalanan infeksi pada adneksitis yaitu faktor penyebab tiba di ovarium dan tuba falopii dengan cara yang berbeda, tergantung pada tempat daerahnya. Bisa dari asenden dan desenden. Jika faktor penyebab tiba di peredaran darah ovarium dan tuba falopii maka disebut infeksi haematogen. Pada infeksi asenden faktor pencetus adnexitis bergerak ke lapisan atas dan uterus masuk ke tuba falopii. Faktor pencetus infeksi asenden antara lain: air, pembalut wanita yang kurang steril, selama dan setelah menstruasi, setelah melahirkan, setelah aborsi, gangguan-gangguan uterus misalnya adanya spiral, perubahan membran mucus dalam servix oleh karena keluarnya nanah yang mengalir dari tuba falopii dan ovarium, adanya myoma atau polips serta tumor.

Pada infeksi desenden ini terjadi jika ada inflamasi pada organ sekitar misalnya appendicitis atau proctitis atau adanya radang usus besar yang menyebar ke tuba falopii. Infeksi haematogen merupakan infeksi pada peredaran darah dan termasuk jenis adnexitis micobacterium tuberculosa yang berhubungan dengan tuberculosa. Untuk mengetahui adanya adnexitis diperlukan suatu pemeriksaan antara lain: anamnesa, pemeriksaan gynekologi dan pemeriksaan darah lengkap. Pada anamnesa biasanya penderita mengeluh nyeri hebat di daerah perut bagian bawah, nyeri saat menstruasi, nyeri saat berhubungan sexual dan kadang penderita mengeluh nyeri pinggang. Pada saat dilakukan palpasi pada abdomen ditemukan ketegangan pada dinding abdomen oleh karena adanya kontraksi otot abdominalis sebagai reaksi proteksi terhadap radang, terdapat nyeri tekan pada abdomen bagian bawah. Pada pemeriksaan gynekologi saat uterus dipalpasi (dengan tussue) juga dirasakan nyeri. Dan pada pemeriksaan darah lengkap LED meningkat. Nyeri meningkat pada saat kegiatan naik turun tangga dan mengangkat barang-barang berat.

Tulang dan sendi pelvic



Pelvic di bentuk oleh 4 buah tulang yaitu 2 buah tulang pangkal paha (coxae) yang terletak di sebelah depan dan samping tulang coxae sendiri merupakan pertautan antara tulang usus, tulang duduk dan tulang kemaluan. 1 buah tulang belangkang (sacrum) di sebelah belakang, 1 buah untaian tulang ekor (coccygeus) di sebelah belakang bersambung dengan sacrum. Rongga Pelvic dibagi dua yaitu pelvic mayor dan pelvis minor. Ada 4 buah sendi yang penting antara lain: artc. sacro iliaca 2 buah masing-masing kiri dan kanan (berkapsul), artc. Symphisis pubis (tanpa kapsul), artc. sacro
coccygeus dan artc. lumbosacral. 

Otot-otot pelvic




Dasar panggul adalah “diagfragma muscular” yang memisahkan rongga pelvic di sebelah atas dengan ruang perineum di sebelah bawah. Jadi dasar panggul sepenuhnya terdiri atas sejumlah otot panggul yang sangat penting fungsinya. 
Otot-otot tersebut antara lain: 
  • m. levator ani (m. pubo coccygeus, pubo vaginalis dan pubo rectalis), 
  • m. sphincter ani externus, 
  • m. bulbo cavernosus
  • m. ischio coccygeus. 
[Sponsor "KORSET TLSO" ]
Bagian dari pintu bawah panggul adalah diagfragma pelvis yang dibentuk oleh m. levator ani dan m. coccygeus. Lapisan paling luar (di atas dasar panggul) dibentuk oleh otot-otot bulbo cavernosus, yang melingkari genitalia externa, otot perinea transversus superfisialis, otot ischio cavernosus dan sphincter ani externus. Dinding abdomen terdiri atas kulit, lemak dan otot-otot diantaranya mm. Rectus obliqus externus dan internus, transversus abdominalis dan apponeurosis. M. rectus abdominalis berpangkal di depan coxae 5, 6, 7 berjalan ke bawah symphisis, bersama dengan otot yang lain berjalan miring dan melintang membentuk suatu system sehingga dinding abdomen menjadi lebih kuat. Salah satu fungsi dinding abdomen yang sangat penting ialah bersama dengan diagfragma mengecilkan rongga perut dan meningkatkan tekanan dalam rongga perut, sebagai salah satu fungsi yang penting pada persalinan, sebaliknya jika otot tersebut lemah maka dapat mengganggu persalinan serta membuat seseorang gampang terkena nyeri pinggang.

Persarafan dan pembuluh darah pelvic  "FISIOTERAPI"
  • Sistem pembuluh darah
Aliran darah arteri untuk tuba falopii dilepaskan dari arteria uterina dan arteria ovarica. Vena-vena tuba falopii mencurahkan isinya ke dalam vena uterina dan vena ovarica.

Pembuluh darah pada pelvis berasal dari:
a. ovarica melalui cabang aorta abdominalis ke L2,
a. haemoridalis/rectalis superior yaitu lanjutan a.mesenterica inferior ke L3,
a. iliaca interna dan a. iliaca externa keduanya merupakan cabang a. Iliaca communis dan cabang-cabangnya antara lain: a. iliaca interna (a. ilio lumbalis, a. sacralis lateralis, a. glutea superior), a. obturatoria, a. vesicalis superior dan inferior, a. uterina, a. rectalis/haemoridalis media, a. pudenda interna dengan cabang a. rectalis inferior, a. perineae, a. Clititoris



Suplai darah ke ovarium diberikan oleh arteri ovarica. Arteria ovarica cabang dari pars abdominalis aortae melintas ke kaudal dengan menyusuri dinding abdomen bagian dorsal. Ditepi pelvis arteria ovarica ini menyilang pembuluh arteri iliaca externa dan memasuki ligamentum suspensorium ovarii. Arteria ovarica melepaskan cabang-cabang ke ovarium melalui mesovarium kemudian ke medial dalam ligamentum latum uteri untuk memasok darah ke tuba uterina dan uterus. Kedua cabang arteria ovarica beranastomosis dengan arteria uterina. Saluran vena dari ovarica kanan langsung bermuara ke dalam vena cava inferior, sedangkan aliran vena ovarica kiri bermuara ke dalam pembuluh balik ginjal kiri.
  •  Sistem persarafan
Persarafan tuba falopii sebagian besar berasal dari plexus ovaricus dan untuk sebagian dari plexus uterina. Serabut aferen disalurkan ke dalam nervi thoracici XI-XII,dan nervus lumbalis1.
Persarafan pada pelvic yaitu :
n. pudendus yang terdiri dari n. haemoridalis inferior, n. perinea dan n. dorsalis clitoris. Di dalam panggul berisi: sistima urinaria yang tediri dari ureter, uretra, dan vesica urinaria, sistima genetalia pada wanita terdiri dari uterus, tuba falopii, ovarium dan vagina dan sistima digestive yaitu rectum.

Serabut saraf dari ovaricus menurun mengikuti pembuluh ovarica. Plexus ovaricus berhubungan dengan plexus uterina. Serabut parasimpatikus dalam plexus berasal dari nervus vagus. Serabut aferen dari ovarium memasuki medulla spinalis melalui nervus thoracicus X.

Nyeri Akibat Adnexitis

Menurut The International Association for the Study of Pain (IASP) nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak nyaman yang berkaitan dengan kerusakan jaringan atau berpotensi merusak jaringan atau menyatakan kerusakan jaringan. Nyeri dapat terjadi oleh karena adanya stimulus, ada reseptor yang menerima rangsangan dan ada yang menghantar rangsang sampai ke pusat sensori di otak sehingga ditafsirkan sebagai rasa nyeri. Selanjutnya otak mengadakan reaksi untuk menghindari stimulus tadi yaitu dengan adanya reaksi tubuh berupa proteksi. Sehingga dengan sendirinya tubuh akan terhindar dari kerusakan jaringan yang lebih parah.


Gangguan nyeri akibat adnexitis terjadi karena adanya inflamasi pada adnexa yaitu salah satu atau kedua tuba falopii dan ovarium yang mengakibatkan penurunan aktifitas, peran dan fungsi biologis wanita.
  • Mekanisme Nyeri
Pada prinsipnya terjadi nyeri harus ada stimulus reseptor, saraf afferen dan pusat sensori di korteks serebri. Keempat unsur tersebut harus ada, jika salah satu tidak bekerja dengan baik maka tidak akan terjadi nyeri. Mempelajari nyeri dengan melewati keempat unsur tersebut dikenal dengan trasmisi nyeri yaitu neuron pertama, neuron kedua dan neuron ketiga. Pertama stimulus dapat berupa mekanis, termal ataupun kimia diterima oleh reseptor yang bertugas menerima rangsang nyeri yaitu nosiseptor (nouciceptor) merupakan ujung saraf afferen di perifer (neuron pertama). Nosiseptor paling banyak terdapat di kulit, fasia, periost, otot dan kapsul sendi. Sedangkan di tulang rawan sendi (cartilago hyalin) tidak terdapat nosiseptor. Kedua, dari neuron pertama disampaikan ke neuron kedua di medula spinalis yang selanjutnya dihantarkan melalui spinothalamic menuju ke thalamus. Ketiga, dari thalamus disampaikan ke kortex (neuron ketiga) merupakan pusat sensorik yang kemudian ditafsirkan sebagai rasa nyeri.

  • Proses terjadinya nyeri pada adnexitis
Radang adalah reaksi tubuh terhadap mikro organisme, benda asing dan ruda paksa. Tanda-tanda adanya radang antara lain nyeri,bengkak, panas, merah dan kemampuan fungsi menurun. Radang pada tuba falopii dan ovarium akan menimbulkan reaksi jaringan berupa pelepasan zat iritan nyeri (algogene) seperti produk kimiawi prostaglandin, bradikinine dan histamin. Akibat adanya zat iritan nyeri tersebut menyebabkan nyeri daerah abdomen bawah, tekanan uterus sering meningkat, adnexa (tuba falopii dan ovarium) menjadi bengkak karena adanya sumbatan pada tuba falopii yang bisa menjadi bertambah besar dengan terjebaknya cairan yang ada di dalamnya dan tekanannya menimbulkan nyeri (hydrosalpinx). Penimbunan nanah (abses) dalam tuba falopii dan ovarium bisa pecah dan nanahnya akan mengalir ke dalam rongga panggul sehingga menimbulkan nyeri sekali pada perut bagian bawah. Dinding abdomen menjadi tegang karena adanya kontraksi otot abdominalis sebagai reaksi proteksi terhadap radang serta gerakan servix uteri terasa nyeri. Sinyal nyeri ini dihantarkan oleh saraf tipe c. saraf ini kemudian masuk ke medula spinalis melalui radiks dorsalis dan berakhir di kornu dorsalis substansia grisea medula spinalis. Kemudian serabut tersebut menyeberang kesisi medula spinalis yang berlawanan dan berjalan ke cranial menuju otak melalui traktus spinothalamikus. Nyeri tersebut menyebabkan keterbatasan seorang wanita dalam melakukan aktifitas, peran dan fungsi biologisnya.

Adnexitis akut

Tanda-tanda adanya radang yaitu: calor (panas), dolor (nyeri), tumor (bengkak), rubor (merah), functio laesa (kelemahan fungsi). Gejala pada adnexitis akut antara lain: suhu tubuh meningkat, nyeri hebat di daerah abdomen bawah, dinding abdomen menjadi tegang karena adanya kontraksi otot abdominalis sebagai reaksi proteksi terhadap radang. Demam dan kadang disertai mual dan muntah, kondisi umum terdapat kelemahan yang parah, sering kali lapisan yang meradang mengeluarkan nanah, tekanan uterus sering meningkat dan menimbulkan nyeri, adnexa (tuba falopii dan ovarium) menjadi bengkak sehingga tekanannya menimbulkan nyeri, gerakan-gerakan servix terasa nyeri, hypersensitif daerah ovarium dan tuba falopii.


Adnexitis kronik

Jika fase akut telah hilang kemudian timbul keluhan lagi (excubation) ini merupakan inflamasi ulangan mungkin karena ketidakberhasilan dalam pengobatan atau akibat perubahan bekas luka (jaringan parut) setelah inflamasi sembuh. Keluhan juga dapat timbul jika penderita terlalu lelah, hal ini dikarenakan adanya kontraksi otot-otot abdomen yang menimbulkan ketegangan dinding abdomen sehingga terjadi kelemahan pada otot-otot abdomen dan akhirnya timbul nyeri. Gejala pada fase kronik sama seperti adnexitis akut hanya pada adnexitis kronik tidak terdapat peningkatan suhu tubuh. Gejala lain yang terjadi pada fase kronik antara lain: nyeri pada saat menstruasi oleh karena terjadinya kram atau kontraksi otot uterus, nyeri pada saat berhubungan sexual, nyeri setelah aktifitas berat dan nyeri bersifat menyebar ke struktur disekitarnya dan kadang penderita mengeluh nyeri pinggang bawah atau low back pain (LBP). Jika hal tersebut terjadi secara terusmenerus maka berbahaya untuk terjadinya infertilitas karena adanya pembengkakan dan jaringan parut yang lengket pada tuba falopii sehingga menyebabkan tuba non patten (tidak berlubang). Fase kronik dapat terjadi beberapa bulan sampai bertahun-tahun.

PENATALAKSANAAN SHORT WAVE DIATHERMY PADA NYERI ADNEXITIS


Penetrasi short wave diathermy dalam jaringan

Short wave diathermy memiliki penetrasi paling dalam, tetapi tergantung tehnik penerapan aplikatornya dan nilai dielektrik jaringan yang dilalui. Pada through dan through condensor field penetrasi paling dalam dan panas optimal di jaringan lemak dan jaringan ikat. Pada coplanar condensor field penetrasi paling superfisial dan panas optimal jaringan dielektrik tinggi misalnya dalam otot rangka. Pada elektroda double coil/diplode penetrasinya lebih dalam dari single coil (monode/minode), keduanya efektif untuk jaringan tubuh dielektrik tinggi. Pada metoda inductant coil dengan grid filter (circuplode) tidak terjadi panas di kulit tetapi pengaruh thermal pada jaringan di
bawah kulit, karena produksi panas ditimbulkan oleh murni medan magnet.


Pengaruh fisiologis short wave diathermy

Meningkatkan metabolisme lokal. Meningkatkan aktivitas lokal dari kerja kelenjar keringat. Terjadi vasodilatasi lokal, adanya hyperemia merupakan respon terhadap peningkatan kebutuhan nutrisi jaringan. Meningkatkan rileksasi otot. Efek sedatif terhadap sistem saraf sensorik bila diberi mild heating. Bila diberikan dalam waktu yang lama akan meningkatkan temperatur tubuh, meningkatkan frekuensi pernafasan dan denyut jantung. Respon tersebut merupakan aksi dari panas yang tidak dipakai oleh tubuh dan respon dalam memelihara keseimbangan temperatur.


Pengaruh terapeutik

Mengurangi nyeri. Mengurangi spasme otot. Mempercepat penyembuhan inflamasi kronik dengan cara membantu menyerap kembali (reabsorbsi) exudat oedema sebagai akibat peningkatan supplay darah. (4) Membantu meningkatkan sirkulasi cutaneus, memberikan respon vaskuler untuk panas normal. Membantu dalam mengontrol infeksi kronik oleh peningkatan sirkulasi. Ini akan meningkatkan sel darah putih dan anti body untuk melawan organisme infeksi, memperkuat mekanisme petahanan tubuh normal. Meningkatkan extensibility jaringan fibrous, seperti tendon, kapsul sendi dan jaringan parut (scar) dengan waktu 5-10 menit yang dihasilkan oleh pengaruh peningkatan temperatur. "FISIOTERAPI"


Pengaruh short wave diathermy terhadap adnexitis

Meningkatkan sirkulasi darah, sehingga mempercepat penyembuhan inflamasi. Meningkatkan rileksasi otot. Meningkatkan metabolisme lokal, sehingga menyebabkan penyembuhan peradangan dipercepat karena absorbsi obat-obat yang dikonsumsi pasien lebih baik. Mempercepat penyembuhan inflamasi dengan cara membantu menyerap kembali (reabsorbsi) exudat oedema sebagai akibat peningkatkan supplay darah. Menguragi nyeri melalui ujung sensorik serabut A delta dan C. Pengurangan nyeri juga berhubungan dengan pengurangan spasme otot.

Penatalaksanaan dengan menggunakan intervensi short wave diathermy cross-fire berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Fr. Suwarti Hardjono, Dedeh Herawati, Mayang Anggraini. N tentang PERBEDAAN PENGARUH PEMBERIAN SHORT WAVE DIATHERMY CROSS-FIRE DENGAN SHORT WAVE DIATHERMY CO-PLANAR TERHADAP PENGURANGAN NYERI PADA ADNEXITIS. tahun 2006. Perlakuan diberikan intervensi short wave diathermy cross-fire setiap hari, durasi 15 menit dimana aplikasi pertama selama 7,5 menit dan aplikasi ke dua 7,5 menit dengan intensitas 10-50 watt/cm² dan frekuensi 6 kali.




Sesuai dengan deskripsi data yang diperoleh, wanita yang menderita adnexitis berkisar antara usia 24-39 tahun. Dimana 100% baik kelompok perlakuan I dan II mengeluh nyeri abdomen bagian bawah. Pada kelompok perlakuan I, 60% pasien mengalami nyeri saat menstruasi. 80% nyeri saat berhubungan sexual, 70% nyeri pinggang bawah, 50% nyeri timbul setelah aktifitas berat. Sedangkan pada kelompok perlakuan II, 40% pasien mengalami nyeri saat menstruasi. 60% nyeri saat berhubungan sexual, 40% nyeri pinggang bawah, 30% nyeri timbul setelah aktifitas berat. Dari tabel-tabel deskripsi data pada kelompok perlakuan I sebelum dan sesudah 6 kali intervensi short wave diathermy cross-fire terjadi pengurangan intensitas nyeri yang ditunjukkan dalam visual analogue scale. Dimana hal ini terlihat pada nilai Mean sebelum intervensi 73,6 dengan SD 6,736 dan nilai Mean sesudah intervensi adalah 19,9 dengan SD 6,262. Kemudian dibuktikan dengan uji Wilcoxon diperoleh hasil P=0,005 dan Z= - 2,814 dimana P<0,01, yang berarti ada pengaruh yang bermakna pemberian short wave diathermy cross-fire terhadap pengurangan nyeri akibat adnexitis. Adnexitis terutama disebabkan oleh infeksi bakteri, faktor air, pembalut wanita yang kurang steril juga oleh microbacterium tuberculosa. Radang tuba falopii dan ovarium atau istilah umumnya disebut adnexitis ini menyebabkan nyeri hebat daerah abdomen bagian bawah, tekanan uterus sering meningkat, adnexa (tuba falopii dan ovarium) menjadi bengkak karena adanya sumbatan pada tuba falopii yang bisa bertambah besar dengan terjebaknya cairan yang ada didalamnya dan tekanannya menimbulkan [Sponsor "KORSET TLSO" ]
nyeri (hydrosalpinx), penimbunan nanah dalam tuba falopii dan ovarium bisa pecah dan nanahnya akan mengalir ke rongga panggul sehingga menimbulkan nyeri sekali pada perut bagian bawah, dinding abdomen menjadi tegang karena adanya kontraksi otot abdominalis sebagai reaksi proteksi terhadap radang serta gerakan servix terasa nyeri.

Pada penderita adnexitis yang menggunakan short wave diathermy crossfire akan mempunyai pengaruh mengurangi nyeri, memperlancar sirkulasi darah, meningkatkan metabolisme lokal sehingga
menyebabkan penyembuhan peradangan dipercepat karena absorbsi obat-obat yang dikonsumsi pasien lebih baik, hal ini akan mempercepat penyembuhan inflamasi dengan cara membantu menyerap kembali exudat oedema sebagai akibat peningkatan supplay darah dan mengurangi spasme pada otot karena efek thermal memberikan efek rileksasi pada otot.






Daftar Pustaka
Aua, Sapsford, Ruth, Dip Phty, “Women’s Health A Textbook for Physiotherapists”, Harcourt Brace and Company Limited, Los Angeles, 1999.
Hayes, Karen W, “Manual For Physical Agents”, Fourth Edition, Appleton & Lange, Los Angeles, 1993.
Low john, Reed Ann, “Electrotherapy Explained Principle And Practice”, Butterworth- Heinemann, Oxford, 2000.
Nugroho, “Neurofisiologi Nyeri dari Aspek Kedokteran”, dibawakan pada pelatihan penatalaksanaan fisioterapi komprehensif pada nyeri, Surakarta, 2001.
Pearce, C, Evelyn, “Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis”, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2002.

Pletzer Werner, alih bahasa Syamsir, ”Sistem Lokomotor Muskuloskletal dan Topografi”, jilid 1, Hipkrates, 1997.
Rabe, Thomas, “Buku Saku Ilmu Kandungan”, Hipokrates, Jakarta, 2003. Satyanegara, M, D, “The Theory and Therapy of Pain”, Jakarta, 1979.
Syaifuddin, “Anatomi Fisiologi untuk Siswa Perawat”, EGC, Jakarta, 1995.
Van Deusen, Yulia, “Assesment in Occupational Therapy and Physical Therapy”, Philadelphia Company, 1997.
Wadsworth, Hilary, Chanmugan, A.P.P,. “Electrophysical Agents in Physiotherapy”, Second Edition, Science Press, 1988.
Wiknjosastro, Hanifa, “Ilmu Kandungan”, Edisi Kedua, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 1994.


Juranl Fisioterapi Indonusa, Vol. 6 No. 2 Oktober 2006


Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

VISI MISI IKATAN FISIOTERAPI INDONESIA

VISI : Menjadikan IFI sebagai wadah perjuangan guna mewujudkan profesi Fisioterapi mandiri profesional pada 2016
MISI : 
1. Menetapkan arah pendidikan dan  pendidikan profesi Fisioterapi
2. Memperjuangkan keterbukaan akses , pola dan metode peningkatan kompetensi
3. Memantapkan penerapan perundang-undangan yang mengatur profesi Fisioterapi dan melakukan advokasi
4. Meningkatkan kerjasama internal dan eksternall antar lembaga baik dalam negeri maupun luar negeri
5. Menetapkan tata kelola organisasi yang berprinsip pada good governance
6. Meningkatkan kegiatan komunikasi sosial guna meningkatkan citra organisasi dan citra profesi

Sumber : http://ifi.or.id/index.php/tentangifi/visidanmisi.html
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel

Sejarah Ikatan Fisioterapi Indonesia

Ikatan Fisioterapi Indonesia berdiri pada tanggal 10 Juni 1968,  di deklarasikan di Solo dengan nama IKATAN FISIOTERAPI INDONESIA (IKAFI). Atas keinginan angota dan dorongan Prof. Dr. Soeharso (Supervisor RC pada masa itu) untuk kemajuan profesi dan  kesetaraan dengan profesi Fisioterapi di dunia  pengurus IKAFI pertama di bentuk ( 1968-1970) dengan ketua umum  Albert Siahaan , MNZP dengan DCAFI (cabang) untuk wilayah : Jakarta, Bandung, Solo, Surabaya, Semarang.  Pada periode ini IKAFI di terima sebagai Temporary Member of WCPT yang merupakan wadah organisasi profesi Fisioterapi dunia yang bermarkas di London Inggris.
 
Karena Kebutuhan masyarakat Indonesia pada waktu itu , Profesi Fisioterapi di dorong  untuk bekerja dalam pemulihan kesehatan pasien yang non infectious, fractur, dislokasi dan degenerative deases yang dalam bekerja  mendapatkan ikatan dinas dan ditempatkan, sesuai dengan kebutuhan Departemen Kesehatan.
 
Kongress IKAFI pertama di selenggarakan di Jakarta pada tahun 1970 dan di buka atas nama Menteri Kesehatan RI dengan menghasilkan Kepengurusan dan program kerja sampai periode 1974. Ikatan Fisioterapi Indonesia  ( IKAFI) berubah namanya Menjadi IFI pada tahun 1996 berdasarkan ketetapan Kongres VII Makasar pada 1996
Ketua Umum terpilih untuk masing- masing periode antara lain, Albert Siahaan , MNZP , Drs. Suhardi, SMPh, Drs, J.Hardjono,MARS, Drs. Soenardjo, Drs.Heri Priatna, Drs. Slamet Soemarno,SMPh dan Ali Imron, M.Fis.
 
Peran serta aktif organisasi Profesi dan kerjasama  pada perkembangan Fisioterapi dunia di mulai dengan keikutsertaan delegasi   pada congress WCPT di Amsterdam pada tahun 1970,  di Montreal kanada pada tahun 1974, Sampai pada Congress WCPT di London pada tahun 2011.
 
Di wilayah regional Asia Pasific dan Asia Australia (ACPT & AWP)  Ikatan Fisioterapi Indonesia berperan aktif dalam pertemuan ilmiah secara berkala  dan sebagai penyelenggara ACPT Meeting pada  tahun 2010.
 
Fisioterapi Indonesia proaktif dalam pengabdian masyarakat pada deteksi dini kecacatan anak, dan  terutama pada saat rehabilitasi pasien setelah bencana, seperti bencana Gempa Yogyakarta Tzunami di Aceh,  dan Padang -Sumatera.
 
Sebagai wujud tanggungjawab profesi dan peran sertanya dalam mewujudkan Masyarakat Sehat Yang Mandiri dan Berkeadilan  Ikatan Fisioterapi Indonesia sepanjang  perjalanannya bekerjasama dengan pemerintah dan berbagai pihak dalam  melakukan melakukan upaya pengembangan profesi  dengan peningkatan kompetensi, melalui pendidikan, dan pengaturan yang di perlukan.
 
 
Alat Fisioterapi
Terimakasih atas kunjungan teman sejawat fisioterapis, walaupun artikelnya mungkin kurang memuaskan saya berharap dapat membantu anda mencari artikel-artikel fisioterapi, dan semoga blog ini bermanfaat.

Jika anda ingin mendapatkan info tentang alat fisioterapi, kami juga jual alat fisioterapi. Silahkan kunjungi Distributor alat fisioterapi dan alat kesehatan.
Share Artikel